TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Selasa, 05 Juni 2012

Tersesatnya dirimu terjebak pada KERAMAT dalam memperlihatkan keistimewaan DIRI


( استشرافك ان يعلم الخلق بخصوصيتك دليل على عدم الصدق فى عبوديتك )


Artinya : "Perhatian kamu agar makhluk tahu akan kekhususan (ibadah) mu merupakan
Hikmah ini masih berhubungadalil (petunju) atas ketidak benaranmu dalam ber'ubudiyyah ".
n erat dengan hikmah sebelumnya, yang merupakan penjelas hikmah sebelumnya.

Beliau syekh Ibnu ‘Athoillah rahimahulloh memaparkan bahwa seorang hamba masih dikatakan sebagai orang yang pamer (مرائِيًا) walaupun ketika ia sedang beribadah tidak sedang disaksikan oleh orang lain dikarenakan perhatian dan keinginannya agar orang lain tahu akan kekhususiahan dan ibadahnya.

Kalimat (الاستشراف) adalah ungkapan yang berarti perhatian/pandangan nafsu kepada sesuatu hal (kesenangan-kesenangannya) dan mengharapkan akan hasilnya sesuatu tersebut. Tidak ada sesuatu yang bisa mendorong hamba agar orang lain tahu akan kekhususiahannya dalam beribadah kecuali kesenangan nafsunya tersebut.

Dari sini bisa diketahui bahwa selama masih ada istisyrof (الاستشراف) didalam hatinya hamba yang sedang beribadah menunjukkan tidak adanya kejujuran dan kebenaran dalam 'ubudiyah kepada Alloh, karena apabila dikatakan sudah benar dalam 'ubudiyahnya maka samarnya ibadah dari manusia pastinya lebih lezat dari pada dhohirnya ibadah dihadapan manusia.

Diriwayatkan dari syeikh Ahmad bin Abil Hawari :

من أحب ان يعرف بشيئ من الخير أو يذكر به فقد أشرك فى عبادته, لأن من خدم على المحبة لا يحب ان يرى خدمته غير مخدومه
.
Artinya : "Barang siapa yang senang akan diketahui / disebutkan kebaikannya, maka sungguh ia sudah menyekutukan Alloh didalam ibadahnya, karena orang yang berkhidmah atas nama mahabbah/cinta tidak senang apabila selain orang yang dikhidmahi tahu akan khidmahnya".

Jadi, seorang hamba masih belum dikatakan benar dalam 'ubudiyahnya kepada Alloh subhanahu wa ta'ala kecuali jika ia sudah bisa menundukkan nafsunya kepada tuntutan-tuntutan ubudiyah kepadaNya dan memurnikan mahabbah/cintanya kepada Alloh serta menghilangkan perhatian dan perasaan ingin diketahuinya kekhususiahan ibadah oleh orang lain.

Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara hamba yang masih dalam awal suluknya kepada Alloh dengan yang sudah sampai pada derajat makrifat dan muroqobah kepadaNya, hanya saja sesugguhnya tuntutan-tuntutan dakwah (menyampaikan syari'at)lah yang mewajibkan bagi setiap muslim untuk berdakwah dengan tawadhu' dan ikhlas setelah ia mampu melepaskan diri dari istisyrof (الاستشراف) tadi.

Hamba yang sudah benar Islamnya, yang faham akan rukun-rukunnya dan hakikat keimanan, ia diharuskan untuk berdakwah sekuat mungkin dengan cinta kasih dan adab rosululloh, karena dalil yang menunjukkan akan hal ini sudah jelas termaktub dalam dalil-dalil syar'i.

Adapun hal yang paling penting dan bisa dijadikan pegangan oleh seorang da'i agar sukses dalam menyampaikan dakwahnya adalah ia harus mampu memposisikannya dirinya sebagai Qudwah Hasanah (Panutan Ummat yang baik). Hal ini sangatlah tidak mudah, karena Qudwah hasanah bisa wujud apabila seorang da'i mampu merealisasikan nilai-nilai ajaran Islam, akhlak yang mahmudah, bisa mempraktekkan sabar ketika ditimpa musibah, mampu mempraktekkan mahabbahnya seorang hamba kepada Robnya dan mampu menepis kesenangan-kesenangan nafsu yang mengotori hatinya dan menghijabnya dari musyahadah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala.

Jadi, jika ini semua bisa terealisasi dan dipegang teguh, maka seorang da'i boleh memperlihatkan amal baiknya dihadapan orang lain.

Adapun dalil syar'i yang menerangkan hal ini adalah riwayatnya syekh Imam Muslim didalam kitab shohihnya dari syekh Jurair bin Abdulloh Al Bujali, disana diceritakan bahwa ada salah satu sahabat anshor yang datang membawa sekarung harta untuk disedekahkan, kemudian orang lain yang tahu akan hal ini mengikuti perilakunya tersebut (bersedekah). Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

من سن سنة حسنة فله أجرها, وأجر من عمل بها لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا


Memperlihatkan kekhususiahan ibadah ini adakalanya dengan memperlihatkan amal ibadah dihadapan orang lain secara dhohir seperti riwayat diatas dan adakalanya dengan membicarakannya kepada orang lain setelah selesai melakukan amal tersebut.


Dalam dua haliyah ini seorang hamba harus selalu waspada dalam menjaga hatinya dari godaan syaitan dan kesenangan nafsu yang selalu ikut andil dalam merusak amal ibadah, lebih-lebih waspada akan munculnya istisyrof (الاستشراف) yang telah digambarkan
oleh syekh Ibnu 'Athoillah rahimahulloh.


syeikh Al Imam Al Ghozali rahimahuloah berpendapat bahwa menceritakan amal ketaatan kepada orang lain lebih bahaya dan cenderung kepada sifat riya' serta lebih dekat dengan menuruti kesenangan nafsu, dari pada memperlihatkan amal secara dhohir didepan mereka. Ini dikarenakan beban lisan untuk mengucapkan sesuatu itu sangatlah ringan dan mudah, dan bagi nafsu sendiri bisa merasakan kelezatan didalam memperihatkan kekhususiahan suatu ibadah, hanya saja ketika hatinya akan dimasuki sifat riya' tidak akan merusak ibadah yang sudah selesai dilakukan.


Bagi hamba yang hatinya sudah kuat, sempurna ikhlasnya, dan dihadapannya pujian ataupun ejekan dari manusia sama saja, maka ia diperbolehkan menyebut dan menceritakan amal ibadahnya dihadapan mereka seraya mengharapkan agar mereka bisa meniru amal kebaikannya, bahkan ini disunnahkan apabila niatnya benar-benar suci dan selamat dari penyakit-penyakit hati.


Dari kalangan salaf sendiri banyak riwayat yang menceritakan tentang menyebutkan amal ibadah yang telah dikerjakan oleh mereka, diantaranya riwayat yang diceritakan dari syekh Sa'd bin Mu'adz, beliau berkata :

ما صليت صلاة منذ أسلمت فحدثت نفسي بغيرها وما تبعت جنازة فجدثت نفسي بغير ما هي قائلة وما هو

مقول لها وما سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول قولا قط إلا علمت أنه حق.


Artinya : Saya tidak pernah sholat satu sholat pun sejak aku masuk Islam kemudian aku berbicara tentang selain sholat, aku tidak pernah ikut mengiring satu jenazah pun kemudian aku berbicara tentang selain Jenazah, dan sama sekali aku tidak pernah mendengarkan ucapan Rosul shallallohu 'alaihi wa sallama kecuali saya tahu bahwa sesungguhnya ucapan beliau adalah Haq (benar).

Diriwayatkan juga dari Sayyidina Umar bin Khaththab radhiyallohu 'anhu, beliau berkata:

ما أبالي أصبحت على عسر أو يسر لأني لا أدري أيهما خير لي


Artinya : Saya tidak perduli apakah ketika menjelang pagi saya dalam keadaan sulit (payah) atau dalam keadaan mudah, karena sesungguhnya aku tidak tahu mana dari kedua haliyah ini (sulit dan mudah) yang lebih baik bagiku.

Beliau syekh umar bin abdul 'aziz rahimahulloh juga pernah berkata :

ما قضى الله فيّ بقضاء قط فسرّني أن يكون قضى لي بغيره وما أصبح لي هوى إلا فى مواقع قدر الله


Artinya : "Alloh tidak memberikan kepadaku satu putusan pun, kemudian aku senang apabila Ia memberikan putusan lain selain keputusan tadi dan saya tidak merasa senang kecuali jatuh dalam lingkup qodarnya Alloh.

Semua riwayat ini merupakan dalil yang membolehkan memperlihatkan haliyah-haliyah (tingkah) yang terpuji, apabila haliyah tersebut keluar dari orang yang sudah menjadi qudwah hasanah, dan ia mengharapkan agar perilakunya ditiru bagi orang yang melihatnya. Maka dari itu pintu untuk memperlihatkan amal tidaklah tertutup.

Adapun sifat yang masih dikatakan riya' dan merupakan penyakit hati adalah (الاستشراف) istisyrofnya hamba yang sedang dikarunai oleh Alloh khususiyyah dan amal-amal ketaatan, ia ingin agar orang lain tahu akan muroqobahnya kepada Allah, sebagaimana hikmah yang telah disampaikan oleh syekh Ibnu 'Athoillah As Sakandary diatas. Wallohu A'lam

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila