TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Kamis, 02 Agustus 2012

RISALAH SEPUTAR TASAWUF




Sekitar Ilmu Tasawwuf dan ahli tasawwuf

Ilmu tasawwuf merupakan salah satu cabang dari lmu-ilmu Islam yang utama dan cukup penting meliputi diantara yang lainnya. Yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu ahlak. 

Ilmu tauhid bertugas membahas soal-soal i’tiqod, seperti i’tiqod mengenai ketuhanan, kerasulan, hari akhirat, dlsb. Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji, & lain sebagainya.

Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti ; bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu', muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. serta mengkaji hakikat syarat sahnya bertauhid.

Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqod, fiqih takluk kepada amal ibadah, dan tasawuf takluk kepada ahlak. Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya ber-i’tiqod sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid, supaya beribadah sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih, dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawwuf.

 tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa dan pembening hati, yang menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti ranah kehidupannya yang, pada dasarnya tidak pernah terlepas dari berbagia macam persoalan dalam kehidupan sehari-sehari . Tasawuf membimbing manusia dalam pengembangan kinerja ukhrawi dan sekaligus juga duniawi dan tidak terjebak oleh perkembangan zamannya.

Sudah mafhum difahami adanya ilmu-ilmu tersebut dalam agama kita.

Tentang dalil atau dasar-dasar landasan bahwa ilmu tasawwuf sebagai ilmu atau bagian dari tradisi islam awal (masa rasululloh SAW dan para sahabat), antara lain dapat diketahui dari mabadi :

1. Adanya ulama-ulama besar yang menjadi tokoh dalam ilmu ini, seperti Syeikh Hasan Bashri (wafat 110 H), Syeikhah Rabiah Adawiyah (wafat – 135 H),Syeikh abu muhammad ibnu al-'arobi , Syeikh Sufyan Tsauri (wafat – 161 H), Syeikh Ibrahim bin Adam (wafat – 161 H), Syeikh Syaqiq Al Balkhi (wafat – 195 H), Syeikh Ma’ruf Karkhi (wafat – 200 H), Syeikh Siri Siqthi (wafat – 297 H),Syeikh Al-Husain ibn Manshur al-Hallaj, Syeikh Dzin Nun Al-mishri (wafat 245 H), Syeikh Junaidi Al-baghdadi (wafat 297 H), Syeikh Abu Yazid Al-bushtomi, Syeikh Abu Thalib Al-makki (wafat 386 H), Syeikh Al-qusyaeri (wafat 465 H), Ahmad al-Faruqi al-Sahrandi ,Syeikh abdul karim al-jilli , Syeikh Athoo'illah assakandari ,Hujatul Islam Syeikh Abu Hamid bin Muhammad Al-ghozali (wafat 505 H), dll.

Beliau-beliau ini yang menggodog, merumuskan dan langsung membukukan ilmu-ilmu ini secara sistimatik. Serta sesudah kewafatan beliau-beliau, munculah ulama-ulama islam yang mengikuti jejak beliau-beliau itu dengan mengarang buku-buku atau kitab-kitab yang bertalian serta menjelaskan tentang pengalaman serta sudut pandang masing-masing dan semua saling menguatkan. Sehingga sampai sekarang kita dapat menikmati karya beliau-beliau itu dengan membaca kitab-kitabnya dan mempelajari pendapatnya sebagai cakrawala penerang HATI untuk mengenal DIRI yang sesungguhnya.

2. Sanad atau guru-guru tokoh tersebut tiada lain dari masa tabi’in adalah dari para shohabat seperti sayidina Ali KW, Sayidina Utsman ibnu Affan ra, Sayidina Umar ibnu Khotob ra, Sayidina Abu Bakar ra, dll, dari Rosululloh SAW, dari Malaikat jibril dan dari Alloh SWT agar selalu terjaga kemurnian serta disiplin ilmunya serta tidak asal berpendapat yang tidak bisa di pertanggung jawabkan karena sanad guru lebih afdhol dari pada sanad buku / kitab yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.

3. Adanya kitab-kitab yang tersiar dalam bidang ilmu tasawuf yang mu’tabar, Nahjul balaghoh (Saiyidina 'ali  RA) Fushususulhikam ,futukhah al-makiyah (ibnu-al-'arobi) Insan Kamil (abdul karim al-jilli) Al-Hikam (athoo'illah assakandari)  al : Ihya ‘Ulumuddin (Imam Ghozali), Mukhtasar Ihya ‘Ulumuddin (Al-Qasimi), Risalah Al-Qusyairiyah (Al-Qusyaeri), , dll.

4. Adanya -pengamal- atau pengikut ajaran ilmu tasawwuf ini yang sangat ta’at. Antara lain yang mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah dalam hal i’tiqod, syari’ah dan ahlak.

5. Bidang kajian teori ilmu ini seperti yang disebutkan di atas adalah bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti. Bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dan lain sebagainy. Landasan nya tiada lain Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW (Aqwal/hadits. Af’al, dan Taqrirot) serta atsar shohabat.

6. Hakekat Ilmu tasawwuf antara lain seperti yang dikemukan pendapat Ibnu Kholdun (wafat 1406 M), beliau berkata ; “Asal pokok dari ajaran tasawwuf itu adalah bertekun beribadah, berhubungan langsung kepada Tuhan, menjauhkan diri dari kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak suka pada harta dan tuah/pengaruh yang diburu orang banyak, dan bersunyi-sunyi diri dalam melaksanakan ibadat kepada Tuhan”.

Dari keterangan Ibnu Kholdun yg ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang tasawwuf itu adalah orang yang :
Tetap bertekun beribadat kepada Tuhan
Memutuskan pergantungan hatinya selain kepada Alloh taala
Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewahan duniawi
Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta benda dan pengaruh/tuah
Berkholwat atau bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadat.

Lalu Ibnu khaldun melanjutkan keterangannya : “Hal ini dilaksanakan oleh sahabat-sahabat Nabi SAW dan orang-orang Salaf, tetapi kemudian pada kurun ke 2 hijriyah, setelah orang-orang berebut-rebutan mengejar dunia, dan orang-orang sudah enak-enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang-orang yang tetap tekun beribadat sebagai sediakala dinamai dengan orang-orang Tasawwuf”.

Dari pandangan Ibnu Kholdun yang diberikannya secara global ini dapat diambil kesimpulan dan beberapa pengertian :

Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau beramal atau berbudi pekerti sesuai dengan Tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang Tasawuf bersumber kepada amal Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
Ajaran dalam Tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Qur’an dan Hadits dan amal-amal sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.

Dan pada kurun ke 2 H –orang-orang Islam boleh dikatakan sudah ada yang lupa daratan, sudah mewah-mewah, sudah berfoya-foya, sudah menumpuk-numpuk harta, sudah sombong menyombongkan diri, sudah banyak yang takabur-.

Sebagai reaksi dari keadaan itu banyak pula orang-orang Islam ingin tetap sebagai sediakala, sebagaimana yang diwariskan dari zaman Nabi SAW dan zaman sahabat-sahabat, yakni kehidupan sederhana.
Orang-orang inilah yang dinamakan orang Tasawuf atau orang sufiyah.

Ilmu tasawwuf itu tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah Nabi, dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Juga tidak bertentangan dengan syari’at lahir, tetapi berlainan lapangan. Andaikata ada kelihatan orang2 tasawwuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke masjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf. Tetapi tasawuf pura-pura, kalau tidak akan dikatakan orang sinting.

KHUTBAH NABI SAW MENYAMBUT RAMADHAN KARIEM



“Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Alloh telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathowwu’.”



“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Alloh dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”



“Romadhon itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Romadhon itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Alloh memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”



“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”



Para sahabat berkata, “Ya Rosulalloh, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rosululloh saw, “Alloh memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”



“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Alloh mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”



“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Romadhon; dua perkara untuk mendatangkan keridho'an Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat mengharapkannya.”



“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka. namun bagaimana kamu lalai dalam bias-bias surga dan neraka jika pertemuanmu dengan alloh dalam tauhidNya akan menghapus keduanya ”

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ زَادَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَخْبَرَنِي أَخِي قَتَادَةُ بْنُ النُّعْمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 



Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Abdurrohman bin Abdulloh bin Abdurrohman bin Abu Sha'sha'ah dari Ayahnya dari Abu Sa'id Al Khudzri, bahwa ada seorang laki-laki mendengar seseorang yang membaca QULHUWALLAHU AHAD (QS.Surat al-ikhlas), ia mengulang-ulanginya. Pagi harinya, ia menemui Nabi shollallohu 'alaihi wasallam dan mengutarakan kisahnya yang seolah-olah si laki-laki tadi menganggap terlalu remeh (sedikit) bacaannya. Spontan Rosululloh Shollallohu'alaihiwasallam bersabda: Sungguh surat tadi menyamai sepertiga alquran. Dan Ismail bin Ja'far menambahkan dari Malik dari Abdurrahman dari Ayahnya dari Abu Sa'id telah mengabariku saudaraku Qotadah bin Nu'man dari nabi shollallohu 'alaihi wasallam. 77.4/6826



 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ حَدَّثَنَا شَقِيقُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا نُصَلِّي خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَقُولُ السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 



. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Mughirah telah menceritakan kepada kami Syaqiq bin Maslamah berkata, Abdullah berkata, 'Pernah kami shalat di belakang Nabi shollallohu 'alaihi wasallam dan kami mengucapkan, 'ASSALAMU ALALLOHI (Semoga keselamatan atas Alloh) ', maka beliau berkata: 'Sesungguhnya Alloh adalah Assalaam', namun katakanlah olehmu sekalian:

'ATTAHIYAATULILLAH WA ASH SHALOWAATU WATH THOYYIBAT ASSALAAMU ALAIKA AYYUHANNABIYU WA ROHMATULLOHI WA BARAKAATUHU ASSALAAMU 'ALAINA WA 'ALA 'IBAADILLAHISH SHOOLIHIINA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAALLAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA RASUULUH

(Segala pujian milik Alloh', dan kesejahteraan serta segala kebaikan, semoga kesejahteraan atasmu wahai nabi shollallohu 'alaihi wasallam, juga rahmat Alloh dan barakah-Nya. Dan semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita, dan hamba-hamba Alloh yang sholeh, saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Alloh semata dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya) '. 77.11/6833



“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Alloh memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Berkata Dzun Nun Al-Mishri :

“Ciri-ciri orang yang mencintai Alloh ialah siapa yang mengikuti kekasih Alloh Nabi Muhammad SAW dalam ahlak, perbuatan, suruhan dan sunnah beliau“. 

“Kalau kamu melihat seseorang yang diberi karomah sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. .

Maka ahli Sufi yang tulen mesti menuruti ahlak, perbuatan, dan sunnah Nabi SAW. Andaikata kelihatan seorang Sufi melanggar syari’at, maka ia bukanlah ahli sufi.

Ajaran ilmu tasawwuf sudah jelas, tiada lain yaitu meliputi tiga hal unsur penting ,Islam, Iman dan Ihsan / ahlak. Landasannya sebagaimana sabda Nabi SAW 



عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ : رواه مسلم

Artinya : Dari Sayidina Umar bin Khottob ra, beliau berkata : “Pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasululloh SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak bahwa ia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu. Ia duduk berhadapan dengan Nabi SAW dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi SAW dan meletakkan tangannya di atas pahanya. Lalu ia bertanya ; Hai Muhammad, coba ceritakan kepadaku tentang Islam, Nabi menjawab ; Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad itu Rasululloh, engkau kerjakan sholat, engkau tunaikan zakat, engkau lakukan puasa bulan ramadhan, engkau naik haji kalau kuasa. Laki-laki itu menjawab, benar. Kami heran, kata Umar bin Khottob ra, Ia bertanya dan ia pula yang membenarkan.

Lalu ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tentang IMAN ya rosulalloh ??
Nabi menjawab secara Umum Iman ialah supaya engkau percaya kepada Alloh, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, hari akhirat dan percaya dengan takdir buruk baiknya. Ia menjawab, benar. Ia bertanya lagi ; Apa ihsan itu ?. Nabi menjawab ; Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka IA melihat akan engkau. Ia bertanya lagi ; Kapan hari qiyamah ?. Nabi menjawab ; Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tanda-tandanya!. Kalau sudah melahirkan budak akan tuannya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si penggembala kambing yang miskin.

Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Sayidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami : hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu ?. Jawab saya ; Tuhan Alloh dan rasul-Nya yang lebih tahu. Nabi menjelaskan ; Itulah Malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan agamamu’. (HR Imam Bukhari dan Muslim ; Syarah Muslim 1 ; 157-160).

Dalam memberi komentar Hadits ini, Imam Bukhari mengatakan bahwa ketiga-tiganya, yakni Islam, Iman dan Ihsan adalah Agama. (Kitab Hadits Bukhari 1 ; 15).

Hadits ini mengisyaratkan pada tiga unsur yang terdapat dalam agama Islam, yaitu Islam, Iman dan Tasawuf. Porsi Ihsan adalah ajaran muroqobah, tahalli, tajalli ; yang ada dalam tasawwuf. Upaya mensucikan diri, jiwa dan pikiran agar senantiasa dekat dicintai Alloh SWT.

pentingnya tasawuf dalam kehidupan sehari-sehari itu adalah cermin ahlak rosululloh saw . dan pentingnya ilmu tauhid dalam keseharian sebagai pengesahan antara batal dan tertolaknya setiap ubudiyahnya umat islam . semoga kita selalu belajar dan belajar dan jadikan hari-harimu sibuk dengan duniawi semata .....

=====================( ooOOOoo )==================

Rabu, 01 Agustus 2012

NAHJUL BALAGHOH MENURUT PANDANGAN SEJARAH

                                                                        


 Imam Ali
                 

Nahjul Balaghoh merupakan kitab yang berisi kompilasi khotbah, surat, dan ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as yang penuh makna dan hikmah, yang dikumpulkan oleh Sayyid Rodhi.Khotbah-khotbah Imam Ali as dinilai dan dihormati sedemikian tingginya di dunia Islam, sehingga hanya dalam waktu seabad setelah wafatnya, khotbah-khotbah itu telah diajarkan dan dibacakan sebagai kata terakhir di dalam Filsafat Tauhid, sebagai ceramah-ceramah bagi pembangunan watak, sebagai sumber inspirasi yang luhur, sebagai khotbah-khotbah meyakinkan ke arah taqwa, sebagai mercu penunjuk ke arah kebenaran dan keadilan, sebagai karya pujian yang menakjubkan tentang Nabi Muhammad (saw) dan Al-Quran al-Karim, sebagai pembicaraan yang meyakinkan tentang nilai-nilai spiritual Islam, sebagai diskusi-diskusi yang menakjubkan tentang sifat-sifat Tuhan, sebagai karya utama kesusastraan, dan sebagai model seni retorika dan keterampilan berbahasa. 

ABAD PERTAMA

Menurut kitab biografi yang termasyhur, Rijal al-Kabir, orang pertama yang mengumpulkan khotbah-khotbah ini di dalam sebuah kitab adalah Zaid ibn Wahab Jahmi (w. 90 H.) yang dipandang sebagai perawi Hadis.


Jadi, dalam masa 30 tahun setelah wafatnya Imam Ali dan selama abad pertama Hijrah, khotbah-khotbah, surat serta ucapan-ucapannya telah dikumpulkan, dikutip, dan dipelihara.

ABAD KE-2

Pada abad ke-2, teladan Ibn Wahab Jahmi diikuti oleh :

(1) ’Abdul Hamid ibn Yahya (132 H.), seorang kaligrafis termasyhur pada masa Abbasiyyah, dan


(2) Ibn al-Muqoffa (142 H.) mengambil alih tugas pengumpulannya. Jahizh al-Utsmani mengatakan bahwa Ibn al-Muqoffa telah menelaah khotbah-khotbah itu dengan sangat cermat dan biasa mengatakan bahwa is telah memuaskan dirinya dari sumber pokok iimu pengetahuan dan kebijaksanaan dan setiap hari ia mendapatkan inspirasi baru dari khotbah-khotbah Imam Ali ini. 

(3) Ibn Nadim, dalam kitab biografinya al-Fihrist, mengatakan bahwa Hisyam Ibn Sa’ad al-Kalbi (146 H.) juga telah mengumpulkan khotbah-khotbah ini. (al-Fihrist, lbn Nadim, jil. 7, hlm. 251)


Sejak abad itu dan seterusnya, abad demi abad, pars ulama, sejarawan dan ahli Hadis, membacakan khotbah-khotbah ini, mengutipnya dan membahas makna kata-kata Beserta ungkapan yang digunakan Imam Ali, dan mengacunya bilamana mereka memerlukan rujukan tentang teologia, etika, Sunnah dan Al-Quran, atau tentang kesusastraan dan retorika.

ABAD KE-3

1. Dalam abad ketiga, ’Umar ibn Bahr al-Jahizh (w. 255 H.; 688 M.) mengutip banyak khotbah dari Nahjul Balaghoh dalam kitabnya al-Sayan wa at-Tabyin.

2. Ibn Qutaibah ad-Dainuri (w. 276 H.), dalam kitab-kitabnya ’Uyun al-Akhbar, dan Gharib al-Hadits mengutip banyak khotbah dan membahas pengertian dari banyak kata-kata dan ungkapan yang digunakan Imam Ali.

3. Ibn Wadhih al-Ya’qubi (w. 278 H.) menuliskan banyak khotbah dan ucapan Imam Ali dalam kitab Tarikh-nya.

4. Hanifah ad-Dainuri (280 H.) dalam kitabnya, Akhbar ath-Thiwal mengutip banyak khotbah dan ucapan Imam Ali.

5. Abul ’Abbas al-Mubarrod (286 H.), dalam bukunya Kitab al-Mubarrod, juga mengumpulkan banyak khotbah dan ucapan Imam Ali.

ABAD KE-4

1. Sejarawan al-Thabari (310 H.) mencatat beberapa dari khotbah ini di dalam kitabnya Tarikh al-Kabir.

2. Al-Halabi (320 H.) telah mengutip khotbah-khotbah ini di dalam kitabnya Tuhfat al-’Uqul.
Para penuiis yang berikut ini pun telah mengutip Khotbah-khotbah dan ucapan-ucapan dari Nahjul Balaghoh ini secara besar-besaran di dalam kitab-kitab mereka.

3. Ibn Warid (346 H.) dalam al-Mujtabni.

4. Ibn ’Abdi Rabbih (328 H.) dalam bukunya ‘Iqd al-Farid.

5. Siqat al-Islam Kulaini (329 H.) dalam al-Kafi.

6. Ali ibn Muhammad ibn ’Abdullah al-Mada’ini (335 H.) mengumpulkan khotbah-khotbah, Surat-Surat dan ucapan-ucapan Imam Ali dalam kitabnya Yaquth al-Hamawi menyebutkan tentang kitab ini di dalam Mu’jam al-Udaba’, jilid 5, hlm. 313.

7. Sejarawan Mas’udi (346 H.), dalam Muruj adz-Dzahab, telah mengutip beberapa dari Surat dan khotbah Imam Ali.

8. Abul Faraj al-Isfahani (356 H.) dalam al-Aghoni.

9. Abu Ali al-Qali (356 H.) dalam an-Nawadir.

10. Syekh Shaduq (381 H.) dalam Kitab at-Tauhid, banyak mengutip khotbah, surat dan ucapan-ucapan ini.
ABAD KE-5

1. Syekh Mufid (421 H.) di dalam Kitab al-lrsyad, telah mengutip banyak khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali.

2. Sayyid Rodhi (420 H.) telah menyusun kumpulan khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali as dan diberi judul : Nahjul Balaghoh.

3. Syekh Tha’ifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan at-Thusi (460 H.) yang hidup sezaman dengan Sayyid Radhi telah mengumpulkan beberapa dari khotbah ini jauh sebelum Sayyid Rodhi melaksanakan karyanya.Yang dapat dikumpulkan Sayyid Radhi dalam Nahjul Balaghoh tidak seluruh khotbah dan ucapan Imam Ali. Mas’udi (346 H.) dalam kitabnya yang terkenal, Muruj adz-Dzahab (jilid II, him 33, cetakan Mesir) mengatakan bahwa khotbah-khotbah Imam Ali saja, yang telah dipelihara oleh berbagai orang, berjumlah lebih dari 480 khotbah. Khotbah-khotbah ini diucapkan langsung tanpa persiapan.


Orang-orang telah menyalinnya dan telah menyusunnya dalam bentuk kitab; mereka membacakannya dan mengutip bagian-bagiannya ke dalam kitab-kitab mereka.Nampaknya dari 480 khotbah itu sebagian telah hilang, dan yang dapat dliperoleh Sayyid Radhi hanya sekitar 245 khotbah. 


Di samping itu, ia juga telah mengumpulkan 75 pucuk surat dan lebih 200 ucapan. Hampir setiap khotbah, surat dan ucapan yang terkumpul di dalam Nahjul Balaghah terdapat di dalam kitab-kitab yang ditulis para penulis yang telah lama meninggal sebelum Sayyid Rodhi dilahirkan, sedangkan sebagiannya lagi terdapat di dalam karya-karya para penulis yang walaupun sezaman dengannya namun lebih tua daripadanya dan telah menulis kitab-kitab mereka sebelum Nahjul Balaghoh disusun.


Sedemikian banyak kutipan para sarjana Muslim dan non Muslim, para ulama, filosof dan sejarawan yang memuji khotbah-khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali as. Jika seluruh komentar sarjana itu dikumpulkan, maka semua itu akan menjadi sebuah buku yang terdiri dari ratusan halaman. 

Sementara itu, di bawah ini hanya dicantumkan sebagian kecilnya saja.

1. Ibn Katsir (606 H.) sampai sekarang bukan saja diakui sebaga perawi hadis, tetapi juga seorang pakar besar tentang kata dan kosa kata. Kitabnya an-Nihayah wal Bidayah merupakan kitab sejarah dan makna kata-kata sulit dari Al-Quran dan Hadis. Di dalam kitabnya itu, ia membahas panjang lebar banyak perkataan, ungkapan dan kalimat-kalimat khotbah Imam Ali dari kitab Nahjul Balaghoh. la mengatakan bahwa sejauh berkaitan dengan sisi komprehensifnya, kata-kata Imam Ali hanya di bawah Al-Quran.

2. Allamah Syekh Kamaluddin ibn Muhammad Tholhah asy-Syafi’i (w. 652 H.), di dalam kitabnya yang terkenal Matholib as-Sa’ul, menulis : “Sifat Imam Ali as yang ke-4 adalah kefasihan dan kemahirannya di dalam seni bahasa. Beliau menonjol sedemikian rupa di dalam keahlian ini sehingga tiada seorang pun yang dapat berharap akan sampai kecuali ke tingkat debu sepatunya. Orang yang telah mengkaji Nahjul Balaghoh dapat membentuk suatu gagasan tentang kecanggihannya yang sangat tinggi di dalam bidang ini.

3. Ibn Abil Hadid (w. 655 H.) yang telah menulis sebuah kitab Syarh (komentar) berjilid-jilid tentang khotbah-khotbah itu, menulis: “Khotbah-khotbahnya, surat-surat dan ucapan-ucapannya begitu tinggi nilai sastra maupun kandungan maknanya, sehingga nilainya di atas kata-kata ucapan manusia biasa, dan hanya di bawah firman-firman Tuhan. Tiada yang dapat mengatasinya selain Al-Quran.” Pada bagian lain Ibn Abil Hadid mengatakan, “Kata-katanya adalah mukjizat Nabi Muhammad (saw). Ramalan-ramalannya menunjukkan bahwa pengetahuannya mengatasi manusia biasa.”

4. Allamah Sa’aduddin Taftazani (791 H.) di dalam Syarh al-Maqasid mengatakan bahwa, “Ali mempunyai penguasaan tertinggi atas bahasa, etika dan ajaran agama, dan pada saat yang sama ia adalah seorang orator ulung; khotbah-khotbahnya yang terkumpul di dalam Nahjul Balaghah menjadi saksi atas kenyataan ini.”

5. Allamah Ala’uddin al-Qusyaji (875 H.) dalam Syarh at-Tajrid menyatakan bahwa, “Kitab Nahjul Balaghoh yang merupakan khotbah-khotbah dan makna yang terkandung di dalamnya membuktikan bahwa tiada sesuatu yang dapat mengatasinya, kecuali Al-Quran.”




6. Syekh Muhammad Abduh (1323 H.) juga telah menulis sebuah Syarh Nahjul Balaghoh. la termasuk di antara pemikir modern yang menyadarkan dunia modern akan keindahan ajaran-ajaran Islam. Kata pengantarnya tentang Syarh-nya sendiri itu patut memperoleh kajian cermat Pada kata pengantarnya itu, Muhammad Abduh mengatakan bahwa setiap orang yang memahami bahasa Arab pastilah sependapat bahwa khotbah-khotbah dan ucapan-ucapan Ali hanya di bawah firman Alloh dan sabda Nabi Muhammad Saw. Kata-kata Imam Ali sedemikian sarat makna dan mengandung gagasan-gagasan yang begitu besar, sehingga kitab Nahjul Balaghoh ini harus dikaji dengan sangat cermat, diacu dan dikutip oleh para mahasiswa maupun guru. Guru besar dalam kesusastraan dan falsafah ini meyakinkan universitas-universitas di Kairo dan Beirut untuk memasukkan kitab Nahjul Balaghoh di dalam kurikulum untuk studi tingkat atas tentang kesusatraan dan falsafah

7. Penulis dan orator terkenal Syekh Musthafa al-Ghulayaini yang dipandang sebagai ahli Tafsir AI-Quran serta kesusastraan Arab, di dalam bukunya ’Arij az-Zahr, bab “Gaya Bahasa”, menulis: “Siapa yang dapat menulis lebih baik dari Ali. selain Nabi saw dan Alloh SWT.
Orang-orang yang hendak mengkaji standar-standar kesusastraan yang paling tinggi, haruslah mengkaji kitab Nahjul Balaghoh. Kitab itu mengandung pengetahuan yang sedemikian dalam dan nasihat-nasihat yang sedemikian menakjubkan tentang masalah etika dan agama sehingga kajian yang rutin atasnya akan membuat orang menjadi bijaksana, saleh dan berpikiran luhur dan akan melatihnya menjadi orator kaliber besar.”

8. Al-Ustadz Muhammad Muhyiddin, guru besar bahasa Arab pada Universitas AI-Azhar, Kairo, mengatakan bahwa Nahjul Balaghah merupakan suatu koleksi karya Sayyidina Ali yang disusun Sayyid Rodhi. la mengandung contoh-contoh bahasa yang murni, kefasihan yang mulia dan kebijaksanaan yang tinggi sehingga tiada seorang pun selain Ali yang dapat menghasilkan karya semacam itu, karena setelah Nabi Suci Saw, dialah orator terbesar, yang paling ahli tentang bahasa dan kesusastraan serta sumber kebijaksanaan terbesar dalam agama Islam. Dia filosof yang dari kata-katanya mengalir pengetahuan dan kebijaksanaan.

9. AI-Ustadz ’Abdul Wahhab Hammudah, ahli kesusastraan dan hadis serta guru besar Universitas Fuad I di Kairo, dalam tahun 1951, menulis, “Kitab Nahjul Balaghoh mengandung segala yang dapat dikatakan atau dituliskan para ulama besar, para guru besar etika, filosof, ilmuwan, ahli agama dan politisi. Kekuatan nasihat yang menakjubkan dan jalan yang luar biasa indah dalam menyajikan argumen serta kedalaman pandangan, membuktiKan bahwa Nahjul Balaghoh merupakan karya suatu pikiran super seperti pikiran Ali.”

10. Abdul Masih al-Antaki, editor majalah Kristen al-Amran, Mesir, dalam kitabnya yang terkenal Syarh al-Qosha’id al-Auliya’ menulis, “Tak dapat disangkal bahwa Imam adalah Imam dari para khotib dan orator, dan ia adalah guru dan pemimpin para penulis dan filosof. Ada kebenaran di dalam penegasannya bahwa ucapan-ucapannya lebih tinggi dari ucapan siapa pun dan hanya lebih rendah dari firman Alloh Yang Maha kuasa. Tiada diragukan bahwa dialah sumber penulis, pembicara, filosof, ulama dan penyair mengambil inspirasi, yang telah memperbaiki seni dan gaya bahasa mereka. Kumpulan karyanya dinamakan Nahjul Balaghoh, yang patut sering-sering dibaca.”

11. Fuad Afram Al-Bustani, guru besar dalam kesusastraan Arab pada perguruan tinggi Quades Yusuf di Beirut adalah seorang penganut Katolik Romawi. la telah mengumpulkan sebuah kitab yang berisi karya-karya pilihan dari para filosof, ilmuwan, ahli agama, dan esayis. la memulai bukunya dengan kata-kata berikut: “Saya hendak memulai karya saya ini dengan pilihan-pilihan dari Nahjul Balaghoh. Kitab itu merupakan karya seorang pemikir terbesar dunia….”

12. Polos Salamah, seorang moralis Kristen, penulis, penyair, di dalam bukunya yang ternama, Awal al-Malhamah al-’Arabiyah (Al-Naser Press, Beirut) mengatakan, “Kitab Nahjul Balaghoh yang terkenal merupakan karya yang membuat orang tersadarkan akan pemikiran-pemikiran besar Ali ibn Abi Tholib. Tiada kitab yang mengatasinya kecuali Qur’an. 


Di dalamnya anda akan mendapatkan mutiara pengetahuan terpenting dalam rantai-ranta indah, bunga-bunga bahasa yang membuat pikiran orang semerbak dengan bau harum dan menyenangkan tentang heroisme dan keluhuran, dan aliran bahasa murni yang lebih manis dan lebih sejuk dari sumber Kautsar, yang terus mengalir secara tetap dan menyegarkan pikiran pembaca.”

JAWABAN UNTUK MEREKA (golongan) YANG MENYUDUTKAN GOLONGAN SUFI

                                                                         
Syekh Abu Nashr as Sarroj rohimahulloh berkata: "Tak ada perselisihan di kalangan para imam, bahwa Alloh swt. telah menyebutkan dalam Kitab suci Nya tentang orang orang jujur, baik laki-laki maupun perempuan (ash-Shadiqin dan ash-Shadiqat), orang-orang yang merendah di hadapan Alloh (al-Qonitin dan al-Qonitat), orang-orang yang khusyu' (al-Khasyi'in), orang-orang yang sangat yakin (al-Muqinin), orang-orang yang ikhlas (al-Mukhlishin), orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), orang-orang yang takut akan siksa Alloh (al-Kho'ifin), orang-orang yang berharap rohmat Alloh (ar-Rajin), orang-orang yang takut (al-Wajilin), orang yang tekun beribadah (al-'Abidin), para pengembara (as-Saihin), orang-orang yang bersabar (ash-Shobirin), orang-orang yang ridha (ar-Radhin), orang-orang yang bertawakal (al-Mutawakkilin), orang-orang yang tawadhu' (al-Mukhbitin), para kekasih Alloh (al-Auliya), orang-orang yang bertakwa (al-Muttaqin), orang-orang pilihan (al-Mushthafin dan al-Mujtabin), orang-orang baik (al-Abrar) dan orang-orang yang dekat dengan Alloh (al-Muqarrabin).Alloh telah menyebutkan tentang orang-orang yang sanggup "menyaksikan" (musyahadah), sebagaimana Dia firmankan dalam al Qur'an:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيد

"Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati, atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya (bukti-bukti itu)."


(Q.s. Qaf. 37).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Sementara itu Alloh juga menyebutkan orang-orang yang thuma'ninah (tenang damai):"Ingatlah! hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram." (Q.s. ar Ra'd: 28). 

إِنْ أَنْتَ إِلا نَذِيرٌ

"Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan."

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِي

"Sesungguhnya, Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun, melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." 

وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Alloh juga menyebutkan orang yang terdepan dalam mencari ridho Nya (as-Sabiqun), orang-orang yang tengah-tengah (al-Muqtashidun), dan orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan. (Q.s. Fathir: 32).

Rosululloh saw. bersabda:"Ada di antara umatku orang-orang yang diajak bicara Tuhan (mukallamin) dan orang-orang yang dibisiki (muhaddatsin). Dan sesungguhnya Umar termasuk salah seorang dari mereka."
Sementara Hadis dan Atsar yang semisal sangatlah banyak.Dan tak perlu diperdebatkan, bahwa mereka adalah umat Muhammad saw.

Sebab jika mereka tidak termasuk dalam umat Muhammad, dan mustahil kemungkinan adanya di setiap zaman, tentu Alloh tidak akan menyebutkannya dalam al Qur'an dan Rosululloh saw. tidak akan menerangkannya dalam Hadis-hadis beliau.

Ketika kita perhatikan bahwa kata, "Iman" adalah mencakup seluruh orang mukmin. Kemudian di antara mereka memiliki nama dan ciri khusus, sehingga dengan demikian menunjukkan adanya kekhususan mereka dari orang orang mukmin secara umum.Sementara itu, tidak seorang pun dari para imam yang memperselisihkan, bahwa para nabi a.s. lebih tinggi derajatnya dari mereka, dan memiliki kedudukan yang lebih dekat dengan Alloh, meskipun mereka adalah manusia sebagaimana lazimnya manusia lain yang perlu makan dan minum.

Kekhususan ini terjadi pada para nabi dan orang-orang yang saya sebutkan, karena adanya suatu rahasia antara mereka dengan Dzat Yang mereka sembah (al-Ma'bud), dan karena kelebihan mereka dalam masalah keimanan dan keyakinannya, terhadap apa yang Alloh serukan.

Hanya saja para nabi memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh mereka (kaum Sufi) dengan adanya wahyu, risalah (kerosulan) dan tanda tanda kenabian. Dimana tidak seorang pun bisa menandinginya dalam hal itu.

Dan hanya Alloh Yang Maha tahu pada apa yang telah di tentukanNya .

=====================( oooOooo )========================

PENJELASAN TENTANG CINTA SUFI


Seseorang bertanya kepada Hazrat Syaikh Abul Hasan as Syadzili, dengan pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah yang disebut minuman Cinta?

2. Apa gelas piala Cinta?

3. Siapa sang peminum?

4. Apakah rasa minumannya?

5. Siapakan para peminum sejati?

6. Apakah rasa segar minuman?

7. Apakah yang disebut mabuk Cinta?

8. Apa pula sadar dari mabuk itu?

Hazrat Syaikh Abul Hasan as Syadzili menjawab :

Minuman Cinta adalah Cahaya yang cemerlang berkalian dari Kemahaindahan Sang Kekasih.
Gelas pialanya adalah kelembutan yang menghubungkan ke bibir-bibir hati.Sang peminum adalah pihak yang mendapat limpahan agung kepada orang-orang istemewa seperti para Auliya dan hamba-hambaNya yang saleh. Allah Yang Maha Tahu kadar kepastian dan kebajikan bagi kekasih-kekasihNya.
Sang Peminum adalah pecinta yang dibukakan keindahan cinta itu dan menyerap minuman nafas demi nafas jiwa.

Rasa minuman adalah rasa dibalik orang yang terdendam rindunya ketika hijab diturunkan.
Sang peminum sejati adalah pecinta yang meneguk arak cinta itu, sejam dua jam.

Rasa segar peminuman cinta adalah bagi orang yang dilimpahi arak cinta dan terus menerus meminumnya hingga kerongkongan penuh sampai ke urat nadinya. Cahaya Allah ada dibalik minuman yang melimpah itu.
Mabuk Cinta adalah ketika seseorang hanyut dalam rasa dan hilang akal, tidak mengerti apa yang dikatakan dan diucapkan padanya.

Sadar dari mabuk cinta, adalah situasi sadar ketika gelas piala minuman cinta dikelilingkan, di hadapan mereka berbagai kondisi ruhani silih berganti, lalu kembali pada dzikir dan ketaatan, tidak terhijabi oleh sifat-sifat dengan berbagai ragam kadar yang ada, itulah yang disebut sebagai waktu sadar cinta, ketika pandangannya meluas melintas batas dan pengetahuannya semakin bertambah.

Mereka berada di bintang-bintang pengetahuan, berada di rembulan Tauhid, untuk menjadi petunjuk ketika malam menjadi gulita. Mereka dengan matahari ma'rifat, mencerahi padang harinya. Mereka itulah yang disebut Hizbullah (Pasukan-pasukan Allah) dan ingatlah bahwa Hizbullah itulah yang menang."
(Al-Mujadilah: 22)

Cinta Dan Rahmat Allah
1.) Layak mendapatkan cinta-Ku bagi orang yang saling mencintai karena-Ku. Orang yang saling mencintai karena-Ku(di hari kiamat) akan ditempatkan di menara dari cahaya, tempat yang diingini oleh para nabi, orang-orang yang benar dan para syuhada (Shahih jami)

2.) sesungguhnyha Alloh ta'ala berfirman pada hari kiamat: Mana orang yang saling mencintai karena kebesaran Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka pada saat tidak ada naungan selain naungan-Ku (HR muslim)

3.) Siapa yang ingin merasakan lezatnya iman maka cintailah seseorang hanya karena Alloh (HR Muslim)

4.) Abu hamzah , anas bin malik ra. menerangkan bahwa rasulullah saw bersabda, "tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR bukhari dan muslim)



CINTA & RAHMAD ALLOH SAW


1. Dari umar bin khathab ra ia berkata ; beberapa orang tawanan dihadapkan kepada rasulullah saw , tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya, setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu diangkatn dan disusuinya. Kemudian rasulullah saw bertanya; Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api ? Kami menjawab; Demi Alloh tidak; beliau bersabda; Alloh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan itu kepada anaknya (Hr Bukhari dan muslim)

2. Dari abu hurairah ra. ia berkata ; rasulullah saw bersabda; tatkala Alloh menciptakan makhluk, ia menulis pada suatu kitab,, kitab itu berada di sisiNya di atas "Arasy, bertuliskan ; Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku (Hr Bukhari dan muslim)

3. Dari Abu hurairah ra. ia berkata ; saya mendengar rasulullah saw bersabda; Alloh telah menjadikan rahmat itu seratus bagian. sembilan puluh sembilan ditahan disisi- Nya, satu bagian Ia turunkan ke bumi, dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya; 

Dalam riwayat lain dikatakan rasulullah saw bersabda; sesungguhnya Allah mempunyai seratu rahmat dan ia menurunkan satu di antaranya itu untuk jin, manusia binatang dan serangga. dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunya rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan . Alloh menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hambaNya (Hr Bukhari dan muslim)

4- “Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon cinta Mu, cinta orang-orang yang mencintai Mu, dan amal yang dapat membuatku memperoleh cinta Mu. Yaa Allah jadikanlah cintaku kepada Mu melebihi cinta terhadap diriku sendiri, keluargaku, dan melebihi cintanya orang yang kehausan terhadap air yang dingin.” (HR. Tirmidzi)

Cinta pertama adalah bagi diri sendiri. Bila dicerahkan, orang melihat manfaatnya yang sejati dan ia menjadi orang suci. Tanpa cahaya pencerahan, manusia menjadi egois hingga ia menjadi setan. Cinta kedua diperuntukkan bagi lawan jenis kelamin.

Bila demi cinta, ia bersifat surgawi; dan bila demi nafsu, ia bersifat duniawi. Bila cukup murni, cinta ini tentu dapat menghilangkan gagasan tentang diri sendiri, tetapi manfaatnya tipis dan bahayanya besar. Cinta ketiga diperuntukkan bagi anak-anak, dan ini merupakan pelayanan pertama bagi makhluk Allah.

Memberikan cinta kepada anak-anak, adalah memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang dipercayakan oleh Pencipta, tetapi bila cinta ini meluas hingga mencakup seluruh ciptaan Allah, hal ini mengangkat manusia menjadi orang-orang pilihan Allah.

CINTA DAN ROHMAH ALLOH SWT



1.) Layak mendapatkan cinta-Ku bagi orang yang saling mencintai karena-Ku. Orang yang saling mencintai karena-Ku(di hari kiamat) akan ditempatkan di menara dari cahaya, tempat yang diingini oleh para nabi, orang-orang yang benar dan para syuhada (Shahih jami)

2.) sesungguhnyha Alloh ta'ala berfirman pada hari kiamat: Mana orang yang saling mencintai karena kebesaran Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka pada saat tidak ada naungan selain naungan-Ku (HR muslim)

3.) Siapa yang ingin merasakan lezatnya iman maka cintailah seseorang hanya karena Alloh (HR Muslim)

4.) Abu hamzah , anas bin malik ra. menerangkan bahwa rasulullah saw bersabda, "tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR bukhari dan muslim)

Rahmat Alloh

1. Dari umar bin khathab ra ia berkata ; beberapa orang tawanan dihadapkan kepada rasulullah saw , tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya, setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu diangkatn dan disusuinya. Kemudian rasulullah saw bertanya; Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api ? Kami menjawab; Demi Alloh tidak; beliau bersabda; Alloh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan itu kepada anaknya (Hr Bukhari dan muslim)

2. Dari abu hurairah ra. ia berkata ; rasulullah saw bersabda; tatkala Alloh menciptakan makhluk, ia menulis pada suatu kitab,, kitab itu berada di sisiNya di atas "Arasy, bertuliskan ; Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku (Hr Bukhari dan muslim)

3. Dari Abu hurairah ra. ia berkata ; saya mendengar rasulullah saw bersabda; Alloh telah menjadikan rahmat itu seratus bagian. sembilan puluh sembilan ditahan disis- Nya, satu bagian Ia turunkan ke bumi, dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya; Dalam riwayat lain dikatakan rasulullah saw bersabda; sesungguhnya Allah mempunyai seratu rahmat dan ia menurunkan satu di antaranya itu untuk jin, manusia binatang dan serangga. dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunya rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan . Alloh menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hambaNya (Hr Bukhari dan muslim)

4. “Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon cinta Mu, cinta orang-orang yang mencintai Mu, dan amal yang dapat membuatku memperoleh cinta Mu. Yaa Allah jadikanlah cintaku kepada Mu melebihi cinta terhadap diriku sendiri, keluargaku, dan melebihi cintanya orang yang kehausan terhadap air yang dingin.” (HR. Tirmidzi)

PENTINGNYA MENGENAL CINTA SAAT MEMASUKI WILAYAH SUFI



Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.



Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?

Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?

Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره

“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:

كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ

Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).



Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)




Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan CINTA TULUS yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…

, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

INI HANYALAH AWAL UNTUK MENGENALI ... KARENA HANYA DENGAN CINTA KASIH PANGGILAN HATI SEORANG SUFI MAMPU MELALULUI RINTANGAN DAN MEMBUKTIKAN DALAM KESETIAAN MENGABDI DENGAN KERELAAN KEPADA ALLOH SWT  & ROSULNYA ... SERTA MELAHIRKAN ADAB - ADAB YANG BISA DI JADIKAN CERMIN PARA SALIKIIN SEMUANYA .. 


======ooOOOoo ( Wallahu a’alam bisshowab )ooOOOoo=======

Senin, 30 Juli 2012

PESAN SYEIKH Mansur al-Hallaj





Tha... Sin... Kebenaran (Haqq) adalah Cahaya yang memancar dari Yang Ghaib
ia terlihat dan memancar, dan ia kembali kepada Yang Ghaib,
dan Kebenaran (Haqq) itu melampaui Segala Cahaya,
dan menjadi Cahaya di atas Cahaya
dan terang benderangnya memancar
ke seluruh bulan,
titiknya yang Paling Terang menjulang
ke angkasa yang dipenuhi oleh Segala Rahasia...
" Selanjutnya didalam Mansur al-Hallaj
menjelaskan tentang Nabi Muhammad dan Nur Muhammad
"Dan tak seorang pun mengetahui atau yang tahu apa
yang diketahuinya tidak pernah di luar
'Mim' Muhammad tidak ada jalan keluar bagi dia
demikian pula siapa yang bergerak di dalamnya
tidak pernah berada di luar 'Ha' Muhammad 'Ha'
mengarah kepada 'Mim' kedua dan huruf terakhir 'Dal'
membawanya kembali kepada 'Mim' yang pertama..."
(Mim Ha Mim Dal... Mim Ha Mim Dal... Mim Ha Mim Dal...)
Thasin 1:14, "Kebenaran (Haqq) bersama dengannya :
apa yang terbatas dan tidak terbatas pun
juga bersamanya
dalam Kejadian pun dialah yang pertama
dan dia jualah yang terakhir dalam rangkaian
kerasulan dia lah Makna Tersembunyi
dari Penciptaan dan dia jualah yang merupakan
Makna Terwujud dari Pengetahuan
tentang Esensi Kebenaran (Haqq) itu sendiri..."
Thasin 1:16 "Jika engkau meninggalkannya
dan pergi ke daerah-daerah yang jauh darinya,
maka engkau tidak akan menemukan Jalan
dan tidak seorang pun yang akan mendekatimu
Wahai, Jiwa yang Sakit !
Engkau tidak akan menemukan seseorang pun
yang akan menyelamatkanmu Kata Sang Bijak
dari Yang Paling Bijak dunia ini hanya bagaikan
padang pasir di hadapannya...
" Thasin 1:13 "Dan Kebenaran (Haqq) tidak membuat
Muhammad menciptakan sesuatu tentang siapa DIA,
siapa DIA : dan di mana DIA,
dan di mana siapa,
dan apa DIA... DIA, DIA... DIA... "

PENGERTIAN YAQIN

                                                                    




ما دمت انت انت فانت مريد فاذا افناك عنك فانت مراد  


MAA DUMTA ANTA ANTA FA ANTA MURIDUN, FA IDZA AFNAAKA 'ANKA FA ANTA MURODUN.

Selagi dirimu adalah dirimu semata, maka kamu seorang murid. Kemudian ketika Alloh swt mefanakanmu, maka kamulah yang di kehendaki.





Ketika hati Shohibul Yaqin (Pemilik Yakin) bergerak-gerak, maka keyakinannya berkurang. Apabila hati Shohibul Yakin merasa khawatir oleh suatu kekhawatiran, maka sempurna keyakinannya. Apabila hati pemilik iman bergerak-gerak dengan tanpa perintah, maka telah berkurang imannya. Dan bila bergerak-gerak dengan perintah ilahiyah dan menetapi perintah itu, maka telah sempurna imannya


Setelah manusia mengetahui & mengerti hakikat iman naik di lanjutkan pada pengertian yaqin
Keyaqinan pada tingkat makrifat (haqqul yakin) adalah berkonsepkan, tidak yang memberi dan tidak yang menerima, tiada yang menyembah dan tiada yang disembah, tiada sifat engkau dan tiada sifat aku, semua itu adalah semata-mata Yang Maha kuasa dan Meliputi.


Yaqin pada tingkat ma'rifat adalah yang berdasarkan kamil atau sejati atau sebati.
Kamil yang tidak berarti bersatu maupun bercerai tiada berkumpul dan tiada berpisah. Kamil yang dimaksudkan di sini adalah yang berarti satu.

Yaitu keyaqinan yang tidak membawa makna aku dan tidak juga kamu, keyaqinan yang terjadi pada tingkat ini, adalah pada tingkat wahdah (dualisme muhammad & alloh ta'yun tsani), atau hakikat muhammad. Keyaqinan ini telah melampaui Tingkat fana' bahkan ia telah berada di tingkat baqa'.

Apabila akal dan hatinya percaya dan yaqinn bahwa tiada yang ada, tiada yang wujud dan tiada yang maujud tetapi itu semua pada hakikinya adalah Dia (Alloh), maka inilah satu daripada tanda-tandanya salik itu telah sampai kepada matlamat yang dicarinya.

Selain daripada Dia semuanya ilusi belaka, yang ada hanyalah Dia semata-mata. Segala sifat, nama, kelakuan dan dzat adalah Dia semata-mata. Inilah pandangan dan pegangan mereka yang telah sampai ke tahap yaqin sepenuh yaqin.


خيره وشره من الله 


Baik buruknya sesuatu semuanya dari alloh.

Mereka mempunyai i'tiqod yang tinggi dan bulat, iatu sangat-sangat yaqin kepada apa yang dipegang oleh akal dan hatinya. I'tiqod mereka pada ketika itu adalah diri mereka sudah tidak ada lagi, segala yang ada, segala yang berlaku dan segala yang akan berlaku adalah semata-mata Dia.
Mereka hanya mahu bertawakkal dan berserah kepadaNya. Pasrah tanpa bimbang, ragu-ragu dan was-was.


Diri mereka sendiri telah dianggap binasa, apabila diri telah binasa, yang tinggal lagi bukan diri mereka, yang tinggal bukan lagi alam, bahkan hanya Dia semata-mata.Ini bukanlah bersatu dengan Alloh (hulul), tetapi hanyalah tawakkal atau berserah kepadaNya dengan dilandasi Ma'rifatullah.

Inilah pegangan mereka yang dikasihi-Nya sama ada mereka yang terdahulu ataupun pada masa sekarang ini. Mereka tidak menggunakan ilmu japa mantra, ilmu pengasih atau ilmu kebal apabila mereka berhadapan dengan sesuatu keadaan yang menhadang, tapi yang mereka ada adalah keyaqinan mereka kepada Alloh. Dan itu sudah cukup untuk menyelamatkan mereka dari bala' / bahaya di dunia dan akhirat.

Yaqin kepada kekuasaan Alloh semata, membuatkan mereka tidak merasa takut kepada bahaya yang ada di dunia ini atau di alam ghaib (akhirat), mereka tidak takut selain Alloh. Keyaqinan kepada Alloh itu, yang membuatkan mereka tidak berbekas oleh senjata tajam, pedang maupun peluru senapang dan sebagainya.


Keyaqinan hanya semata-mata Alloh itulah, yang membuatkan mereka berani, gagah, kuat dan selamat dari semua yang membahayakan diri dan jiwanya.

Ini bukanlah ilmu bersatu dengan Alloh, tidak mungkin kita dapat bersatu dengan Dia. Karena Dia itu esa jua. Tidak mungkin sesuatu yang esa dapat bersatu dengan yang lain, hanya yang lebih dari satu (esa) saja dapat bersatu, 


contohnya, kopi dan susu, dapat bersatu menjadi benda baru iaitu kopi susu. Tetapi jikalau hanya ada kopi saja bagaimana dapat ia bersatu menjadi kopi susu, kopi (esa) tetap kopi selama-lamanya.
Mereka yang mempunyai keyaqinan di peringkat ini, tidak memandang lagi kepada yang lain, tetapi hanya kepada Dia.


Mereka tidak lagi memandang alam sebagai alam, tetapi yang mereka pandang itu adalah Wujud Alloh “berserta” alam. Mereka tidak lagi melihat diri, sebagai diri, tetapi yang mereka lihat itu adalah Wujud Alloh “beserta” diri.

Bukan mereka menafikan kewujudan sifat alam atau sifat makhluk atau sifat diri, alam dan makhluk itu tetap ada buat sementara (walaupun hakikatnya tiada), tetapi mereka manggangap alam dan makhluk itu telah binasa dalam Wujud Alloh. Kalau dibuat analogi, mereka hanya tertuju kepada sifat manis, tetapi bukan tertuju kepada sifat gula.


Keyaqinan pada tingkat baqa' adalah satu keyaqinan yang tidak berubah-rubah lagi, salik itu yaqin dengan sepenuh-penuhNya yaqin, tidak satupun yang dapat menggugat keyaqinanNya.

Di lanjutkan pada perpaduan yang sehati selamanya, yang tidak berpisah antara nafi dan isbat. 
Kekal sifatnya seperti sifat api dan dengan sifat asap, sebagaimana matahari dan cahaya matahari, sebagaimana bayang-bayang dengan tuan yang empunya bayang-bayang.


Dilanjutkan sebagaimana tiada lagi yang menyembah dan tiada yang disembah, melainkan semata-mata Tuhan semesta alam, yang mutlak pada hakikatnya yang menyembah dan disembah.

KekalNya sifat manusia sebagai sifat makhluk, dan di lanjutkan pada sifat Tuhan sebagai sifat ketuhanan, tetapi di antara sifat manusia dan sifat penciptanya, tidak berpisah dan tidak bersatu, sebagaimana tidak bersatu dan tidak berpisahnya isbat dan nafi.


Konsep keyakinan tingkat ma’rifat ini adalah berlandaskan wahdah atau keesaan dalam wajah Maha Pencipta. Yang ada (yang membuat), yang Wujud (yang ada), dan yang maujud (yang dijadikan) hanya adalah Wujud Pencipta yang satu.

Tingkat keyaqinan kamil ini bukanlah sama dengan apa yang dikatakan konsep Manunggal (bersatu dengan Alloh), dalam pengertian singkatnya Manunggal itu adalah bergabung dua yaitu hamba dan Tuhan menjadi satu, konsep ini adalah konsep yang tidak benar, tidak sama dengan konsep yang dibawa Rosululloh, karena Islam berlandaskan konsep fana', yakni tiada yang lain hanya Alloh.

Konsep kamil bisa dianalogikan seperti berikut, tidak angka dua dan angka tiga dalam jumlah satu, angka dua, angka tiga, dan angka yang ke sejuta, dan angka yang ke sekian kalinya itu adalah tercantum dalam bilangan satu.


Untuk orang Ma'rifat walaupun seberapa banyaknya angka satu itu digandakan, ia tetap berwajah satu, walaupun begitu banyak manifestasi dzat dalam alam semesta, tetapi dzatnya tetap satu.

Sekali lagi disebutkan, salik yang berada di tingkat haqqul yaqin adalah berpegang pada keyaqinan tingkat wahdah, esa, atau tunggal. Alloh itu satu (esa) dalam sifatnya, namaNya, afaalNya dan dzatnya, yang bersifat itu hanya sifat untuk Alloh, yang bernama itu hanya nama bagiNya, yang melakukan itu hanya perilaku bagiNya dan yang berdzat itu hanya dzat bagiNya. Namun Dia tetap satu itu jua.

Ada antara mereka berdoa sekali saja dikabulkan Alloh, ….tetapi ada pula antara mereka yang berdoa berkali-kali tetapi masih tidak dikabulkan permintaan mereka.. apakah yang membuatkan permintaan mereka mendapat reaksi yang berbeda daripada Alloh.


Banyak yang menyalahkan Alloh karena tidak mengabulkan permohonan mereka, tetapi sebenarnya mereka yang lupa dan lalai karena salah pengertian dalam memohon / berdoa.

Bukan ayat yang dibaca itu yang sakti, tetapi pembaca itu , yang mempunyai keyaqinan yang tidak ragu-ragu , keyaqinan yang kuat itu akan menghasilkan kekuatan batin di dalam diri mereka…. kekuatan itu sejajar dengan keyaqinan yang mereka punyai… kekuatan batin ini pula akan menghasilkan getaran Rahasia Alloh (Sir) yang terdapat di dalam diri mereka, hasil dari pancaran Dzat Alloh, apabila getaran Dzat Alloh telah wujud dalam diri mereka, … maka mahluk dapat mewujudkan apa yang diminta …. PAHAMILAH INTI DOA BUAK MEMINTA NAMUN DI ANTARA ROJA' DAN SYUKUR ... YAITU UNGKAPAN KEADAAN DIRI DAN YAQIN AKAN JANJI-JANJI ALLOH ... SEMATA ... ITULAH HAKIKATNYA DOA ... WALLOHU 'ALAM 

Minggu, 29 Juli 2012

TERHIJAB DARI MAHLUK DAN HIJABNYA KEISTIMEWAAN KAROMAH

                                                                         


Sebenarnya apabila seseorang mengetahui aib orang lain otomatis akan timbul su'udzdzon (buruk sangka) kepadanya dan yang lebih bahaya lagi bahwa ia merasa dirinya lebih baik dari yang lain (takabbur) yang mana justru sikap ini akan menyeretnya kelembah kehancuran


Kebanyakan dari kita hanyalah melihat aib/keburukan dari orang lain dengan penglihatan mata kepala saja dengan tanpa disertai akhlak rohmah ilahiyyah ( kasih sayang ) maka hal ini akan sangat berpotensi pada munculnya fitnah bahkan kerusakan/bencana yang datang dari Alloh.


Dikarenakan yang menjadi tuntutan setiap hamba atas dasar hukum dan syari'atNya adalah berperilaku sopan santun dan beradab terhadap seluruh hambaNya dan mengaplikasikan husnudzdzon didalam qolbunya.


من اطلع على أسرار العباد ولم يتخلق بالرحمة الإلهية كان اطلاعه فتنة عليه وسببا لجر الوبال إليه


 Artinya : "Barang siapa yang telah mampu melihat rahasia-rahasianya hamba Alloh namun tidak berperilaku dengan Rohmah Ilahiyyah (kasih sayang yang bersifat ketuhanan), maka hal tersebut bisa menjadi fitnah baginya dan akan menjadi sebab yang mampu menarik bencana yang akan menimpanya "

 

 Setiap hamba jika mengetahui rahasia tabi'at kemanusiaan seseorang dan keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh hawa nafsunya, maka biasanya otomatis akan menimbulkan buruk sangka (Su'udzdzon) kepadanya, selama orang yang melihatnya tersebut tidak mampu menerapkan sifat Rohmah Ilahiyyah ( Kasih sayang yang bersifat ketuhanan). Padahal kalau saja ia ingat akan Rohmah Alloh yang begitu luas kepada hambaNya , maka ia tidak akan segera berburuk sangka kepada yang lain.



 1-Jika ia sedang mengetahui aibnya orang lain, ia harus bisa melupakan dan tidak mengi'tibar sesuatu yang menjadi tabi'at manusia serta harus mampu menerapkan akhlak karimah yang berupa rohmah ilahiyyah (kasih sayang).

 Dan ini merupakan perkara yang amat sulit untuk diimplementasikan bagi orang awam bahkan oleh orang-orang shiddiq sekalipun. Diriwayatkan, ada salah satu auliyaillah rohimahulloh yang terus memohon kepada Alloh agar ia dibukakan hijabnya sehingga mampu melihat hakikat rahasia manusia yang masih samar bagi orang awam.


Maka, pada suatu hari, ketika ia sedang memasuki suatu pasar, disitu ia diperlihatkan oleh Alloh bahwa kebanyakan wajah-wajah manusia yang berkerumun didalamnya menyerupai berbagai bentuk hewan, ada yang berbentuk kera, kerbau, sapi dan yang lainnya. Kemudian, karena wali tersebut tidak kuat melihatnya ia kembali memohon kepadaNya untuk tidak diperlihatkan lagi rahasia tersebut.


2-Seyogyanya, seorang hamba tetap dalam keadaan terhijab dari rahasia keburukan orang lain agar tidak menimbulkan fitnah yang kemungkinan besar mampu menggiring kepada kerusakan yang kembali kepadanya.

Perlu kita sadari, bahwa kita tidaklah terlahir dalam keadaan selalu suci / fitroh baik dhohir maupun bathin (selamat dari kesalahan/maksiat ) karena kita tidak ma'shum sebagaimana halnya Anbiya' yang terjaga dari maksiat. Kalau saja kita ini selalu bersih dhohir/bathin (tidak maksiat) maka kita tidak butuh mengadu kepadaNya atas kelemahan kita, dan tidak butuh akan maghfiroh dariNya, karena maghfiroh (ampunan) itu wujud karena adanya juga aib dan dosa.

 Lalu kalau seorang hamba tidak punya 'aib, bagaimana ia mau mengetuk pintunya Sang Ilahi, dan jikalau saja ia ma'shum maka berarti seorang hamba sudah merdeka (lepas) dari makna "Ubudiyyah lillah" yang telah disyari'atkan oleh Alloh, walaupun hakikatnya tidak akan bisa lepas dariNya memandang bahwa yang menjaganya dari 'aib adalah Alloh sendiri.

 Maka dari itu, hilangnya perasaan sadar akan lemahnya seorang hamba, hina dan banyaknya aib yang dilakukan serta perasaan selalu butuh ( Iftiqoor ilaih) akan ma'unah dan taufiq Alloh akan sangat berpotensi menghilangkan perasaan 'Ubudiyyah (menghambakan dri kepadaNya) yang bisa mengantarkan diri kedepan pintuNya. 


JANGAN TERSESAT PADA KEISTEMEWAAN LAHIRIYAH 


استشرافك ان يعلم الخلق بخصوصيتك دليل على عدم الصدق فى عبوديتك


Artinya : "Perhatian kamu agar makhluk tahu akan kekhususan (ibadah) mu merupakan dalil atas ketidak benaranmu dalam 'ubudiyyah ".

Hikmah ini masih berhubungan erat dengan hikmah sebelumnya, yang merupakan penjelas hikmah sebelumnya.

 Bahwa seorang hamba masih dikatakan sebagai orang yang pamer (مرائِيًا) walaupun ketika ia sedang beribadah tidak sedang disaksikan oleh orang lain dikarenakan perhatian dan keinginannya agar orang lain tahu akan kekhususiahan dan ibadahnya.

Kalimat (الاستشراف) adalah ungkapan yang berarti perhatian / pandangan nafsu kepada sesuatu hal (kesenangan-kesenangannya) dan mengharapkan akan hasilnya sesuatu tersebut.
Tidak ada sesuatu yang bisa mendorong hamba agar orang lain tahu akan kekhususiahannya dalam beribadah kecuali kesenangan nafsunya tersebut.

Dari sini bisa diketahui bahwa selama masih ada istisyrof (الاستشراف) didalam hatinya hamba yang sedang beribadah menunjukkan tidak adanya kejujuran dan kebenaran dalam 'ubudiyah kepada Alloh, karena apabila dikatakan sudah benar dalam 'ubudiyahnya maka samarnya ibadah dari manusia pastinya lebih lezat dari pada dhohirnya ibadah dihadapan manusia.

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abil Hawari :

من أحب ان يعرف بشيئ من الخير أو يذكر به فقد أشرك فى عبادته, لأن من خدم على المحبة لا يحب ان يرى خدمته غير مخدومه
.
Artinya : "Barang siapa yang senang akan diketahui / disebutkan kebaikannya, maka sungguh ia sudah menyekutukan Alloh didalam ibadahnya, karena orang yang berkhidmah atas nama mahabbah/cinta tidak senang apabila selain orang yang dikhidmahi tahu akan khidmahnya". 

Jadi, seorang hamba masih belum dikatakan benar dalam 'ubudiyahnya kepada Alloh subhanahu wa ta'ala kecuali jika ia sudah bisa menundukkan nafsunya kepada tuntutan-tuntutan ubudiyah kepadaNya dan memurnikan mahabbah/cintanya kepada Alloh serta menghilangkan perhatian dan perasaan ingin diketahuinya kekhususiahan ibadah oleh orang lain.

Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara hamba yang masih dalam awal suluknya kepada Alloh dengan yang sudah sampai pada derajat makrifat dan muroqobah kepadaNya, hanya saja sesugguhnya tuntutan-tuntutan dakwah (menyampaikan syari'at)lah yang mewajibkan bagi setiap muslim untuk berdakwah dengan tawadhu' dan ikhlas setelah ia mampu melepaskan diri dari istisyrof (الاستشراف) tadi.


Kemudian Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

من سن سنة حسنة فله أجرها, وأجر من عمل بها لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا


Memperlihatkan kekhususiyahan ibadah ini adakalanya dengan memperlihatkan amal ibadah dihadapan orang lain secara dhohir seperti riwayat diatas dan adakalanya dengan membicarakannya kepada orang lain setelah selesai melakukan amal tersebut.

Dalam dua haliyah ini seorang hamba harus selalu waspada dalam menjaga hatinya dari godaan syaitan dan kesenangan nafsu yang selalu ikut andil dalam merusak amal ibadah, lebih-lebih waspada akan munculnya istisyrof (الاستشراف)



Hikmah ini merupakan hikmah yang mengalasi hikmah sebelumnya yang menerangkan bahwa kenapa Alloh menghijab manusia dari rahasia-rahasia haliyah para hambaNya.

Dari hikmah ini tersirat jawaban bahwa diwajibkan bagi setiap insan untuk tetap beradab dalam bergaul dan berinteraksi dengan lainnya, sehingga husnudzdzon (baik sangka) kepada mereka selalu tertanam didalam qolbu, serta mengarahkan sesuatu pekerjaan apapun yang terlihat atau muncul dari mereka kepada neraca kebaikan.


Dari kalangan salaf sendiri banyak riwayat yang menceritakan tentang menyebutkan amal ibadah yang telah dikerjakan oleh mereka, diantaranya riwayat yang diceritakan dari Sa'd bin Mu'adz, beliau berkata :

ما صليت صلاة منذ أسلمت فحدثت نفسي بغيرها وما تبعت جنازة فجدثت نفسي بغير ما هي قائلة وما هو

مقول لها وما سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول قولا قط إلا علمت أنه حق.


Artinya : Saya tidak pernah sholat satu sholat pun sejak aku masuk Islam kemudian aku berbicara tentang selain sholat, aku tidak pernah ikut mengiring satu jenazah pun kemudian aku berbicara tentang selain Jenazah, dan sama sekali aku tidak pernah mendengarkan ucapan Rosul shollallohu 'alaihi wa sallama kecuali saya tahu bahwa sesungguhnya ucapan beliau adalah Haq (benar).

Diriwayatkan juga dari Sayyidina Umar bin Khoththob rodhiyallohu 'anhu, beliau berkata:

ما أبالي أصبحت على عسر أو يسر لأني لا أدري أيهما خير لي


Artinya : Saya tidak perduli apakah ketika menjelang pagi saya dalam keadaan sulit (payah) atau dalam keadaan mudah, karena sesungguhnya aku tidak tahu mana dari kedua haliyah ini (sulit dan mudah) yang lebih baik bagiku.

Beliau umar bin abdul 'aziz rohimahulloh juga pernah berkata :

ما قضى الله فيّ بقضاء قط فسرّني أن يكون قضى لي بغيره وما أصبح لي هوى إلا فى مواقع قدر الله


Artinya : "Alloh tidak memberikan kepadaku satu putusan pun, kemudian aku senang apabila Ia memberikan putusan lain selain keputusan tadi dan saya tidak merasa senang kecuali jatuh dalam lingkup qodarnya Alloh.

Semua riwayat ini merupakan dalil yang membolehkan memperlihatkan haliyah-haliyah yang terpuji, apabila haliyah tersebut keluar dari orang yang sudah menjadi qudwah hasanah, dan ia mengharapkan agar perilakunya ditiru bagi orang yang melihatnya. Maka dari itu pintu untuk memperlihatkan amal tidaklah tertutup.

Adapun sifat yang masih dikatakan riya' dan merupakan penyakit hati adalah (الاستشراف) istisyrofnya hamba yang sedang dikarunai oleh Alloh khususiyyah dan amal-amal ketaatan, ia ingin agar orang lain tahu akan muroqobahnya kepada Alloh, sebagaimana hikmah yang telah disampaikan oleh Ibnu 'Athoillah As Sakandary diatas.


Walloohu A'lam.

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila