TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Selasa, 03 Juli 2012

PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW V


"Berdasarkan ayat al-Quran, manusia dari sisi fisik dan dan materi mengalami perubahan dan penyempurnaan begitu juga dari sisi maknawi. Adapun terkait sisi materi, al-Quran menjelaskan;

 وَ مِنْ آَیَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ

Yakni termasuk di antara tanda-tanda kekuasaan Alloh Swt adalah Dia menciptakan manusia dari tanah.


هُوَ الَّذِی خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

 Al-faqir menyatakan ini menunjukkan awal penciptaan (TAJALLI) manusia dari tanah dan lumpur dan bahkan dalam ayat lain disebutkan:


وَهُوَ الَّذِی خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

 Yakni Alloh Swt menciptakan manusia dari air Mani, atau;


 أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

 Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang sedikit ? Ayat ini memperhatikan perubahan dan penyempurnaan penciptaan manusia.

 Dia menambahkan, ayat-ayat dan kata-kata tersebut menggambarkan proses perubahan dan penyempurnaan manusia. Di ayat lain Alloh Swt berfirman;


أَوَلَمْ یَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

 Ayat ini menjelaskan tahap awal penciptaan manusia yang berasal dari air dan tanah,sampai air tersebut berada di dalam rahim ibu kemudian berubah menjadi علقه


ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظاماً فَكَسَوْنَا الْعِظامَ لَحْماً ثُمَّ أَنْشَأْناهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخالِقينَ


Manusia selalu dalam proses penyempurnaan dan perubahan secara fisik dan materi.


 AL-FAQIR  mengatakan bahwa kata ثُمَّ berarti proses secara gradual, yakni ketika benih itu masuk ke dalam rahim ibu maka dia secara bertahap tumbuh. Ayat ini juga menunjukkan mukjizat dalam penciptaan manusia, dan penjelasan al-Quran dalam hal ini juga membuktikan kemukjizatannya pula.


"Dengan demikian penciptaan manusia menurut al-Quran adalah proses perubahan dan penyempurnaan, yakni melalui tahap-tahap sampai sempurna yang dalam ayat lain dijelaskan;


ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظاماً فَكَسَوْنَا الْعِظامَ لَحْماً ثُمَّ أَنْشَأْناهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخالِقينَ

Darah yang menggumpal itu menjadi daging yang kemudian berubah menjadi tulang dan dari tulang itu tumbuhlah daging. Ini semua adalah penjelasan al-Quran mengenai penciptaan manusia dan proses penyempurnannya dari sisi materi.


 Lebih lanjut dijelaskannya bahwa Alloh Swt, setelah menjelaskan proses penciptaan manusia dari sisi materi dan penyempurnaannya berfirman;


ثُمَّ سَوَّاهُ وَ نَفَخَ فيهِ مِنْ رُوحِهِ وَ جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ الْأَفْئِدَةَ قَليلاً ما تَشْكُرُونَ

Di sini dimulailah tahap baru penciptaan manusia, dan pada tahap ini, manusia yang telah sempurna dari sisi materi atau fisiknya, harus memulai tahap maknawinya. Tahap penciptaan maknawi atau malakut manusia dimulai setelah dari sisi fisik telah sempurna. Dalam al-Quran disebutkan;


 ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً...


 Maksud dari ayat ini adalah penciptaan (tajalli) manusia dari sisi maknawi yang dimulai dengan ditiupkannya ruh. Dalam penyempurnaan sisimaknawi manusia, Alloh Swt juga telah menjelaskan dalam al-Quran bahwa tahapnya dimulai dengan ditiupkannya ruh, ketika dalam wujud manusia muncul fitrah insani.


 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَیِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا یَعْلَمُونَ


 Manusia diciptakan berdasarkan fitrah ilahi yang merupakan salah satu keajaiban dalam penciptaan manusia. Dalam ayat lain Alloh Swt berfirman;


 قالَ رَبُّنَا الَّذی أَعْطى‏ كُلَّ شَیْ‏ءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدى


 Semua makhluk hidup mendapat hidayah takwini dari Alloh Swt atau dengan kata lain seperti hukum alam. Akan tetapi untuk manusia, Alloh Swt telah menetapkan syariat guna membimbingnya menuju kebahagiaan dan kesempurnaan.


 إِنَّا هَدَیْنَاهُ السَّبِيلَ


 Ayat tersebut menjelaskan bahwa Alloh Swt menciptakan manusia bersama dengan fitrah yang dapt membantunya mengambil langkah-langkah menuju Alloh Swt. Jika manusia tidak menggunakan fitrahnya, maka dia akan menjauh dari nilai-nilai ilahi dan secara perlahan-lahan sifat-sifat hawa nafsu hewaninya akan lebih dominan, sampai akhirnya dia benar-benar berubah menjadi hewan setelah tidak lagi memiliki sisi insani.

 وَ لَقَدْ ذَرَأْنا لِجَهَنَّمَ كَثيراً مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا یَفْقَهُونَ بِها وَ لَهُمْ أَعْیُنٌ لا یُبْصِرُونَ بِها وَ لَهُمْ آذانٌ لا یَسْمَعُونَ بِها أُولئِكَ كَالْأَنْعامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولئِكَ هُمُ الْغافِلُونَ

 Alloh telah memberi manusia ikhtiar untuk memilih menempuh berbagai tahapan menuju kesempurnaan, apah dia akan memilih keadilan, kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan, atau dia akan menempuh jalan hawa nafsu.

 Dengan demikian, perubahan maknawi manusia memiliki dua jalur, pertama jalur yang tidak mengantarkannya menuju Alloh Swt, dan dijalan tersebut manusia akan jatuh dan menjadi makhluk yang sangat hina. Atau dia memilih jalan yang mengantarkannya kepada Alloh Swt, dan dia akan sampai ke derajat yang bahkan tidak akan mungkin dicapai oleh para malaikat.


“Sesungguhnya telah datang pada khabar berita bahwasanya Alloh ta'ala telah menjadi Nur Muhammad akan satu pohon kayu baginya empat dahan, maka menamaiNya Syajaroh al-Muttaqin (Pokok Orang-orang yang bertaqwa), dan pada setengah riwayat Shajaroh al-yaqin (Pokok Keyakinan),

Kemudian telah menjadi ia akan Nur Muhammad di dalam tirai  daripada permata yang sangat putih seumpama rupa burung merak dan diantarkan ia akan dia atas demikian pohon kayu itu , maka mengucap tasbihlah oleh Nur itu atas pohon kayu itu selama  tujuh puluh ribu tahun,
Kemudian menjadi akan cermin rasa malu (khaya') maka diantarkan kepadanya dengan berhadapan denganNya maka tatkala merak itu melihat  di dalam cermin itu dia melihat  akan rupanya sendiri lebih INDAH dan lebih baik dengan perhiasan adab dalam  tingkah laku , maka  rasa malu nya Nur kepada  Alloh ta'ala,

kemudian dia berkeringat  maka keluarlah  titik dari diriNya yang berjumlah  enam titik,

maka  oleh Alloh ta'ala di jadikan tiap titik tetesan keringat itu : yang pertama akan ruh Abu Bakar rodiya’llohu ‘anhu, dan dari tetesan yang kedua itu di jadikannya  ruh ‘Umar rodiya’llohu ‘anhu dan dari tetes keringat yang ketiga itu dijadinNya akan ruh ‘Utsman rodiya’llohu ‘anhu, dan dari tetesan keringat  yang keempat itu di jadiNya  ruh ‘Ali rodiya’llohu ‘anhu, dan dari tetesan keringat  yang kelima itu di jadikanNy a Pohon bunga mawar dan dari tetesan keringat yang keenam itu di jadikanNya padi” 


Kemudian di sebut bagai mana Nur Muhammad itu sujud lima kali, dengan itu, menjadi fardu sujud, lalu difardukan sembahyang yang lima waktu atas Muhammad dan ummatnya. Kemudian disebut Alloh melihat kepada Nur itu, lalu ia malu, berkeringat karena malunya.

tetesan keringat hidungnya Alloh di jadikanNya malaikat, tetesan daripada keringat mukanya Alloh di jadikanNya ‘Arasy, Kursi, Lauh dan Qalam, matahari, bulan, planet, segala bintang, dan barang-barang yang ada di langit. tetesan Daripada keringat dadaNya dijadikan anbiya', mursalin, ulama', syuhada' dan sholihin. tetesan daripada keringat belakangNya dijadikan Bait al-ma’mur, Ka’bah, Bait al-Maqdis, dan segala tempat masjid dalam dunia.


Disebutkan beberapa kejadian lagi tetsan daripada KeringaNya itu:

 tetesan keringat Daripada dua kening: mukminin dan mukminat dari umat Muhammad;

tetesan keringat  Daripada dua telinganya arwah Yahudi dan Nasrani, dan Majusi, golongan mulhid, kafir yang Ingkar kebenaran, munafikin.

tetesan keringat  Daripada dua kaki:segala bumi dari Timur dan Barat dan yang ada di dalamnya 


Kemudian Alloh memerintah Nur itu supaya memandang ke hadapan, di hadapannya ada nur, di kanan dan kirinya juga nur. Mereka itu ialah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Kemudian Nur itu mengucap tasbih selama tujuh puluh ribu tahun.

Kata pengarang: dijadikan nur para anbia daripada Nur Muhammad s.a.w.; ertinya dijadikan arwah para anbia daripada peluh ruh Muhammad s.a.w., dan dijadikan segala ruh umat anbia itu daripada peluh arwah anbia mereka itu.

Kemudian diriwayatkan bahwa dijadikan oleh Alloh mata dari pada Cincin yang merah, di lihat orang akan dzahirnya itu daripada bagian dalamnya, kemudian dijadikan rupa Muhammad 

Seperti Baginda di dunia ini, kemudian diletakkan di dalam guci tersebut, berdirilah  Baginda di dalamnya seperti berdirinya di dalam sembahyang  kemudian berkeliling roh segala anbiya dan lainnya di sekeliling mata cincin Nur Muhammad ‘alaihissholaatuwas-salam, mengucap tasbih dan mengucap tahlil mereka itu selama seratus ribu tahun,
kemudian Alloh menyuruh segala ruh itu melihat  kepadanya yang melihat  kepada kepalanya menjadi kholifah dan sultan antara sekelian makhluk,

yang melihat kepada dahinya menjadi amir yang adil yang melihat kepada dua matanya menjadi hafidz kalam Alloh  yang melihat dua keningnya menjadi tukang lukis yang melihat kepada dua telinganya jadilah ia menuntut dengar dan menerima (pengajaran) yang melihat dua pipinya jadilah ia berbuat baik dan berakal yang melihat dua bibir mulutnya menjadi orang-orang besar raja. 

Yang melihat hidung menjadi hakim dan tabib dan penjual bau-bauan (minyak wangi).
Yang melihat mulut menjadi orang ahli puasa. Demikian seterusnya dengan melihat anggota tertentu, jadilah orang itu mempunyai sifat-sifat tertentu di dunia nanti. Misalnya yang melihat dadanya menjadi orang alim, mulia dan mujtahid. . Dan orang yang tidak bisa melihat  sesuatu kepadanya jadilah ia mengaku menjadi Tuhan seperti Fir’aun dan yang seperti
 lainnya

Beliau menyebut hadits qudsi 

( كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف )

Adanya Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku kasihi engkau untuk di kenali (mengerti)  dan AKU akan perkenal engkau akan AKU  maka Aku jadikan segala makhluk supaya di kenalnya akan AKU. 

Kemudian beliau menyebut hadits Nabi s.a.w.

أول ما خلق الله تعالى نورى وفى رواية روحى

Artinya awal-awalnya  suatu  perkara yang  dijadikan Alloh ta'ala itu Nurku dan pada suatu riwayat ruhKu. Kata Al-faqir Maka adalah sekalian alam ini dijadikan Alloh subhanahu wata'ala daripada sebab  Nur
Muhammad s.a.w. seperti yang telah tersebutkan di atas . Lalu ia menyebut pula haditrh qudsi:

خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك لاجلى

Artinya: Aku jadikan segala perkara itu karena engkau Yaa Muhammad dan Aku jadikan akan engkau semua itu karena AKU  yakni di jadikan Nur Muhammad itu dengan tidak ada jarak suatu  apapun (ruh idhofi - ruh ilahi)


 Al-faqir  menegaskan bahwa Alloh Swt telah menetapkan nilai yang sangat mulia bagi manusia dan nilai tersebut tidak dimiliki oleh makhluk lain, bahkan malaikat. Semua yang ada di alam semesta ini diciptakan agar manusia menggunakannya sebagai sarana untuk mencapai kesempurnannya. Pada hakikatnya jika kita kembali pada pokok risalah nabi, maka yang ditekankan adalah masalah pembinaan diri.


عبد نور الله قلبه

 " hamba yang telah disinari hatinya oleh Alloh" ,

Nyatanya insan : Tajaliyyat AL-ILAHIYAH  yang sempurna

إ ن الله خلق ا د م على صو ر ته.

“Sesungguhnya alloh menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”.
 “ Jiwamu disatukan dengan jiwaku atau insan kamil.

BERSAMBUNG EDISI 
KAJIAN LAFADZ ALLOH & MUHAMMAD MENURUT AL-FURQON 
 


PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW IV


Pamahaman tentang hakikat Nur Muhammad pada umumnya dimulai dari kajian asal yaitu ketika, seluruh alam belum ada dan belum satu pun makhluk diciptakan Alloh swt. Pada saat itu yang ada hanya dzat Tuhan semata-mata, satu-satunya dzat yang ada dengan sifat Wujud-Nya.

Banyak dari kalangan sufi memahami bahwa pada saat itu dzat mahdlun (murni)  yang bersifat qodim  (dahulu) tersebut belumlah menjadi Ilah karena belum bernama Alloh, Untuk bisa dikatakan sebagai Al-Ilah, sesuatu itu harus dan wajib ada yang menyembahnya. Apabila tidak ada yang menyembah maka tidak bisa sesuatu itu dikatakan sebagi AL-Ilah . Logikanya demikian ...

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada yang Wujud selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku lahir dan bathin ,,,,


 Karena dzat yang wujud-Nya besifat qodim tersebut pada saat itu hanya berupa dzat Murni, maka pada saat itu Dia belum menjadi Al-ilah dan Dia belum bernama Alloh, karena kata Alloh sendiri dipakai dan diperkenalkan oleh Al-Ilah sendiri setelah ada makhluk yang akan menyembahnya serta hakikat makna dari kata Alloh itu sendiri berarti yang disembah oleh sesuatu yang lebih rendah dari padanya. ( pada tahap ini mungkin bisa difahami demikian )


 Setelah itu, barulah diciptakam Muhammad dalam wujud nur atau cahaya yang diciptakan atau berasal dari Nur atau Cahaya dzat yang menciptakannya ( sebagai perbandingan kaliamat Adam Diciptakan dariTanah ). Yaitu Nur yang cahanya terang benderang lagi menerangi. ( kemudian nur tersebut difahami sebagai Nur Muhammad ). Nur itulah yang kemudian mensifati atau memberi sifat akan dzat yaitu sifat wujud yang berarti ada dan mustahil bersifat tidak ada karena sudah ada yang mengatakan “ ADA “ atau meng-“ADA”-kan yaitu Nur Muhammad.

وروي عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين.


Di ceritakan dari  Ka’ab al-Ahbar: ” Tatkala Alloh ta’ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad s.a.w., Dia memerintahkan Jibril a.s. untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi s.a.w. dimakamkan nanti. Maka dilumatilah tanah tersebut dengan air Tasniim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai syurga. Setelah itu, dibawakan dia berkeliling ke mengelilingi seluruh langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi s.a.w. dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam a.s. Ketika NUR Junjungan Nabi s.a.w. kelihatan di kening dahi Nabi Adam a.s., dikatakan kepadanya: “Wahai Adam, inilah sayyid (penghulu) keturunanmu daripada para anbiya’ dan mursalin ....

فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم.

 Tatkala Siti Hawa mengandungkan Nabi Syits berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak saja iaitu Nabi Syits kerana kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w.
Maka sentiasalah berpindah-pindah Nur Muhammad daripada seorang yang suci kepada orang suci yang lain sehinggalah baginda dilahirkan.
Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam kitabNya “Anta tas-al wal Islam yajib”
   Al-Husain  ibn  Ali menceritakan  dari bapaknya Ali bin abi tholib di ceritakan dari kakeknya yang bernama abu tholib berkata bahwa Rosullulloh s.a.w berkata: “Aku adalah cahaya dihadapan Robbku selama empat belas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s. ( HR Imam Ahmad, Dhahabi dan al-Tabari )

 Setelah Nur Muhamamad diciptakan dari Nur atau Cahaya Dzat-Nya, maka selanjutnya Nur Muhammad itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dengan dzat, karena dengan Nur Muhammad itulah, dzat melahirkan semua sifat yang disifati-Nya

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 “ Alloh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Alloh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (1), yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun (2) yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Alloh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Alloh memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. “ ( QS : 024. : An Nuur : ayat : 35 )

 [1] Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) iyalah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain (ubun'').

 [2] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

 Ibn Jubayr dan Ka`b al-Ahbar berkata: “Apa yang dimaksudkan bagi cahaya yang kedua itu iyalah  Rosullulloh s.a.w karenana baginda adalah PesuruhNya dan Penyampai Amanah dari Alloh s.w.t terhadap apa yang menerangi dan terdzahir.” Ka`b berkata: ”

Minyaknya bersinar akan berkilauan karena Rosullulloh s.a.w bersinar akan  diketahui kepada orang ramai walaupun jika baginda tidak mengakui bahawa baginda adalah seorang nabi, sama seperti minyak itu bersinar berkilauan walaupun tanpa dinyalakan.

 Dari dalil-dalil yang disampaikan diatas dapatlah difahami bahwa hubungan antara Nur Muhammad dengan Dzat Muthlaq adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan yaitu, dimana Alloh berdiri disana Nur muhammad berada, Ketika Alloh disebut, maka disana Muhammad ikut menyertainya seperti pada pada kalimat tauhid “ La Ila Ha Illaalloh, Muhammad rosulululloh “

Ketika Alloh disebut, maka mutlak disana Muhammad ikut atau berada. Ibarat api dengan panasnya. Dimana api berada, maka disana pula panasnya berada. Dimana dzat berada disana pula Nur Muhammad berada. Bukanlah dikatakan api kalau tidak terasa panas. Ketika api disentuh, maka sesunggunya yang tersentuh hanyalah panasnya saja dan ketika terasa panasnya api pada hakikatnya yang dirasakan adalah api itu sendiri. Sehingga untuk memudahkan pemahaman, kalau diibaratkan “ api “ adalah dzat dan “ panas “ adalah Nur Muhammad yang menjadi sifat yang tidak terpisahkan dari pada api.

 Sebagai contoh lain dapat difahami melalui konsep laut dan gelombang. Tidaklah dikatakan sesuatu itu laut kalau dia tidak bergembang ( ombak ). Karena gelombang itu adalah sifat dari pada laut. Dimana ada laut, maka disana pula ada gelombangnya.

Tidak bergoncang atau bergerak gelombang itu apabila laut tidak bergoncang. Karena gelombang itu adalah laut yang bergocang. Ketika kita memandang laut yang terlihat adalah gelombangnya. Dan ketika mata memandang gelombang, pada hakikatnya yang dipandang adalah laut. ( pemahaman ini mungkin sebaiknya disimpan dulu untuk memudahkan pemahaman pada kajian selanjutnya )

 Coba pelajari dan fahami hadist berikut dalam acuan pemahaman diatas

 “ Aku telah dimasukkan ke dalam tanah pada Adam dan adalah yang dijanjikan kepada ayahanda ku Ibrahim dan khabaran gembira kepada Isa ibn Maryam “ ( HR : Ahmad, Bayhaqi )

 “ Bila Al-Ilah menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya (Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan menjatuhkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapak ku. Tidak pun dari mereka yang bisa keluar “. ( HR : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )
 
RIWAYAT NUR MUHAMMAD

datang berkunjung kepada empat unsur yaitu ; Angin , Api , Air dan Tanah atas Titah dari ALLOH SWT.

 Sebenarnya artikel kali ini erat hubungan nya dengan postingan ku pada tempo hari yaitu tentang Empat Unsur Yang Ada Dalam Tubuh Manusia , jadi bagi sahabat yang belum pernah membaca artikel tersebut , dengan senang hati aku persilah kan untuk menuju link nya .
 Pertama-tama Nur Muhammad datang mengunjungi Angin . Dikala itu di lihatnya angin sedang bermegah-megah bertiup berputar-putar . Lalu Nur Muhammad memberi salam dan mendengar itu angin berhenti dan membalas salam nya .
 Kata Nur Muhammad :

 ''Hai Angin , jika engkau sadar dan mengetahui kadar derajat dirimu , niscaya engkau bermegah-megah secara demikian.''

 Tahukah engkau kerendahan dirimu ?
 Jawab Angin dengan rasa ter kejut :
 ''Tidak . Aku merasa puas dengan diriku.''
 Kata Nur Muhammad :

 ''Tahukah engkau hai angin , meskipun engkau mempunyai tenaga yang cukup besar dan mempunyai kekuatan yang luar biasa , akan tetapi engkau pada suatu ketika akan dapat diperintah oleh manusia dan engkau akan melayani kehendak manusia.''
 Jawab Angin lagi :

 ''Jika begitu , engkaulah makhluk yang tidak cacat celanya mempunyai martabat yang tinggi.''
 ''Tidak hai angin . Aku adalah makhluk Tuhan yang tidak sunyi dari pada kesalahan dan hanya ALLOH  Robb Maha Suci daripada sifat kerendahan dan kekurangan'' , jawab Nur Muhammad .
 Kemudian Nur Muhammad pergi mengunjungi Api . Dilihatnya api sedang berkobar menyala-nyala dengan dahsyatnya . Setelah mendengar Nur Muhammad mengucap salam , Api pun berhenti serta menjawab salamnya .
 Kata Nur Muhammad :

 ''Mengapa engkau membanggakan dirimu dengan kekuatanmu , apa kah engkau tidak tahu bahwa suatu ketika kekuatanmu yang begitu luar biasa dan tenagamu yang begitu dahsyat akan digunakan untuk keperluan hidup manusia.''
 Mendengar kata Nur Muhammad demikian ,
Terkejutlah api karena ada lagi makhluk yang lebih daripadanya .

 Kata Api kemudian :
 ''Kalau begitu , beruntunglah engkau . Rupanya engkau makhluk yang mulia di sisi Tuhan .''
 Jawab Nur Muhammad :
 ''Tidak , aku adalah makhluk ciptaan ALLOH . Hanya Dialah yang Maha Mulia dan Maha Besar yang patut mendapat pujian dari makhluknya.''
 Kemudian Nur Muhammad datang mengunjungi Air .
Dilihatnya air sedang memuaskan dirinya serta memperlihatkan tenaganya dan kekuatannya .
 Mendengar Nur Muhammad mengucapkan salam lalu berhenti dan membalas salamnya .
 Kata Nur Muhammad :

 ''Hai Air , tahukah engkau akan kekurangan dirimu ?''
 ''Tidak'' , jawab Air dengan terkejut .
 Kata Nur Muhammad kemudian :

 ''Tahukah engkau pada suatu , pada sa'at yang sangat lama , engkau akan di gunakan tenagamu untuk kepentingan hidup manusia.''
 Kata Air :

 ''Jika demikian , Engkaulah makhluk yang mulia.''
 Jawab Nur Muhammad :
 ''Tidak hai air , Aku tidak lebih hanya sebagai makhluk ALLOH dan hanya Dialah yang patut menerima pujian dan sanjungan dari makhluknya.''
 Kemudian Nur Muhammad pergi mengunjungi Bumi . Dilihatnya bumi tenang- tenang saja tidak nampak sifat sombong dan congkak .

 Ia pun membalas salam dengan hormat ketika Nur Muhammad mengucap salam .
 Kata Nur Muhammad :
 ''Akulah Nur Muhammad yang kelak akan menjadi kekasih ALLOH Robbul 'Alamin . Di antara keempat unsur makhluk Al-ilah , hanya engkaulah yang mempunyai sifat tawaddhu' merendahkan diri.''
 Setelah melaksanakan titah dari Al-ilah Yang Maha Esa yaitu mengunjungi empat unsur makhluk Alloh itu kemudian Nur Muhammad kembali ke hadirat Alloh guna melaporkan kunjungannya .
 Dawuh Alloh  : ''Semuanya sudah Aku ketahui''
 ,,Oleh karena itu Aku bermaksud akan menjadikan tubuh Adam dari Tanah dan akan Aku campurkan pula tiga macam unsur itu , yakni Air , Angin dan Api ''.
 Demikian Riwayat Nur Muhammad dan tunggu saja postingan selanjutnya..''Riwayat Asal Kejadian Nabi Adam A.S'' 

PROSES KEJADIAN MAHLUK 
"Dalam proses perubahan pada makhluk hidup, hal itu terjadi secara ijbar atau tidak dapat ditawar, dan setiap tumbuh-tumbuhan dan hewan akan berubah sesuai dengan hukum alam yang telah ditetapkan oleh Alloh Swt."

 "Akan tetapi proses perubahan dan kesempurnaan dalam diri manusia tidak demikian. Alloh Swt telah mengkaruniai manusia dengan ikhtiar atau pilihan dan kehendak untuk memilih menempuh tahap kesempurnaan dari bawah ke atau tergelincir dan terjun ke lubang yang lebih rendah dari posisi awalnya. Memilih jalan kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan, atau jalan hawa nafsu."

 Al-faqir menjelaskan bahwa Alloh Swt mengADAkan manusia sebagai makhluk paling tinggi;

 
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِين

 Ini menunjukkan pentingnya pentajalliyahan manusia dan nilai-nilai yang dapat diperoleh dalam perjalanan hidupnya. Meski demikian manusia memiliki dua tipe penciptaan; sisi materi atau yang disebut dengan istilah mulki dan sisi maknawi atau malakuti, yang berdasarkan al-Quran, keduanya mengalami perubahan dan penyempurnaan, serta bergerak maju atau bahkan mundur.

  Ma'arif al-Quran itu menjelaskan, "Sisi materi dan duniawi manusia juga memiliki berbagai tahapan yang bergantung pada proses perubahan dan penyempurnaannya. Begitu juga dengan sisi maknawi atau malakutnya yang juga memiliki berbagai tahap dan telah dijelaskan dalam al-Quran."


BERSAMBUNG KE EDISI V ...................

Minggu, 01 Juli 2012

PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW III

Sujud melambangkan penghapusan diri. Diri yang mengaku-aku, begitu berhadapan dengan AL-ILAH yang Esa dan bercakap intim dengan-Nya, menjadi sadar akan hakikat dirinya sendiri.

Maka dia sujud, menghapuskan diri, fana'. Ada dua kali sujud dalam setiap rakaat, yang berarti sang hamba tenggelam dalam fana al-fana', penghapusan dalam penghapusan. Penghapusan pertama dihapuskan lagi, dan jadilah dia pada baqa. Fana' al-fana' menjadikan seseorang adam, “tiada,” yang merupakan hakikat dirinya, dan karena kehapusan diri ini berada dalam pandangan Alloh maka ia hapus dalam keabadian Alloh, baqa', sehingga ia mengalami hidup yang sebenarnya. Sebab, pelenyapan diri dalam Keesaan Alloh berarti pula baqa' “bersama” Alloh.

Dengan kata lain, seorang yang sujud dalam arti sebenar-benarnya ini akan keluar dari kesementaraan dunia, dan masuk ke hari-hari di sisi Al_ilah, atau yaumiddin. Jadinya, akhirat (yaumiddin), bagi seorang sufi, bukanlah waktu di ujung waktu temporal dunia, tetapi dialami pada momen “saat ini”. Sufi adalah putra waktu (Ibnu al-waqt), demikian salah satu prinsip Tasawwuf. Karena secara hakikat sudah “melampaui ruang dan waktu,” maka Sufi sama artinya melakukan sholat yang kekal, “sholat daim”. 

 Di sisi lain, yakni dalam pengertian shalat sebagai doa, ketika Muhammad diperintahkan sholat, maka ini artinya Alloh menjadikan Muhammad sebagai hamba yang memohon (berdoa) dan Alloh adalah menjadikan diri-Nya sebagai yang dimintai permohonan. Karena rosul adalah utusan dari AL-ILAH kepada manusia atau perantara, dan doa juga perantara atau “utusan” dari manusia kepada AL-ILAH dalam bentuk permohonan, maka rosul menjadi titik temu hubungan ini, yang berarti Rosul adalah doa itu sendiri, yakni ‘barzakh” atau pintu perantara antara manusia dengan Tuhan. Di sinilah terletak fungsi sholawat. 

 Dalam sholawat terkandung doa, pujian dan cinta. Karenanya, shalawat adalah salah satu jalan menuju cinta kepada rosul, yang pada tingkat tertinggi menyebabkan seseorang lebur dalam totalitas eksistensi, atau hakikat Muhammad, atau Nur Muhammad.

قال تعالى :  إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." – (QS.33:56)


اللهم صلي وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Shalawat adalah “berkah” yang biasanya disandingkan dengan kedamaian (salam). Shalawat karenanya berfungsi sebagai berkah dari Alloh untuk “menghidupkan” hati dan membersihkan hati agar terserap dalam Nur Muhammad dan sekaligus sebagai kedamaian yang menenteramkan. Dengan demikian, shalawat menjadi pembuka pintu keterkabulan doa seseorang seperti dikatakan dalam hadis, “Doa tidak akan naik ke langit tanpa melewati sebuah ‘pintu’ atau tirai. Jika doa disertai shalawat kepadaku maka doa akan bisa melewati tirai (yakni membuka pintu) itu dan masuklah doa itu ke langit, dan jika tidak (disertai sholawat) doa itu akan dikembalikan kepada pemohonnya.” 

 Sholawat yang diamalkan oleh Sufi dan terutama dalam thoriqoh-thoriqoh amat banyak macamnya—bisa mencapai ratusan. Imam Jazuli mengumpulkan sebagian di antaranya dalam kitabnya yang terkenal, Dalail Khairat. Sebagian lafadz sholawat ini tidak dijumpai dalam hadis standar (shohih) demi wujud cintanya pada rosulloh, dan karenanya sebagian fuqoha menyebut sholawat dari para Sufi adalah bid'ah.

Ini tidak mengherankan karena para fuqaha', yang gagal, atau bahkan tidak mau melampaui sudut pandangnya sendiri, tidak mengakui kasyaf yang menjadi dasar dari bermacam-macam sholawat. Sebagian sholawat Sufi diperoleh dari ilham robbani, atau kasyaf robbani, atau dari mimpi yang benar (ru’ya as-shodiqoh), di mana dalam kondisi itu para Sufi bertemu atau bermimpi bertemu dengan Nabi dan diajarkan lafadz sholawat tertentu dan disuruh untuk menyebarkannya. Karena itu susunan kata dalam sholawat Sufi bervariasi, dan sebagian besar mengandung kalimat yang indah, puitis, yang mengandung misteri dari hakikat Nabi Muhammad & Nur Muhammad, atau misteri fungsi kerosulan dan kenabian Muhammad pada umumnya. 


Penulis pernah ditunjukkan oleh seorang kyai, yang oleh sebagian sudah dianggap berkedudukan Wali Allah, sebuah buku catatan berisi banyak sekali lafaz shalawat yang khusus, misalnya, ada shalawat yang menjadi wasilah untuk mendapatkan ilmu ladunni dan ada juga shalawat untuk menggapai mukasyafah (menyingkap tirai kegaiban spiritual).

Salah satu contoh lain shalawat khusus adalah shalawat terkenal, shalawat Al-Fatih, yang menjadi amalan penting bagi beberapa tarekat seperti Syadiziliyyah dan Tijaniyyah. Menurut sebagian keterangan, Lafaz shalawat ini diilhamkan kepada Syekh Muhammad Al-Bakri r.a., dalam bentuk tulisan di atas lembaran cahaya, ketika Syekh Al-Bakri melakukan khalwat di Kakbah untuk mencari petunjuk cara terbaik bershalawat kepada Nabi. Terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Ya Allah, curahkan rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kami Nabi Muhammad saw yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, keluarganya dan semua sahabatnya dengan sebenar-benar kekuasaan-Nya Yang Mahaagung.

Dalam shalawat ini terangkum banyak hal yang melambangkan misteri kerasulan Muhammad Saw. Sebagian shalawat lain bahkan lebih jelas lagi dalam susunan katanya yang mengakui fungsi hakikat risalah kenabian, seperti: nabi sebagai cahaya Dzat-Nya (shalawat nur al-dzati); yang melapangkan rezeki dan membaguskan akhlak (shalawat litausil arzaq); pengumpul atau kumpulan kesempurnaan (shalawat jauhar asy syaraf); yang memecah-belah barisan orang kafir (shalawat al-muffariq); pemenuh hajat, pengangkat derajat, pengantar ke tujuan mulia (shalawat munjiyat); penghilang keruwetan, pencurah hujan rahmat (shalawat nariyah); penyembuh penyakit hati dan jasmani, cahaya badan (shalawat syifa dan tibbul qulub); dan sebagainya. Bahkan ada shalawat khusus yang hanya untuk penerimanya saja, dan karenanya tak diajarkan kepada orang lain. Shalawat semacam ini biasanya berkaitan dengan kedudukan atau maqam sang Sufi atau Wali itu sendiri. Shalawat rahasia ini mengandung doa dan pujian yang “mengerikan” dari perspektif apapun. Penulis pernah mendengar keterangan shalawat dari seorang Wali Allah, yang dalam artinya mengandung pernyataan “penyatuan atau pencampuran” ruh seseorang dengan ruh Muhammad.

Semua shalawat mengalirkan barakah kepada pembacanya sebab dengan shalawat seseorang “terhubung” dengan “Perbendaharaan Tersembunyi” yang kandungannya tiada batasnya, atau dengan kata lain, dengan shalawat seseorang berarti akan memperoleh berkah “kunci” dari Perbendaharaan Tersembunyi yang gaib sekaligus nyata (yakni dalam wujud Muhammad saw). Karenanya, dalam tradisi Sufi diyakini bahwa bacaan shalawat tertentu mempunyai fungsi dan faedah tertentu untuk mengeluarkan kandungan Perbendaharaan Tersembunyi sesuai dengan kandungan misteri yang ada dalam kalimat-kalimat bacaannya. Misalnya, shalawat Fatih di atas diyakini memiliki pelebur dosa, meluaskan rezeki, bertemu nabi dalam mimpi dan bahkan dalam keadaan terjaga, dan dibebaskan dari api neraka. Contoh lainnya yang masyhur adalah Shalawat Nariyyah, yang menjadi amalan banyak Wali Allah dan juga umat Muslim awam. Diriwayatkan bahwa shalawat ini bisa dengan cepat mendatangkan hajat jika dibaca sebanyak 4444 kali dalam sekali duduk. Seorang putra dari Wali Allah menyatakan bahwa jumlah bacaan shalawat ini tergantung pula pada niatnya. Misalnya, masih menurut beliau, jika kita membacanya dengan niat agar bisa mukasyafah (terbuka hijab gaib), dianjurkan sering-sering membaca 4444 kali dalam sekali duduk, atau setiap malam 313 kali secara istiqamah.

Proses kita menuju totalitas tersebut merupakan upaya untuk menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan harmonis melalui perantaraan (barzakh) Rasul. Ini adalah salah satu aspek dari fana fi-rasul. Seorang Sufi atau Wali Allah yang telah mencapai taraf fana fi-Rasul, atau “menyatu” dengan Nur Muhammad, maka ia akan merasakan kehadiran Muhammad bahkan dalam keadaan terjaga, dan bercakap-cakap dengannya. Imam al-Haddad, sang penyusun amalan “Ratib Haddad” yang termasyhur itu, menurut riwayat pernah berziarah ke makam Rasulullah dan mengucapkan salam. Lalu terdengar jawaban dari Nabi atas salam itu. Semua yang hadir bisa mendengarkan jawaban itu.

Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi dan halus, sebagian Sufi melalui penglihatan batinnya (kasyaf) mereka bisa melihat sosok seorang Sufi sama persis dengan sosok Muhammad, baik dalam bentuk tubuh maupun parasnya. Abu Bakar Syibli, misalnya, dalam keadaan fana mengatakan “Aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu salah seorang muridnya melihat Sybli dalam rupa Muhammad seperti yang pernah disaksikan dalam mimpinya dan kasyafnya.


Maka mendengar sang guru berkata seperti itu, secara spontan ia menjawab “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Samman. Ketika Syekh Samman sedang fana ia akan terus memuji Muhammad saw dengan membaca shalawat yang menguraikan hakikat Muhammad, yakni shalawat Sammaniyah. Pada keadaan ini kadang beliau berucap, “Aku adalah Muhammad yang dituju” atau “Aku adalah Nabi Muhammad dan Nur Muhammad,” dan “jasadku mirip dengan jasad Muhammad.” 
Salah satu contoh lagi isyarat rahasia terdalam dari Nur Muhammad ini dialami oleh salah seorang murid dari Wali Allah Syekh As-Sayyid Qamarullah Badrulmukminin Musyawaratul Hukuma Qamaruzzaman.

Dalam sebuah mimpi ia melihat Rasullullah, Imam Mahdi dan gurunya memiliki bentuk tubuh dan paras yang sama persis. Dan setiap kali ia bermimpi tentang Rasul, ia selalu menyaksikan gurunya di sisi beliau. Kadang-kadang, menurut muridnya, dalam beberapa perbincangan dengan Syekh As-Sayyid Qamarullah, tidak jelas apakah yang bicara itu Syekh ataukah Rasulullah. Bahkan di beberapa kesempatan, barangkali dalam keadaan “ekstase,” Syekh ini menyatakan dirinya diberi amanat untuk memberi keselamatan (rahmat) alam, sebuah tugas Nabi Muhammad. 

Tetapi tentu saja semua contoh di atas tidak bisa dilihat dari perspektif umum atau lahiriah, sebab hal-hal ini berada dalam konteks gaib dan rahasia ilahi yang hanya dipahami oleh orang-orang yang memang diberi izin dan diberi hak untuk memahaminya.


Kondisi tertinggi dalam persatuan dengan Nur Muhammad ini, secara teori, biasanya dialami oleh para wali yang telah mencapai kedudukan tertinggi, seperti wali Qutb (Kutub) atau Qutb Al-Aqtab (Rajanya Para Kutub) atau Sulthanul Awliya.


Ini adalah salah satu misteri terdalam (al-haqiqot) dari hubungan antara Alloh, Nur Muhammad, Muhammad saw, alam dan manusia (orang mukmin). Sebuah misteri yang tak bisa diselami makna hakikinya hanya dengan  melalui kata-kata. Dan, misteri agung yang suci ini terangkum dalam sholawat agung dari Syekh ‘Arif Billah Al-Qutb As-Syekh Muhammad Samman, sang pendiri tarekat Sammaniyah:

AL-faqir  pernah ditunjukkan oleh seorang kyai, yang oleh sebagian ulama' sudah dianggap berkedudukan Wali Allah karena ke'arifanNya, sebuah buku catatan berisi banyak sekali lafadz sholawat yang khusus, misalnya, ada sholawat yang menjadi wasilah untuk mendapatkan ilmu pengertian Hidup dan ada juga sholawat untuk menggapai mukasyafah (menyingkap tirai keghaiban spiritual). 

 Salah satu contoh lain sholawat khusus adalah sholawat terkenal, sholawat Al-Fatih, yang menjadi amalan penting bagi beberapa Thoriqoh seperti Syadiziliyyah dan Tijaniyyah serta Syathooriyah . Menurut sebagian keterangan, Lafadz sholawat ini di ilhamkan kepada Syekh Muhammad Al-Bakri r.a., dalam bentuk tulisan di atas lembaran cahaya, ketika Syekh Al-Bakri melakukan kholwat di Kakbah untuk mencari petunjuk cara terbaik bersholawat kepada Nabi.

Terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

 Ya Alloh, curahkan rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kami Nabi Muhammad saw yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus. Semoga Alloh mencurahkan rahmat kepada beliau, keluarganya dan semua sahabatnya dengan sebenar-benar kekuasaan-Nya Yang Maha Agung.

 Dalam shalawat ini terangkum banyak hal yang melambangkan misteri kerosulan Muhammad Saw. Sebagian shalawat lain bahkan lebih jelas lagi dalam susunan katanya yang mengakui fungsi hakikat risalah kenabian, seperti: nabi sebagai cahaya Dzat-Nya (sholawat nur al-dzati) yang melapangkan rezeki dan membaguskan akhlak (sholawat litausil arzaq) pengumpul atau kumpulan kesempurnaan (sholawat jauhar asy syarof) yang memecah-belah barisan orang kafir (sholawat al-muffariq) pemenuh hajat, pengangkat derajat, pengantar ke tujuan mulia (sholawat munjiyat); penghilang keruwetan, pencurah hujan rohmat (sholawat nariyah); penyembuh penyakit hati dan jasmani, cahaya badan (sholawat syifa dan tibbul qulub) dan sebagainya. Bahkan ada sholawat khusus yang hanya untuk penerimanya saja, dan karenanya tak diajarkan kepada orang lain.

Sholawat semacam ini biasanya berkaitan dengan kedudukan atau maqom sang Sufi atau Wali itu sendiri. Sholawat rahasia ini mengandung doa dan pujian yang “mengerikan” dari perspektif apapun. 
Al-faqir pernah mendengar keterangan sholawat dari seorang khoz , yang dalam artinya mengandung pernyataan “penyatuan atau pencampuran” ruh seseorang dengan ruh Muhammad.

 Semua sholawat mengalirkan barakah kepada pembacanya sebab dengan shalawat seseorang “terhubung” dengan “Perbendaharaan Tersembunyi” yang kandungannya tiada batasnya, atau dengan kata lain, dengan shalawat seseorang berarti akan memperoleh berkah “kunci” dari Perbendaharaan Tersembunyi yang gaib sekaligus nyata (yakni dalam wujud Muhammad saw). 

Karenanya, dalam tradisi Sufi diyakini bahwa bacaan shalawat tertentu mempunyai fungsi dan faedah tertentu untuk mengeluarkan kandungan Perbendaharaan Tersembunyi sesuai dengan kandungan misteri yang ada dalam kalimat-kalimat bacaannya. Misalnya, sholawat Fatih di atas diyakini memiliki pelebur dosa, meluaskan rezeki, bertemu nabi dalam mimpi dan bahkan dalam keadaan terjaga, dan dibebaskan dari api neraka. Contoh lainnya yang masyhur adalah Sholawat Nariyyah, yang menjadi amalan banyak

Wali Alloh dan juga umat Muslim awam. Diriwayatkan bahwa sholawat ini bisa dengan cepat mendatangkan hajat jika dibaca sebanyak 4444 kali dalam sekali duduk. Seorang putra dari Wali Alloh menyatakan bahwa jumlah bacaan sholawat ini tergantung pula pada niatnya. Misalnya, masih menurut beliau, jika kita membacanya dengan niat agar bisa mukasyafah (terbuka hijab gaib), dianjurkan sering-sering membaca 4444 kali dalam sekali duduk, atau setiap malam 313 kali secara istiqomah.

 Proses kita menuju totalitas tersebut merupakan upaya untuk menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan harmonis melalui perantaraan (barzakh) Rasul. Ini adalah salah satu aspek dari fana fi-rasul. Seorang Sufi atau Wali Alloh yang telah mencapai taraf fana fi-Rosul, atau “menyatu” dengan Nur Muhammad, maka ia akan merasakan kehadiran Muhammad bahkan dalam keadaan terjaga, dan bercakap-cakap dengannya. Imam al-Haddad, sang penyusun amalan “Rotib Haddad” yang termasyhur itu, menurut riwayat pernah berziarah ke makam Rosululloh dan mengucapkan salam. Lalu terdengar jawaban dari Nabi atas salam itu. Semua yang hadir bisa mendengarkan jawaban itu. 

 Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi dan halus, sebagian Sufi melalui penglihatan batinnya (kasyaf) mereka bisa melihat sosok seorang Sufi sama persis dengan sosok Muhammad, baik dalam bentuk tubuh maupun parasnya. Abu Bakar Syibli, misalnya, dalam keadaan fana mengatakan “Aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu salah seorang muridnya melihat Sybli dalam rupa Muhammad seperti yang pernah disaksikan dalam mimpinya dan kasyafnya.

Maka mendengar sang guru berkata seperti itu, secara spontan ia menjawab “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rosululloh.” Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Samman. Ketika Syekh Samman sedang fana ia akan terus memuji Muhammad saw dengan membaca shalawat yang menguraikan hakikat Muhammad, yakni sholawat Sammaniyah. Pada keadaan ini kadang beliau berucap, “Aku adalah Muhammad yang dituju” atau “Aku adalah Nabi Muhammad dan Nur Muhammad,” dan “jasadku mirip dengan jasad Muhammad.” 
Salah satu contoh lagi isyarat rahasia terdalam dari Nur Muhammad ini dialami oleh salah seorang murid dari Wali Allah Syekh As-Sayyid Qamarullah Badrulmukminin Musyawaratul Hukuma Qamaruzzaman.

Dalam sebuah mimpi ia melihat Rosullulloh, Imam Mahdi dan gurunya memiliki bentuk tubuh dan paras yang sama persis. Dan setiap kali ia bermimpi tentang Rosul, ia selalu menyaksikan gurunya di sisi beliau. Kadang-kadang, menurut muridnya, dalam beberapa perbincangan dengan Syekh As-Sayyid Qamarullah, tidak jelas apakah yang bicara itu Syekh ataukah Rosululloh. Bahkan di beberapa kesempatan, barangkali dalam keadaan “ekstase,” Syekh ini menyatakan dirinya diberi amanat untuk memberi keselamatan (rohmat) alam, sebuah tugas Nabi Muhammad. 

 Tetapi tentu saja semua contoh di atas tidak bisa dilihat dari perspektif umum atau lahiriah, sebab hal-hal ini berada dalam konteks gaib dan rahasia ilahi yang hanya dipahami oleh orang-orang yang memang diberi izin dan diberi hak untuk memahaminya. Kondisi tertinggi dalam persatuan dengan Nur Muhammad ini, secara teori, biasanya dialami oleh para wali yang telah mencapai kedudukan tertinggi, seperti wali Qutb (Kutub) atau Qutb Al-Aqtab (Rajanya Para Kutub) atau Sulthanul Auliya'.

Ini adalah salah satu misteri terdalam (al-haqiqot) dari hubungan antara Alloh, Nur Muhammad, Muhammad saw, alam dan manusia (orang mukmin). Sebuah misteri yang tak bisa diselami makna hakikinya hanya dengan  melalui kata-kata. Dan, misteri agung yang suci ini terangkum dalam sholawat agung dari Syekh ‘Arif Billah Al-Qutb As-Syekh Muhammad Samman, sang pendiri tarekat Sammaniyah:

Ya Alloh, semoga Engkau sampaikan sholawat bagi yang kami hormati Muhammad; dia adalah asal-usul dari segala yang maujud, yang meliputi semua falak (benda-benda langit) yang tinggi; huruf  "ALIF " pada Ahmad artinya adalah dzat yang mengalir pada setiap molekul; huruf "HA'" pada ahmad artinya hidupnya makhluk dari awal sampai akhir; huruf " MIM " pada kata Ahmad berarti tahta kerajaan ilahi yang tiada banding; huruf " DAL " pada lafal Ahmad artinya  DILALAH (petuntuk al-ilah) akan keabadian yang awal tanpa akhir . Engkau yang telah menampakkan diri pada Nur Muhammad yang Engkau cintai. Ia adalah tahta kehormatan yang padanya Engkau percikkan cahaya Dzat-Mu. Engkau menampakkan Diri (kepadanya) dengan Cahaya-Mu.

Hakikat Muhammad adalah cermin yang memantulkan keindahan-Mu, memantulkan sinar dalam Asma-Mu dan Sifat-sifat-Mu. Ia bagaikan matahari kesempurnaan yang memancarkan cahayanya bagi seluruh makhluk di alam, yang telah Engkau bentuk seluruh alam ini dari padanya (yakni dari Nur Muhammad).


الأنوار مطايا القلوب والأسرار

"Cahaya adalah kendaraan hati dan rahasia-rahasia"

 Alloh memberi Al-Warid lewat نور dan menuju hati agar bisa dekat kepada Alloh. Hati adalah suatu organ tubuh yang berisi perasaan-perasaaan yang mendorong pada kebaikan dan mencegah maksiat. Hati dibuat Alloh agar manusia cinta kepada-Nya. Namun ketika manusia sibuk dengan dunia yang notabene melalaikan manusia dari Alloh maka dia disebut قطاع الطريق (pemberontak)


إ ن الله ا صطفى ا جسا ما حل فيها بمعا نى الر بو بية و ا زا ل عنها معا نى البشر ية.

 “Sesungguhnya Alloh memilih jasad-jasad (tertentu) dan menempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan.”

Setiap orang yang mencapai hakikat Muhammad akan Engkau dudukkan di atas permadani yang berdekatan dengan-Mu. Engkau tetapkan (berikan) kepadanya sebuah kunci perbendaharaan kekasih-Mu yang agung; kunci itu gaib dan tersembunyi tetapi ia (juga) nyata. Kunci perbendaharaan itu menjadi perantara di antara Engkau dan hamba-hamba-Mu. Hamba-Mu hanya bisa naik dengan cinta kepada Ahmad (Muhammad Saw.) untuk menyaksikan kesempurnaan-Mu. (shalawat) ini juga bagi keluarganya yang mengalirkan ilmu hakikat, dan bagi para sahabatnya yang menjadi pelita yang menunjukkan jalan bagi setiap insan. 

Sholawat ini adalah dari-Mu bagi Ahmad, diterima olehnya dari kami dengan berkah keutamaan-Mu. Sholawat ini melekat pada Dzat-Nya dalam gumpalan cahaya tajalli-Nya. Sholawat yang menyucikan hati kita dan rahasia-rahasia batin kita. Shalawat yang mengangkat roh-roh kita dan melimpahkan berkah kepada kita, guru-guru kami, kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, dan segenap umat Muslim. Shalawat ini beriring dengan salam dari Engkau Ya Alloh, hingga hari kiamat. Shalawat dan salam yang jumlahnya tak terhitung bagi Muhammad Al-Amin, dan juga kepada keluarganya dan para sahabatnya; segala puji bagi-Mu dari-Mu sepanjang masa. 

Dengan mengaktualisasikan potensi yang bersifat ilahiah ini, berarti kita menafikan wujud kita dan menegaskan wujud Allah, karena wujud kita hanyalah wujud dalam arti majaz (kias), dengan demikian kita kembali ke sifat asli kita yakni ketiadaan, adam, dan karena itu pula kita menjadi cermin yang bening kembali, menjadi seperti pribadi Nabi, yang memantulkan nama dan sifat ILAHIYAH

BERSAMBUNG KE edisi IV .................




PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW II

SebenarNya Alloh secara langsung mengatur dunia, sebab Dzat-Nya adalah tanzih, tiada banding secara mutlak (transenden). Dia mengatur melalui Nur Muhammad, Logos. Jika Dzat-Nya turut campur dalam pengaturan alam yang penuh pertentangan, maka kalimat Allohu Ahad (lihat kembali bab satu) menjadi tidak berarti....  

pengertian ini di ambil dari dialognya NABI MUHAMMAD DAN NABI IBRAHIM dalam firman alloh 

 ‏:‏ عن قول الله - تعالى - ‏:‏ ‏{‏والله خلقكم وما تعملون‏}‏ ‏؟‏

Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang Anda lakukan

 فأجاب بقوله ‏:‏هذا مما قاله إبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ،
لقومه ‏{‏قال أتعبدون ما تنحتون ‏

Rosululloh Saw menjawab: Ini adalah apa yang dia katakan khabibulloh ibrahim As pada kaumnya
Dikatakan kaumnya: apakah kamu semua bisa menyembah dengan apa yang kamu sekalian tidak mendiami / menempati pada penyembahan itu  sedang AL-ILAH 

 ‏ والله خلقكم وما تعملون‏‏
 
Allah menciptakan kamu dan apa yang Anda lakukan..

أي ما تعملون من هذه الأصنام ليقيم عليهم الحجة بأنها لا تصلح آلهة ،
لأنها إذا كانت مخلوقة لله - تعالى - فمن الذي يستحق العبادة المخلوق أم الخالق‏؟
 
artinya : perkara Apa yang  Anda lakukan di dalam penyembahan ini adalah salah satu berhala hidup apakah itu sebuah haqiqat penyembahan . karena sesungguhnya  mahluk tidak pantas menyembah alloh dengan dirinya untuk melayani AL-ILAH . karena sesungguhnya jika mereka diciptakan oleh alloh  - Maha Kuasa - siapakah yang layak menyembah makhluk atau Sang Pencipta itu sendiri ... ??

 
 ‏ الجواب الخالق‏.‏

Jawabannya yang pantas menyembah adalah Sang Pencipta sendiri ...??

 وهل يستحق المخلوق أن يكون شريكاً في هذه العبادة ‏؟‏ 

Apakah makhluk itu layak menjadi mitra (sekutu) dalam ibadah

لا ‏.‏ فإبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ، أراد أن يقيم الحجة على قومه بأن ما عملوه من هذه الأصنام التي نحتوها مخلوق الله -عز وجل.‏

Tidak makhluk tidak pantas menjadi sekutu bagi alloh . 
Kemudian kholilulloh  ibrahim AS menghendaki dan memberi pengertian pada qoumnya bahwa apa yang umat-Nya lakukan dari berhala-berhala yang dia bikin itu di sembah dengan dirinya yang juga sama'' mahluk alloh dan makhluk Alloh yang Maha Kuasa itu menyembah alloh SWT dengan dirinya ??

 - فكيف يليق بهم أن يشركوا مع الله -تعالى - هذا المخلوق ‏.

 Bagaimana bisa memperoleh sebuah makna UBUDIYAH jika dalam penyembahan itu hamba sendiri marasa pantas menjadi sekutu kepada alloh swt . untuk melibatkan mereka dengan AL-ILAH  yang Maha Kuasa - makhluk ini dan itu kata-kata ini apa yang Anda lakukan "apa" nama yang melekat ke bagian belakang mengatakan apa Ini wajah ini menghadap kepada alloh swt ...

 
وليس فيها أنه يبرر شركهم بالله ويقول ‏:‏ إن عملكم مخلوق لله فأنتم بريئون من اللوم عليه ،

 Ini bukan maqom yang dibenarkan Alloh dan mereka syirik mengatakan bahwa makhluk dengan AL-ILAH Anda tidak bersalah dari kesalahan untuk itu ketika keadaanmu (tingkah ubudiyah) tidak menghendaki pada penyembahan itu .. namun hanya alloh yang menyembah dan disembah dan yang beramal 

 عن قول الله - تعالى - ‏:‏ ‏{‏والله خلقكم وما تعملون‏}‏ ‏؟‏
فأجاب بقوله‏:‏هذا مما قاله إبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ،
لقومه ‏{‏قال أتعبدون ما تنحتون ‏.‏ والله خلقكم وما تعملون‏}‏
أي ما تعملون من هذه الأصنام ليقيم عليهم الحجة بأنها لا تصلح آلهة ،
لأنها إذا كانت مخلوقة لله - تعالى - فمن الذي يستحق العبادة المخلوق أم الخالق‏؟
 الجواب الخالق‏.‏ وهل يستحق المخلوق أن يكون شريكاً في هذه العبادة ‏؟‏ لا ‏.‏ فإبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ، أراد أن يقيم الحجة على قومه بأن ما عملوه من هذه الأصنام التي نحتوها مخلوق الله -عز وجل -فكيف يليق بهم أن يشركوا مع الله -تعالى - هذا المخلوق
وليس فيها أنه يبرر شركهم بالله ويقول ‏:‏ إن عملكم مخلوق لله فأنتم بريئون من اللوم عليه ،
==============================================================================

Semoga keterangan di atas bisa mencerahkan kita dalam jalan yang di ridloi alloh serta selalu dalam bimbingan rolulloh ....

Maka fungsi pengaturan berada dalam tahap wahidiyyah ini, yakni tahap Haqiqat Al-Muhammadiyyah. Rububiyyah (penguasaan, pemeliharaan) menimbulkan kebutuhan adanya hamba dan sesuatu yang dipelihara (kosmos, alam), dan karenanya dibutuhkan penghambaan (ubudiyyah). Haqiqat Al-Muhammadiyyah mengalir dari nabi ke nabi sejak Adam sampai pada gilirannya akan terwujud dalam pribadi Muhammad yang disebut rosul dan hamba (abd)—Muhammad abduhu wa Rosullulloh.

Ketika Muhammad, setelah bertafakur sekian lama di gua, ia mencapai tahap keheningan di mana gelombang dirinya bertemu dengan gelombang Nur Muhammad, maka layar kesadarannya terbuka terang melebihi terangnya seribu bulan.

مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ

Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar....

Maka jadilah ia Rosul. Maka Rosul Muhammad adalah cahaya yang menerangi alam secara lembut dan bisa disaksikan, sebab terang cahaya itu dibandingkan dengan seribu bulan, bukan seribu matahari. 

Dalam konteks ini secara simbolik “Rosul” adalah manifestasi yang lengkap dari tahapan manifestasi, yakni dari martabat wahdah ke martabat alam ajsaam (alam dunia, materi, sebab-akibat). Dilihat dari sudut pandang lain, rasul adalah “utusan” Tuhan yang menunjukkan jalan menuju cahaya atau kepada Tuhan. Karena merupakan manifestasi “lengkap dan sempurna” maka tidak dibutuhkan lagi sesuatu yang lain sesudahnya, dan jadilah dia disebut khotam (penutup)—”tak ada lagi nabi dan rosul setelah aku (Muhammad).” 

الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ

Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

 Bagian kedua kalimat syahadat, Muhammad rosullulloh, adalah deskripsi dari ciptaan. Muhammad adalah “barzakh” yang memperantarai manusia dengan AL-ILAH . Berbeda dengan bagian pertama syahadat, Laa ilaha illa Allah, yang menegaskan KeESAan dan karenanya eksklusivitas mutlak (tanzih), bagian kedua syahadat ini menunjukkan inklusivitas (tasybih), karena merupakan manifestasi dari Alloh.

Sebagai sebuah deskripsi dari manifestasi, syahadat kedua ini menggambarkan tiga hal sekaligus, yakni Prinsip Asal yang dimanifestasikan (Muhammad) manifestasi Prinsip (Rasul) dan Prinsip Asal itu sendiri (Alloh). Dengan demikian, “Rasul” adalah penghubung “Dzat yang dimanifestasikan” dengan Dzat itu sendiri.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu, yang telah menciptakan kamu dari yang satu"

Rosul menjadi perantara antara alam yang fana' dengan Dzat Yang Kekal. Tanpa “Muhammad Rosulluloh” dunia tidak akan eksis, sebab ketika dunia yang fana' dihadapkan pada Yang Kekal, maka lenyaplah dunia itu. Menurut Al-faqir, jika Rosul diletakkan di antara keduanya, maka dunia bisa terwujud, sebab Rasul secara internal adalah tajalli sempurna dari Alloh, dan secara eksternal tercipta dari tanah liat yang berarti termasuk bagian dari alam.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah." – (QS.23:12)


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ



"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani, (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." – (QS.23:13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." – (QS.23:14)


خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

"Dia menciptakan manusia dari tanah kering, seperti tembikar," – (QS.55:14)

Jadinya, Rosul adalah “Utusan” manifestasi, yang mengisyaratkan “perwujudan” atau “turunnya” Tuhan dalam “bentuk manifestasi atau ayat-ayat” ke dunia, yang dengannya Dia dikenal. Kerasulan adalah alam kekuasaan (alam jabarut). Dengan demikian Muhammad Rosululloh adalah penegasan perpaduan KeESAan Dzat (Wujud), Sifat (shifaat) dan Tindakan (af’al).  Karenanya,menurut pandangan al-faqir—dalam kerosulan, Rasul tidak hanya berhadapan dengan Alloh saja, tetapi juga berhadapan dengan manusia (alam) pada saat ia berhadapan dengan AL-ILAH

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu, seorang rasul dari dalam diri kamu sendiri (NUR MUHAMMAD)  sebagai penerang dan awal sebuah syafa'at  nabi MUHAMMAD SAW .. berupa pengertian haqiqat keIMANAN & TAUHID pada diri tiap'' muslim ....

Pengangkatan Rasul, yang berarti “turunnya” AL-ILAH ke dunia, yakni “bersatunya” kesadaran Muhammad dengan Nur Muhammad, terjadi pada laylat Al-Qadr (Malam Kekuasaan), yang terang cahayanya melebihi seribu bulan. Allah dan Nabi Muhammad bertemu dalam “Rasul” yang dijabarkan dalam Risalah, atau Wahyu, yakni Al-Quran. Inilah cahaya petunjuk (Al-Huda) yang menerangi kegelapan alam, yang memisahkan (Al-Furqan) kebatilan atau kegelapan dengan kebenaran atau cahaya. Karena itu Al-Quran sesungguhnya adalah manifestasi “kehadiran penampakan” Alloh di dunia ini.

Sayyidina Ali karromallohu wajhah dalam Nahj Al-Balaghoh mengatakan “Alloh Yang Maha suci menampakkan Diri kepada tiap-tiap hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya, hanya saja mereka tidak melihatNya.”
Imam Ja’far shodiq, cucu Rosululloh saw, juga mengatakan, “Sesungguhnya Alloh menampakkan Diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab -Nya (kitab hidup / alam semesta), tetapi mereka tidak melihat.” 

 Di sisi lain, sebagai manusia yang mengandung unsur tanah dan air, Muhammad memperoleh sisi kemanusiaannya. Dia makan, minum dan menikah. Faktor ini amat penting karena menunjukkan bahwa walau Muhammad adalah manifestasi

وجودك عين وجود ربه 

"keadaanmu (mahluk) menjadi kenyataan dari keADAannya tuhanmu"

atau dengan kata lain  tajalli sempurna, insan kamil, dari Alloh, tetap saja Muhammad bukanlah Alloh. Atau, dengan kata lain, yang dimanifestasikan bukanlah Prinsip yang bermanifestasi, dan karenanya tidak ada persatuan antara manusia dan AL-ILAH  dalam pengertian panteisme. Kedudukan manusia paling tinggi justru dalam realisasi penghambaannya yang paling sempurna, abd, “abdi”—gelar yang hanya disebut oleh Alloh bagi Muhammad Saw. 

 Al-’abd adalah “Hamba” atau abdi yang sepenuhnya pasrah kepada Alloh. Seorang abd hidup dalam kesadaran sebagai seorang abdi Alloh. Abd dicirikan oleh keikhlasan. Karenanya, penghambaan sejati bukan lantaran kewajiban atau keterpaksaan. Dalam pengertian umum, kegembiraan seorang hamba adalah ketika dia dimerdekakan oleh tuannya. Tetapi ‘abd merasakan kegembiraan tatkala ia menjadi hamba (Alloh). 

 Derajat ‘abd adalah derajat tertinggi yang bisa dicapai manusia, dan karena itu Alloh menyandingkan kerosulan Nabi Muhammad Saw dengan ‘abd—”Tiada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah ‘hamba’ dan Rosul-Nya.” Ketika mengundang Rosululloh saw di malam mi’roj, Alloh menyebutnya dengan gelar “hamba”—Mahasuci Alloh yang memperjalankan hamba-Nya di kala malam (QS. 17:1)—dan ini sekaligus menunjukkan kebesaran kualitas ‘abd, sebab hanya ‘abd-Nya-lah yang berhak mendapat undangan langsung menemui-Nya di tempat di mana bahkan Malaikat Jibril pun terbakar sayap-sayapnya.

Dalam tingkatan yang paripurna, hamba yang ingat akan menjadi yang diingat, yang mengetahui akan menjadi yang diketahui, dan yang melihat akan menjadi yang dilihat, yang menghendaki menjadi yang dikehendaki, dan yang mencintai menjadi yang dicintai, karena ia sudah fana pada Allah dan baqa dengan baqa-Nya, dan ia menghabiskan waktunya untuk memandang kebesaran dan keindahan-Nya terus-menerus, seakan-akan dirinya pupus, seakan dia adalah Dia (Allah).

Ini adalah maqom seperti yang disebutkan dalam hadis Qudsi: … “(Aku) menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan menjadi lidahnya yang dengannya dia bicara.” Jadi jelas bahwa derajat tertinggi adalah pada kehambaan, sebab hanya hamba yang telah menemui kesejatianlah yang akan “naik / asro ” menuju AL-ILAH . Dan pada sang hamba sejatilah Alloh “turun” untuk menemuinya. Ini adalah misteri mi’roj. 

 Penurunan dan kenaikan, laylatul al-qodr dan laylatu al-mi’roj, mempertemukan hamba dengan Tuhannya, melalui kewajiban yang ditetapkan pada saat pertemuan Nabi dengan Alloh, yakni shalat. Setiap mukmin harus mengikuti jejak Rosululloh agar bisa mi’roj, sebab sekali lagi, hanya melalui Rosullulloh sajalah, yakni prinsip “barzakh,” manusia bisa menemukan AL-ILAHnya. Rosul pernah mengatakan bahwa mi’roj-nya umat Muslim adalah sholat. Tanpa sholat, tidak ada mi’roj. Karenanya, sholat adalah wajib. Sholat pula yang membedakan Muhammad (dan umatnya) dengan kaum kafir.
 Sholat adalah langkah pertama dan terakhir dalam perjalanan menuju Tuhan, sebagaimana Nabi Muhammad adalah Nabi paling awal dan paling akhir dari mata rantai kenabian.

Rosululloh saw pernah mengatakan bahwa sholat akan mengangkat hijab, membuka pintu kasyaf, sehingga hamba-Nya berdiri di hadapan-Nya (IKHROM) . Rosululloh juga berkata, “Di dalam sholatlah terletak kesenanganku.” Sebab, sholat adalah bentuk percakapan rahasia antara Alloh dengan hamba. “Percakapan / Munajah ” ini terutama melalui bacaan Induk Kitab Suci, Surah Al-Fatihah. Surah ini terdiri dari dua bagian: yang pertama dikhususkan bagi Alloh dan yang kedua dikhususkan bagi hamba-Nya. Dua bagian percakapan ini disebutkan dalam hadis yang masyhur di kalangan Sufi:
 Aku membagi sholat menjadi dua bagian di antara Aku dan hamba-Ku, setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku. (Rasulullah bersabda}”Ketika hamba berucap alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Alloh berkata ‘Hamba-Ku memuji-Ku. Ketika hamba berucap Ar-Rohman Ar-Rohim, Alloh berkata ‘Hamba-Ku memuja-Ku.’ Ketika hamba berucap maliki yaumiddin, Alloh berkata ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku.’ Ketika hamba berucap Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Alloh berkata ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku.’ Ketika hamba berkata ihdinash shirothol mustaqim—sampai akhir ayat, Alloh berkata ‘Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ 

 Sholat bisa dilihat dari dua sisi (IBDAL / pengganti). Sebagai gerak perlambang dan doa/dzikir. Gerakan sholat bukan sekadar gerak tanpa makna, tetapi sebuah tindak “menulis” ayat Alloh dan merealisasikannya. Muslim “membaca” Al-Quran untuk mendapatkan petunjuk tentang hakikat dirinya guna mengenal Alloh, dan Muslim melakukan sholat untuk “menulis” hakikat diri.

Ini berarti pula bahwa dengan shalat seorang Mukmin melahirkan kandungan hakikat kediriannya, seperti sebuah pena yang mengalirkan tinta saat dipakai untuk menulis. Apa yang “ditulis” dalam sholat adalah hakikat kemanusiaan, adam, yakni bahwa manusia sesungguhnya adalah “adam” atau tiada, dan eksistensinya muncul adalah lantaran eksistensi Alloh yang dipancarkan melalui Nur Muhammad.

Dalam salah satu tafsir Sufi, posisi berdiri tegak lurus melambangkan huruf "ALIF" posisi rukuk melambangkan huruf "DAL"  dan sujud melambangkan huruf "MIM". Ketiga huruf ini membentuk kata “ADAM”. Huruf alif bernilai numerik satu yang melambangkan keESAan AL-ILAH. Karenanya begitu seseorang mengangkat tangannya dan berseru “Allohu Akbar,” ia sama artinya dengan “mengorbankan” diri dalam kesatuanNya .

Jika kesadaran tertentu telah dicapai dalam tingkatan keESAan, maka ia akan menunduk, yang mencapai puncaknya dalam sujud. Dalam posisi sujud, otak (rasio) diletakkan lebih rendah daripada hati. Bisa dikatakan rasio haruslah menjadi aspek sekunder dalam mendekati AL-ILAH, sebab “alam semesta tak bisa menampung Alloh, hanya hati yang bisa menampung Alloh” (hadis qudsi). 

BERSAMBUNG KE EDISI III

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila