TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Jumat, 15 Juni 2012

MELIHAT ALLOH SWT



الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb-mereka.


وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الأرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى
الْهُدَى فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

"Dan jika perpalingan mereka (darimu), terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat melihat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mu'jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua, dalam petunjuk, sebab itu, janganlah kamu sekali-kali, termasuk orang-orang yang jahil." (An naml 35)


إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

"Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Alloh), dan orang-orang yang mati, akan dibangkitkan oleh Alloh, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan." – (QS.6:36)


Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa ALLOH tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa ALLOH Yang Agung adalah Dzat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa ALLOH akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang sholeh akan melihat wujud ALLOH di hari kiamat, melalui ayat yang berbunyi:

إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”Apakah maksud ayat tersebut ?


Adapun penglihatan adalah terbiasnya cahaya sesuatu pada lensa mata. Ketika proses pembiasan ini bekerja, maka akan terjadi ada ikatan antara yang sesuatu yang dilihat dan mata. Oleh karenanya, menjadikan sesuatu tersebut menempati pada tempat tertentu. Dan segala yang berbentuk membutuhkan sebuah tempat, dan yang membutuhkan yang lain adalah fakir. Dan ini tidak akan memiliki sifat Ketuhanan (Ilahiyah). Dari penjelasan ini maka sekiranya ALLOH bertempat, tidaklah akan melewati kemungkinan berikut ini: 

1. Keberadaan tempat tersebut pada awalnya bersamaan dengan wujud Alloh. Kalau sekiranya tempat tersebut qodim (dahulu), maka keberadaannya sama dengan keberadaan Alloh Yang Qadim. Jadi, ada dua wujud yang qadim.

2. Sekiranya Alloh Swt menciptakan tempat untuk diri-Nya sendiri. Dan kita umpakan Dia (Alloh) tidak membutuhkan tempat. Dengan dalil bahwa sebelum dicitakan tempat tersebut, dia telah ada. Dengan gambaran ini, bagaimana Alloh Swt tidak membutuhkan tempat , kemudian setelah itu Dia membutuhkan tempat.

Dilihat dari makna ayat, maka dapatlah kita jelaskan sebagai berikut:

Kata Nadhiro dari ayat tersebut bukanlah mempunyai makna melihat akan tetapi bermakna (mengerti & faham). Dan maksud dari keseluruhan ayat adalah penantian rahmat dan kasih sayang Alloh Swt. Ketika utusan roja' mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman as, disebutkan dalam al-qur’an, Alloh Swt berfirman:

“Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan)menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. 

Dan pengertian Nadhiro sebenarnya, bukanlah diartikan penglihatan. Maka kita mencoba penelusuri ayat diatas, dengan mengaitkan dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Alloh Swt berfirman: 


1. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. 

2.إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Kepada Tuhannyalah mereka Melihat“. 

3.وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ 

“Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram”. 

4.تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

“Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat”. 

Pada keempat ayat diatas, ayat ketiga nampak berlawanan dengan ayat pertama. Dan ayat keempat juga berlawanan dengan ayat kedua. Dan pelu diperhatikan bahwa ayat keempat menghilangkan bentuk kekaburan seperti pada ayat yang kedua. Yang jelas, ayat yang pertama dan ketiga adalah pembagian atas manusia di hari kiamat. Dan ayat kedua dan keempat juga adanya penjelasan nasib perjalanan manusia dalam dua bentuk. Dari sisi lain, maka ayat keempat memaparkan tentang penantian terhadap sebuah azab, dan ayat kedua memaparkan tentang penantian terhadap rahmat Alloh Swt. Bukanlah penglihatan dan penyaksian dalam bentuk luar (dhohir). 

Kesimpulan:

Dalil ayat untuk menetapkan kemungkinan Alloh Swt dapat dilihat di hari kiamat, akan menyimpang dari pemahaman secara filosofis dan terhadap tujuan yang ada di dalam keempat ayat tersebut. Dari ayat, sebenarnya mengambarkan tentang pelaku ketaatan dan maksiat dan penantian keduanya terhadap nasib mereka dari turunnya rahmat Alloh atau azab-Nya. Adapun penafsiran tentang penyaksian dzat Al-Haq tidaklah berkaitan dengan ayat ini. 

Sabtu, 09 Juni 2012

SECEPATNYA MENUNAIKAN IBADAH

إحالتك الأعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس

Menunda Amal Ibadah Setelah Selesai Pekerjaan Adalah Sebuah Kebodohan 

Manusia adalah hamba Alloh SWT yang harus mematuhi semua peraturan dan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Karena manusia di ciptakan di muka bumi ini tidak lain hanya untuk menyembah Alloh SWT. Seperti yang telah diterangkan didalam Al-qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 56-57 :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57

Artinya :
56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
Dari ayat tersebut bisa difahami bahwa manusia harus mencurahkan semua waktunya untuk beribadah kepada Alloh SWT dan tidak meninggalkan atau menunda ibadah karena semata-mata terbuai dengan kehidupan gemerlap dunia bukankah akhirat itu tempat yang paling baik bila di bandingkan dengan dunia?
Alloh berfirman didalam surat Adl-Dluha ayat : 4

وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4

Artinya : 
4. Dan sesungguhnya kahidupan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada kehidupan dunia.


Maka dari itu, manusia tidak boleh tenggelam di dalam lautan duniawi dengan menghabiskan segala aktifitasnya untuk menhggapai cita-cita dunia dan melupakan tugas pokook yang dibebankan pada dirinya yaitu beribadah kepada Alloh SWT. Sebab hal itu bisa menjerumuskannya masuk ke dalam jurang neraka. Padahal di dalam Al-Qur'an Alloh SWT telah memerintahkan kita untuk menjaga siri dan keluarga agar tidak jatuh dilubang neraka, seperti yang diterangka dalam Al-Qur'an surat At-Tahrim ayat : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6

Artinya :
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperlukan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.
Jika orang yang menunda ibadah karena tenggelam didalam pekerjaan-pekerjaannya adalah orang-orang yang sangat bodoh karena dia telah melupakan tugas utama sebagai hamba Alloh yaitu berabadah kepada-Nya.
Akan tetapi banyak sekali di jumpai di masyarakat orang yang lupa akan tugas utama ini misalnya seorang pengusaha yang sedang asyik melakukanpekerjaannya sehingga dia lupa atas kewajiban-kewajibannya terhadap Alloh SWT.

Bila anda mengingatnya untuk melakukan perintah-perintah Alloh, Mendatangi majlis-majlis ilmu dan belajar hukum-hukum Islam, maka dia akan menjawab apa yang kamu ucapkan sudah aku tulis didalam jadwal kegiatanku dan aku masukkan didalam agenda pekerjaanku. Namun, berilah aku waktu untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku, karena bila tidak aku lakukan sekarang maka kesempatan emas ini pasti akan hilang dan tak akan kembali.

Demikian pula orang yang kaya raya, namun tidak pernah mengeluarkan hartanya untuk shodaqoh kepada faqir miskin dan anak yatim piatu. Bila anda menasehatinya :"Hendaknya engkau menyisihkan sebagian kecil dari hartamu kepada orang-orang yang membutuhkan yang ada disekitarmu karena engkau telah dikaruniai harta yang banyak dan kehidupan yang mewah.

Maka dia akan berkata kepadamu : "Sesungguhnya akulah merencanakan hal itu, bila usaha-usaku sukses dan hartaku bertambah banyak maka aku akan kenyantuni faqir miskim, aku akan mendirikan rumah sakit panti asuhan dan beasswa bagi para pelajar. Tetapi berilah aku waktu sampai usaha-sahaku sukses dan berhasil.
Contoh lain adalah saat anda dihadapkan pada para pejabat dan jendral tentara yang sedang hanyut didalam tugasnya dan melupakan hak-hak Alloh SWT
Bila anda bertanya kepadanya "Mengapa engkau melalaikan perintah-perintah Alloh padahal Alloh telah memberimu jabatan dan kehormatan di masyarakat? Maka dia akan menjawab "Sungguh aku sedang mengemban tugas yang penting sekali yang di perhatikan oleh orang banyak dan 5 tahun lagi aku akan pensiun maka bila tiba saatnya pensiun aku akan pergi haji memenuhi panggilan Alloh SWT, aku akan selalu berada pada shof (barisan) paling depan setiap berjamaah di masjid dan aku akan mempelajari Al-Qur'an dan memahami isi beserta tafsirnya.

Mereka semua adalah sebagian kecil gambaran orang-orang yang menunda ibadah karena disibukkan dengan pekerjaan duniawi. Bila engkau bertanya pada mereka "Apa yang mencegahmu untuk mendekatkan diri pada Alloh sekarang ?" maka mereka akan memandangmu dengan pandangan yang tajam dan sinis, lalu berkata "Pekerjaan-pekerjaan ini adalah tugas yang sangat penting yang tidak bisa untuk di tunda.

Jawaban-jawaban yang mereka lontarkan tidak lain karena kebodohan mereka sendiri sebab mereka bersungguh-sungguh didalam urusan dunia padahal urusan tersebut sudah ditanggung oleh Alloh dan mereka menunda kewajiban-kewajiban mereka didunia.
Sebagai hamba Alloh yang telah diberi bagian kehidupan diatas bumi ini, manusia dituntut untuk mengetahui siapa tuhan yang memiliki jiwa dan raganya dan dia harus mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nyadengan cara yang diajarkan syari'at.
Untuk melakukan tugas utama tersebut Alloh telah menjamin semua kebutuhan sebagai penupang tugas tersebut. Dalam hal ini Alloh telah memberi perumpamaan tentang keadaan Nabi Adam as. Ketika berada di surga

إِنَّ لَكَ أَلا تَجُوعَ فِيهَا وَلا تَعْرَى (118) وَأَنَّكَ لا تَظْمَأُ فِيهَا وَلا تَضْحَى (119)

Artinya 
118. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan didalamnya dan tidak akan telanjang.
119. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (puka) akan ditimpa panas matahari didalalmnya.
Contoh lain yang lebih mudah difahami namun banyak diantara kita yang tidak mrnyadarinya adalah pengiriman duta besar keluar negeri.
Seorang presiden ketika mengutus duta besar keluar negeri yang jauh untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan pasti mrnuntut agar duta besar tersebut bias sampai dinegaea tujuan dan sukses dalam mengemban tugas yang telah dibebankan kepadanya. Dan sudah menjadi hal yang lazim bahwa untuk merealisasikann tugas ini dia di beri harta, fasilitas-fasilitas dan kebutuhan yang bias mempermudah pekerjaannya.

Maka selama berada diluar negeri dia harus mencurahkam seluruh waktu dan tenaganya untuk menjalankan tugas yang mulia ini. Dan sangat tidak layak dan bodoh bila dia terbuai untuk mencari harta yang lebih banyak dan melupakan tugas-tugas pokoknya atau menunda kewajibannya demi menuruti sifat kerakusannya. Perkataan yang paling tepat di ucapkan bagi orang semacam ini tidak lain adalah penghianat kepada orang yang mempercayainya, karena kebodohan menuruti hawa nafsu belaka.
Bila anda bertanya pada penghianat "Mengapa engkau melupakan tugas pokokmu untuk beribadah kepada Alloh SWT dan mencari dunia yang sudah ditanggung oleh-Nya?". Maka dia akan menjawab "Saya berjanji akan beribadah dengan sungguh-sungguh besok kalau masa mudaku telah usai, kekuatan tubuhku sudah mengendor, punggungku sudah membungkuk dan aku berjalan dengan bantuan tongkat".
Jawaban ini karena didasari atas kebodohannya, dia tidak sadar akan tugas utamanya kepada dzat yang memiliki dan mengaturnya.

Problem-problem ini bisa di pecahkan dengan memahami hal-hal sebagai berikut :
1. Manusia harus sadar bahwa ajal akan menjemput dengan tiba-tiba

Seseorang tidak akan tahu apakah dia akan hidup sampai sukses, impiannya tercapai, sampai pensiun atau kaya raya. Karena ajal itu hanya Alloh-lah yang mengetahuinya, dan setiap manusia pasti akan menemuinya walaupun dia melakukan berbagai upaya untuk menghindarinya.
Alloh SWT berfirman dalam surat An-Nisa' ayat 78 :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Artinya :
78. Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu berada didalam benteng yang tinggi lagi kukuh.


2. Penundaan sesuatu harus ditempatkan pada perkara-perkara dunia dan tidak boleh ditempatkan pada amal ibadah

Sangat bodoh sekali orang yang cita-cita duniawi yang bisa menjadikanya terpandang dimata masyarakat, karena urusan dunia itu sudah ditanggung oleh Alloh SWT. Dan sebaliknya dia melupakan cita-cita ahirat yang sudah menjadi tanggung jawab dan bebannya
Ibnu Atho'illah berkata :

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصير منك.

Artinya :
"Kesungguhan di dalam perkara yang sudah di jamin dan kecerobohan didalam perkara yang dibebankan padamu adalah bukti atas butanya mata hatimu".
3. Tugas-tugas agama yang dibebankan pada manusia itu memiliki tujuan mulia yaitu mendidik dan mensucikan hati, sehingga ibadah itu bisa membersihkan pekerjaan duniawi agar terhindar dari dusta, penipuan dan sifat-sifat tercela lainnya.

Maka dari itu, para pejabat, pengusaha, tentara, pejabat semacamnya didalam melakukan pekerjaannya harus dibarengi dengan ibadah supaya bisa mewujudkan kebahagiaan baik kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
Adapun memisahkan pekerjaan-pekerjaan dunia dari ibadah atau menunda ibadah setelah kenyang dan puas dengan urusan-urusan duniawi, ini adalah kebodohan terhadap agama dan menjauhkan peran agama didalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini, bisa di perumpamakan dengan perhidangan makanan. Dalam menghidangkan makanan agar rasanya lezat dan enak maka harus di campur dengan garam, gula, dan bmbu-bumbu yang lain. Sebaliknya, bila makanan tersebut di hidangkan dalam satu wadah dan dimakan lalu garam, gula, dan bumbu-bumbunya dihidangkan didalam wadah yang lain dan dimakan maka rasanya pasti tidak enak, dan ini adalah perbuatan orang bodoh.

Perlu diketahui bahwa yang kita lakukan jiwa dan raga kita adalah milik Alloh SWT dan sangat keliru orang yang menyangka bahwa sebagian amal itu milik Alloh dan sebagian yang lain itu milik manusia. Bahkan prasangka ini sangat bertentangan dengan apa yang kita ucapakan sehari-hari ketika sholat.

إنّ الصّلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله ربّ العالمين.

Artinya : 
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah milik Alloh tuhan pemelihara alam".


Didalam Al-Qur'an juga tidak ada yang menjelaskan bahwa kalimat " الملك " itu bisa disandarkan pada selain Alloh. Yang ada hanyalah Alloh memberikan harta kepada manusia dan semacamnya. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat An-Nur ayat 22 :

...وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ...(22

Artinya : 
"Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Alloh yang dikarunian-Nya kepadamu."
Firman Alloh Surat Al-Hadid ayat 7 :

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ...(7

Artinya : 
7. Berimanlah kamu kepada Alloh dan rosul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Alloh telah menjadikan kamu menguasainya.
Jadi dalam melakukan pekerjaan sehari-hari seperti berdagang, berusaha, berani dan semacamnya harus diiringi dengan ibadah kepada Alloh SWT sebagai bentuk kepatuhan kita terhadap perintah-perinntah-Nya.

PENGERTIAN AL-BIDAYAH FIL-IMAN wan NIHAAYAH FIL-IHSAN


 Pengertian ini ingin melihat lebih jauh mengenai Metode qiyās menurut pandangan para Ulama’ Ahlu sunnah wal-jama’ah dalam disiplin ilmu TAUHID & Asal UshulNYA di dalam kitabnya Bidāyah al- Mujtahid Fil-iman wa Nihāyah al- Muqtaṣid Ihsan , yaitu dengan cara mendeskripsikan dan melihat secara langsung metode qiyās Ulama’ di dalam kitab-kitab tersebut ,,

 dalam penelitian ini juga akan di teliti mengenai status keterikatan metode qiyās Ulama’ dengan metode Ijtihad Imam Mālik maupun Mazhab Maliki. Peneliti merasa tertarik menulis penelitian ini karena kitab Bidāyah al-Mujtahid fil-iman wa Nihāyah al-Muqtaṣid ihsan merupakan karya monumental yang merupakan karya alloh dalam TAUHID menurut Ulama’ AHLI Tauhid yang dikemas secara sistematis. Dalam kitab tersebut juga dapat dilihat mengenai Ijtihad para Ulama’ yang cukup aplikatif dalam mengintegrasikan antara teks /ayat ( nas ) dengan rasio ( qiyas ), sehingga menghasilkan produk hukum yang berbeda dan jauh dari kesan bertentangan sunnah nabi SAW & Nash Al-Qur’an .

Karena BIDAYAH FI AL-HIDAYAH ini melahirkan pengertian Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam     tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang  penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.  Dalam penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,    seolah-olah
 setiap  satu  dari  ketiga  nama  itu  dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah
 tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).

Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.  Sebuah  Ayat Suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum masuk  ke  dalam  hati  mereka :

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Orang-orang Arab Badwi itu berkata: 'Kami telah beriman'. Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman', tetapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.49:14)

Jadi, iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam  kontek  firman  itu,  kaum  Arab  Badui tersebut barulah tunduk dengan hormat kepada Nabi muhammad  secara lahiriah, dan itulah  makna  kebahasaan  perkataan "Islam",  yaitu  "tunduk" atau "menyerah." Tentang hadits yang terkenal yang menggambarkan  pengertian  masing-masing  Islam iman  dan  ihsan

Salah satu hal lagi yang membuat Al-Faqir merasa tertarik untuk menulis penelitian ini, karena ketertarikan peneliti mengenai figur para Ulama’ sendiri yang merupakan Ulama yang lahir dan hidup di wilayah andalusia yang notabene-nya adalah sentral pengembangan mazhab -mazdhab pada waktu itu. Hal itu yang membuat Ulama’ juga disinyalir sebagai ulama mazhab Maliki, serta dalam berijtihad pun kemungkinan mengikuti ijtihad mazhab maliki dan madzhab lainnya.

Tetapi apakah yang terjadi memang demikian? Hal inilah yang juga membuat ketertarikan AL-FAQIR  untuk meneliti mengenai keterikatan metode qiyas Ulama’ dengan metode ijtihad Imam Maliki maupun mazhab selain Madzhab  maliki ,,
Ketertarikan terhadap metode qiyas para Ulama’ seperti yang telah disebut diatas.
. Dalam menulis pengertian ini, metode yang Al-faqir gunakan adalah bersifat penialian pribadi dan hanya untuk kajian & sudut pandang Ilmiyah belaka : yaitu menggambarkan serta menginterpretasi data yang yang dikaji pandangan para ‘aalim & di nuqil dari kitab-kitab tauhid karya ulama yang ahli di bidangnya ...


Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ushuliyah yang berupa metode tashkhih  yang merupakan metode untuk mengambil dalil yang terkuat, karena memang Kitab Bidayah al-Mujtahid merupakan kitab perbandingan ijtihad para ulama yang tentunya harus diteliti menggunakan metode tashkhih . Selain itu, pendekatan yang Al-faqir  gunakan adalah pendekatan sejarah yaitu mengenai sejarah kehidupan para Ulama’, hal tersebut juga untuk melihat seberapa jauh hubungan antara Ulama’ dengan mazhab Maliki & madzhab-madzhab lain yang berkembang pesat di tempat kelahirannya pada waktu itu...

Hasil dari penelitihan ini adalah menjelaskan secara sistematis mengenai pandangan Al-faqir tentang metode qiyas dalam kitab-kitab  tersebut. Pengertian ini juga akan menunjukkan mengenai status keterikatan metode qiyasnya Ulama’ dengan metode Ijtihad Imam Malik maupun Mazhab-madzhab lainya dalam kitab Bidayah al-Mujtahid Fil-iman wa Nihayah al-Muqtasid fil ihsan . Untuk membatasi serta mempermudah pengertian mengenai metode qiyas para Ulama’ terdahulu serta keterikatan dengan 4 mazhab maliki dalam kitab bidāyah al-mujtahid tersebut, maka peneliti akan mengambil 1 contoh kasus dalam kitab tersebut sebagai rujukan untuk memahami pengertian DASAR-DASAR KEIMANAN seorang manusia ...
Adapun masalah yang di kaji adalah :
HIDAYAH :

الهداية هي الطريق المستقيم الموصل إلى الغاية وهو أقصر الطرق ، وغاية هذه الحياة هي أن تصل إلى نعيم الآخرة

Petunjuk yang dalam al qur'an menggunakan kata “HIDAYAH” atau “HUDA” diartikan sebagai petunjuk digunakan...

Dengan demikian semua manusia yang menganut agama Islam artinya telah mendapatkan hidayah dari Alloh Ta’ala (Jalan lurus yang dapat mencapaikan seseorang pada tujuan kehidupan bahagia di akherat) tetapi tidak semua dari mereka mendapat taufiq untuk mengerjakan amal sholeh.

 pada 2 penggunaan; yaitu secara ‘Am (umum) dan Khos (khusus). Contoh penggunaan ‘Am adalah dalam ayat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah pada) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggal-kannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah, atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." – (QS.2:185)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." – (QS.2:186)

Sedangkan contoh penggunaan kata hidayah yang bermakna khos yaitu dalam firman alloh SWT :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 [ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa] (QS Al baqoroh : 2)


Pengertian [HUDAN] (petunjuk) disini merupakan suatu petunjuk yang kekhususan bagi orang yang bertaqwa. Sehingga sebagian para ulama mendefinisikan kata [HIDAYAH] dengan Makna yang ‘Am (umum) adalah : Terangnya jalan kebenaran (Alloh) dan jelasnya hujjah alloh, walaupun jalan untuk menelusurinya itu sudah jelas atau tidak Seperti dalam ayat :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


[[ dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan ]] (QS Al Fushilat : 17)
Maksudnya, alloh telah memberikan petunjuk kepada kaum tsamud jalan (ajaran) alloh melalui lisan nabi sholeh walaupun mereka tidak sedikitpun menelusuri jalan jalan petunjuk alloh tersebut karena dalam keterangan selanjutnya disebutkan bahwasanya kaum tsamud memilih tersesat.

ابانة الطريق الحق وايضاخ المحجة سواؤ سلكها المبين له ام لا

“ Terangnya jalan kebenaran (Alloh) dan jelasnya hujjah alloh, walaupun jalan untuk menelusurinya itu sudah  jelas atau tidak”
 <[[ tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk ]]>
.
Atau dalam ayat lain surat lain :

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا


Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.(QS al Insan : 3)

  Maksudnya Alloh telah menjelaskan atau menerangkan kepadanya jalan kebaikan dan kejelekan, karena kalimat selanjutnya {ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir}
Adapun definisi hidayah dengan makna khos (khusus) adalah

تفضل الله بالتوفيق علي العبد

Anugerah(kelebihan) yang diberikan oleh Alloh kepada seorang hamba dengan Taufiq (pertolongan / petunjuk) 

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُو

 إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

"Mereka itulah, orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah ? 'Aku tidak meminta upah kepadamu, dalam menyampaikan (Al-Qur'an)'. Al-Qur'an itu tidak lain, hanyalah peringatan untuk segala umat." – (QS.6:90)


فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

"Barangsiapa yang dikehendaki Alloh mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Alloh kesesatannya, niscaya Alloh menjadikan dadanya sesak, lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Alloh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." – (QS.6:125)


Berikut  ini  kita  akan  mencoba MENELAAH , berdasarkan pembahasan para ulama,  apa  pengertian  ketiga  istilah  itu  dan    bagaimana wujudnya   dalam   hidup   keagamaan  seorang   pemeluk  Islam.Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik  pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan - dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori  yang terpisah  -  sebagaimana sudah di jelaskan dalam al-qur’an

Jika kita telah memahami hal ini, maka kita akan mengerti bahwa hidayah yang khusus bagi orang bertaqwa adalah makna dari hidayah yang khos yaitu pemberian anugerah/ kelebihan dengan taufiq sedangkan hidayah yang diberikan kepada semua manusia merupakan pengertian dari makna yang ‘Am (umum) , yaitu telah terangnya jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan alloh .... setelah HIDAYAH IMAN telah di tiupkan oleh alloh kepada hamba-hamba yang di pilihnya barulah mereka masuk dalam agama ISLAM tanpa paksaan .... dan menempati firman alloh :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

"Sesungguhnya, agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka (terhadap Islam). Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Alloh sesungguhnya Alloh sangat cepat hisab-Nya." – (QS.3:19)

Agama Islam yang berasal dari bahasa arab ,perkataan al-Islam dalam  firman  ini  bisa  diartikan  secara lebih  umum,  yaitu  menurut makna asal atau turunya, yaitu
 "pasrah kepada alloh," suatu semangat ajaran  yang  menjadikan karakteristik  pokok  semua  agama  yang  benar.  Inilah dasar pandangan dalam al-Qur'an bahwa semua agama yang benar  adalah agama  Islam,  dalam  pengertian  semuanya  mengajarkan sikap pasrah kepada AL-ILAAH , sebagaimana penjelasan yang  disimpulkan dari firman alloh

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: 'Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepadamu; Ilah kami dan Ilahmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri'." – (QS.29:46)

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ

"Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Kitab (Al-Qur'an), maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab (Taurat), mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an); dan di antara mereka (orang-orang kafir di Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami, selain orang-orang yang kafir." – (QS.29:47)

Dalam ayat ini menjelaskan inti dalam beragama islam itu adalah kepasrahan muthlaq kepa alloh swt tanpa adanya syarat ...

 Sama dengan perkataan "al-Islam" di atas, perkataan "muslimun" dalam  firman  itu  lebih  tepat   diartikan    menurut   makna asalnya, yaitu "orang-orang yang pasrah kepada alloh." Jadi seperti diisyaratkan  dalam  firman  itu,  perkataan  muslimun dalam  makna  asalnya  juga  menjadi  kualifikasi para pemeluk agama lain, khususnya  para  penganut  Kitab  Suci.  Ini   juga diisyaratkan dalam al-qur’an :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama, selain daripada agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." – (QS.3:85)


Sudah tentu hakikatnya tidaklah cukup demikian. Setiap pemeluk Islam  mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam dan iman dalam islampun mustahil tanpa HIDAYAH Alloh SWT.  Dalam  telaah lebih lanjut oleh para Ulama’ ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu :  terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya dan saling mendukung satu sama lainnya sehingga menjadikan sang pemeluknya menempati pada ISLAM KAFFAH . Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahiyah

Selasa, 05 Juni 2012

Tersesatnya dirimu terjebak pada KERAMAT dalam memperlihatkan keistimewaan DIRI


( استشرافك ان يعلم الخلق بخصوصيتك دليل على عدم الصدق فى عبوديتك )


Artinya : "Perhatian kamu agar makhluk tahu akan kekhususan (ibadah) mu merupakan
Hikmah ini masih berhubungadalil (petunju) atas ketidak benaranmu dalam ber'ubudiyyah ".
n erat dengan hikmah sebelumnya, yang merupakan penjelas hikmah sebelumnya.

Beliau syekh Ibnu ‘Athoillah rahimahulloh memaparkan bahwa seorang hamba masih dikatakan sebagai orang yang pamer (مرائِيًا) walaupun ketika ia sedang beribadah tidak sedang disaksikan oleh orang lain dikarenakan perhatian dan keinginannya agar orang lain tahu akan kekhususiahan dan ibadahnya.

Kalimat (الاستشراف) adalah ungkapan yang berarti perhatian/pandangan nafsu kepada sesuatu hal (kesenangan-kesenangannya) dan mengharapkan akan hasilnya sesuatu tersebut. Tidak ada sesuatu yang bisa mendorong hamba agar orang lain tahu akan kekhususiahannya dalam beribadah kecuali kesenangan nafsunya tersebut.

Dari sini bisa diketahui bahwa selama masih ada istisyrof (الاستشراف) didalam hatinya hamba yang sedang beribadah menunjukkan tidak adanya kejujuran dan kebenaran dalam 'ubudiyah kepada Alloh, karena apabila dikatakan sudah benar dalam 'ubudiyahnya maka samarnya ibadah dari manusia pastinya lebih lezat dari pada dhohirnya ibadah dihadapan manusia.

Diriwayatkan dari syeikh Ahmad bin Abil Hawari :

من أحب ان يعرف بشيئ من الخير أو يذكر به فقد أشرك فى عبادته, لأن من خدم على المحبة لا يحب ان يرى خدمته غير مخدومه
.
Artinya : "Barang siapa yang senang akan diketahui / disebutkan kebaikannya, maka sungguh ia sudah menyekutukan Alloh didalam ibadahnya, karena orang yang berkhidmah atas nama mahabbah/cinta tidak senang apabila selain orang yang dikhidmahi tahu akan khidmahnya".

Jadi, seorang hamba masih belum dikatakan benar dalam 'ubudiyahnya kepada Alloh subhanahu wa ta'ala kecuali jika ia sudah bisa menundukkan nafsunya kepada tuntutan-tuntutan ubudiyah kepadaNya dan memurnikan mahabbah/cintanya kepada Alloh serta menghilangkan perhatian dan perasaan ingin diketahuinya kekhususiahan ibadah oleh orang lain.

Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara hamba yang masih dalam awal suluknya kepada Alloh dengan yang sudah sampai pada derajat makrifat dan muroqobah kepadaNya, hanya saja sesugguhnya tuntutan-tuntutan dakwah (menyampaikan syari'at)lah yang mewajibkan bagi setiap muslim untuk berdakwah dengan tawadhu' dan ikhlas setelah ia mampu melepaskan diri dari istisyrof (الاستشراف) tadi.

Hamba yang sudah benar Islamnya, yang faham akan rukun-rukunnya dan hakikat keimanan, ia diharuskan untuk berdakwah sekuat mungkin dengan cinta kasih dan adab rosululloh, karena dalil yang menunjukkan akan hal ini sudah jelas termaktub dalam dalil-dalil syar'i.

Adapun hal yang paling penting dan bisa dijadikan pegangan oleh seorang da'i agar sukses dalam menyampaikan dakwahnya adalah ia harus mampu memposisikannya dirinya sebagai Qudwah Hasanah (Panutan Ummat yang baik). Hal ini sangatlah tidak mudah, karena Qudwah hasanah bisa wujud apabila seorang da'i mampu merealisasikan nilai-nilai ajaran Islam, akhlak yang mahmudah, bisa mempraktekkan sabar ketika ditimpa musibah, mampu mempraktekkan mahabbahnya seorang hamba kepada Robnya dan mampu menepis kesenangan-kesenangan nafsu yang mengotori hatinya dan menghijabnya dari musyahadah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala.

Jadi, jika ini semua bisa terealisasi dan dipegang teguh, maka seorang da'i boleh memperlihatkan amal baiknya dihadapan orang lain.

Adapun dalil syar'i yang menerangkan hal ini adalah riwayatnya syekh Imam Muslim didalam kitab shohihnya dari syekh Jurair bin Abdulloh Al Bujali, disana diceritakan bahwa ada salah satu sahabat anshor yang datang membawa sekarung harta untuk disedekahkan, kemudian orang lain yang tahu akan hal ini mengikuti perilakunya tersebut (bersedekah). Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

من سن سنة حسنة فله أجرها, وأجر من عمل بها لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا


Memperlihatkan kekhususiahan ibadah ini adakalanya dengan memperlihatkan amal ibadah dihadapan orang lain secara dhohir seperti riwayat diatas dan adakalanya dengan membicarakannya kepada orang lain setelah selesai melakukan amal tersebut.


Dalam dua haliyah ini seorang hamba harus selalu waspada dalam menjaga hatinya dari godaan syaitan dan kesenangan nafsu yang selalu ikut andil dalam merusak amal ibadah, lebih-lebih waspada akan munculnya istisyrof (الاستشراف) yang telah digambarkan
oleh syekh Ibnu 'Athoillah rahimahulloh.


syeikh Al Imam Al Ghozali rahimahuloah berpendapat bahwa menceritakan amal ketaatan kepada orang lain lebih bahaya dan cenderung kepada sifat riya' serta lebih dekat dengan menuruti kesenangan nafsu, dari pada memperlihatkan amal secara dhohir didepan mereka. Ini dikarenakan beban lisan untuk mengucapkan sesuatu itu sangatlah ringan dan mudah, dan bagi nafsu sendiri bisa merasakan kelezatan didalam memperihatkan kekhususiahan suatu ibadah, hanya saja ketika hatinya akan dimasuki sifat riya' tidak akan merusak ibadah yang sudah selesai dilakukan.


Bagi hamba yang hatinya sudah kuat, sempurna ikhlasnya, dan dihadapannya pujian ataupun ejekan dari manusia sama saja, maka ia diperbolehkan menyebut dan menceritakan amal ibadahnya dihadapan mereka seraya mengharapkan agar mereka bisa meniru amal kebaikannya, bahkan ini disunnahkan apabila niatnya benar-benar suci dan selamat dari penyakit-penyakit hati.


Dari kalangan salaf sendiri banyak riwayat yang menceritakan tentang menyebutkan amal ibadah yang telah dikerjakan oleh mereka, diantaranya riwayat yang diceritakan dari syekh Sa'd bin Mu'adz, beliau berkata :

ما صليت صلاة منذ أسلمت فحدثت نفسي بغيرها وما تبعت جنازة فجدثت نفسي بغير ما هي قائلة وما هو

مقول لها وما سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول قولا قط إلا علمت أنه حق.


Artinya : Saya tidak pernah sholat satu sholat pun sejak aku masuk Islam kemudian aku berbicara tentang selain sholat, aku tidak pernah ikut mengiring satu jenazah pun kemudian aku berbicara tentang selain Jenazah, dan sama sekali aku tidak pernah mendengarkan ucapan Rosul shallallohu 'alaihi wa sallama kecuali saya tahu bahwa sesungguhnya ucapan beliau adalah Haq (benar).

Diriwayatkan juga dari Sayyidina Umar bin Khaththab radhiyallohu 'anhu, beliau berkata:

ما أبالي أصبحت على عسر أو يسر لأني لا أدري أيهما خير لي


Artinya : Saya tidak perduli apakah ketika menjelang pagi saya dalam keadaan sulit (payah) atau dalam keadaan mudah, karena sesungguhnya aku tidak tahu mana dari kedua haliyah ini (sulit dan mudah) yang lebih baik bagiku.

Beliau syekh umar bin abdul 'aziz rahimahulloh juga pernah berkata :

ما قضى الله فيّ بقضاء قط فسرّني أن يكون قضى لي بغيره وما أصبح لي هوى إلا فى مواقع قدر الله


Artinya : "Alloh tidak memberikan kepadaku satu putusan pun, kemudian aku senang apabila Ia memberikan putusan lain selain keputusan tadi dan saya tidak merasa senang kecuali jatuh dalam lingkup qodarnya Alloh.

Semua riwayat ini merupakan dalil yang membolehkan memperlihatkan haliyah-haliyah (tingkah) yang terpuji, apabila haliyah tersebut keluar dari orang yang sudah menjadi qudwah hasanah, dan ia mengharapkan agar perilakunya ditiru bagi orang yang melihatnya. Maka dari itu pintu untuk memperlihatkan amal tidaklah tertutup.

Adapun sifat yang masih dikatakan riya' dan merupakan penyakit hati adalah (الاستشراف) istisyrofnya hamba yang sedang dikarunai oleh Alloh khususiyyah dan amal-amal ketaatan, ia ingin agar orang lain tahu akan muroqobahnya kepada Allah, sebagaimana hikmah yang telah disampaikan oleh syekh Ibnu 'Athoillah As Sakandary diatas. Wallohu A'lam

Senin, 04 Juni 2012

NURANI YANG BISU KARENA TERTUTUP HAWA NAFSU

"Ada seorang raja menderita penyakit yang mengerikan. Sangat mengerikan. Menceritakannya kembali akan sangat tidak enak. Sejumlah tabib Yunani dengan sepakat memutuskan bahwa penyakitnya hanya akan sembuh, bila raja mau makan empedu orang dengan syarat-syarat tertentu. Raja memerintahkan agar orang itu dicari di seluruh negeri. Seorang anak petani dengan kualifikasi yang disebutkan tabib ditemukan. Raja memberikan anugerah yang berlimpah kepada kedua orang tuanya, sehingga mereka senang anaknya dijadikan korban. Jaksa Agung (Mahkamah Agung) memutuskan boleh menumpah darah rakyat untuk menyelamatkan nyawa raja. Algojo siap memotong kepalanya.

Tiba-tiba pemuda itu mendongak ke langit seraya tersenyum. Raja bertanya : "Dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa tersenyum?" anak muda itupun menjawab : "Ayah dan bunda seharusnya menjaga dan merawat anaknya, Jaksa Agung mestinya tempat mengajukan pengaduan dan raja menjadi sandaran untuk menegakkan keadilan. Tapi kini ayah dan ibuku mengantarkan aku pada kematian karena pertimbangan dunia, Jaksa Agung telah menjatuhkan vonisnya, dan sultan mencari keselamatan dengan menghancurkan ku. Selain Tuhan tidak ada lagi yang dapat melindungiku. Kemana aku lari dari cengkeraman tangan mu? akan ku cari keadilan yang bertentangan dengan kekuasaan mu". Hati raja tersentuh, ia menangis dan berkata "Lebih baik akau binasa dari pada menumpahkan darah yang tak bersalah". Raja mencium kepala anak muda itu, memeluknya dan memberikan hadiah yang banyak, kemudian membebaskannya". Demikianlah kisah yang dituturkan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam kata pengantar bukunya "Rekayasa Sosial, Reformasi, Revolusi atau Manusia Besar".

Menurut hemat saya, kisah tersebut merupakan sebuah ilustrasi yang ingin mengetengahkan sebuah pesan moral, bahwa terkadang nurani manusia itu bisu, bungkam terhadap sebuah perbuatan yang mestinya diingkari oleh nurani (munkar), bahkan tak mustahil justru nurani tersebut meng-iyakan dan setuju terhadap kemunkaran. Padahal bila merujuk kepada salah satu sabda Nabi Saw, bahwa pengingkaran nurani semata tanpa disertai usaha pencegahan secara lisan, dan kekuasaan merupakan indikator lemahnya keimanan. Apabila nurani pun sudah tidak lagi mengingkari sebuah kemunkaran, dimanakah keimanan kita? Mungkinkah iman kita telah usang, lusuh dan kemudian memudar seiring dengan perputaran waktu? Na'udzu billah.....

Dalam kondisi sosial politik dewasa ini, kerap kali nurani kita bungkam dan bisu terhadap sebuah kemunkaran, padahal seharusnya kita mampu mengambil sikap oposan, melawan dan menolak kemunkaran. Demikianlah, pesan yang disampaikan oleh Subhan SD dalam bukunya "Ulama-Ulama Oposan".

Ali ibn Abi Thalib pernah berkata : "Bahwa yang membentuk suatu masyarakat adalah perasaan setuju dan tidak setuju". Karena itu bungkam terhadap kemunkaran menyebabkan kita menjadi bagian dari mereka.

Sementara Murtadha Muthahhari menyatakan : "Bahwa eksistensi suatu masyarakat tak jauh beda dengan eksistensi individu, karena itu dalam masyarakat pun ada dosa seperti dalam individu yang disebut dengan dosa sosial".

Dengan bahasa yang diflomatis seorang ilmuan dalam wawancaranya di sebuah stasiun televisi mengatakan : "Bukan hanya salah Firáun, Firáun menjadi demikian sombong dan angkuh karena tak pernah ada yang mengingkarinya". Oleh karena itulah al-Qurán mengungkapkan dalam Qs. al-Anfal (8) : 25 "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim saja diantara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya".

Kata Nurani berasal dari Bahasa Arab "Nur-un" yang makna generiknya "cahaya, terang dan jelas" sekaligus merupakan lawan dari kata "Dzulmun" yang artinya "gelap". Karena itulah nurani adalah salah satu potensi yang dimiliki manusia untuk mencari kebenaran, yang oleh Ibn Miskawaih disebut "al-Hikmah al-Khalidah". Sebagaimana sabda Nabi kepada seseorang yang meminta nasihat kepadanya "Istafti Qolbaka" (minta fatwalah pada nuranimu). 

Akan tetapi karena kelemahannya (Qs. al-Nisa' (4) : 28), manusia sangat rentan tergelincir pada kejatuhan moral dan spiritual, melalui perbuatan dosa, yang menurut al-Ghozali menyebabkan noda dan kegelapan hati. Dengan demikian semua perbuatan dosa adalah zhulm-un (penyebab kegelapan hati) sehingga hati para pelaku dosa tidak layak lagi disebut nurani, akan tetapi zhulmani (hati yang gelap) yang melahirkan manusia-manusia gelap (Dzalim), seperti : Homo Homoni Lupus (manusia srigala bagi sesama).

اللهم ءارنا الحق حقا وارزقنا اتباعة وءارنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنا بة

Mudah-muahan Alloh Yang Maha Kuasa dan Maha Adil segera nemperlihatkan ke Maha AdilanNYA. Karena Engkaulah Yaa Alloh Satu-Satunya Dzat yang takkan pernah terkalahkan. Amiin

Minggu, 03 Juni 2012

Kewajiban Lisan dan Telinga - Menurut Aqidah keIMANAN

-

Lisan atau mulut adalah mediator bagi manusia dalam mencapai maslahat bagi dirinya, yang karenanya Alloh subhanahu wata’ala menetapkan kewajiban terhadap lisan untuk tetap melaksanakan atau menggunakan lisan tersebut sesuai dengan perintahNYA, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا

“Katakanlah (hai orang-orang mu'min), "Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami.” (QS.al-Baqarah:136)

Dan juga firman-Nya

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS al-Baqarah:83)

Disini jelas bahwa lisan kita dituntut oleh Yang Maha mencipta untuk berbicara baik kepada manusia dan jangan sekali2 kita menggunakannya untuk berbohong, menipu, berjanji palsu atau yang lainnya yang dilarang oleh Alloh. Ingatlah Alloh tak kan pernah keliru atau takut dengan setatus manusia manapun. Karena Dialah Alloh Hakim Yang Maha Adil yng takkan pernah bisa direkayasa atau terkalahkan oleh manusia sehebat apapun.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ , أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Demikanlah kewajiban yang Alloh bebankan terhadap lisan yaitu mengatakan dan mengungkapkan apa yang terdapat di dalam hati. Maka segala apa saja yang diwajibkan oleh Alloh terhadap lisan adalah merupakan bagian dari keimanan.

Kewajiban Telinga

Allah subhanahu wata’ala mewajibkan pendengaran agar dibersihkan dari apa-apa yang Dia haramkan , dan menjaganya dari segala yang dilarang untuk didengar. Allah berfirman tentang pendengaran

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140)

“Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka”(QS.an-Nisa':140)

Alloh SWT mengecualikan bagi orang-orang yang lupa mendengarkan yang haram melalui firman

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (68)

“Dan jika kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS.al-An'am:68)

Dia juga berfirman,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Alloh petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.”(QS. az-Zumar:18)

Dalam ayat yang lain disebutkan

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ, الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ, وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ, وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' di dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS. al-Mu'minun:1-4)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ (55)

"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya." (QS. al-Qashash:55)

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا (72)

"Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. al-Furqaan:72)

Inilah apa yang diwajibkan oleh Alloh terhadap pendengaran, dan itu semua merupakan tugasnya serta termasuk dalam bagian keimanan seorang MUSLIM 

WALLOHU A'LAM 

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila