TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Kamis, 02 Agustus 2012

RISALAH SEPUTAR TASAWUF




Sekitar Ilmu Tasawwuf dan ahli tasawwuf

Ilmu tasawwuf merupakan salah satu cabang dari lmu-ilmu Islam yang utama dan cukup penting meliputi diantara yang lainnya. Yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu ahlak. 

Ilmu tauhid bertugas membahas soal-soal i’tiqod, seperti i’tiqod mengenai ketuhanan, kerasulan, hari akhirat, dlsb. Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji, & lain sebagainya.

Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti ; bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu', muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. serta mengkaji hakikat syarat sahnya bertauhid.

Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqod, fiqih takluk kepada amal ibadah, dan tasawuf takluk kepada ahlak. Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya ber-i’tiqod sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid, supaya beribadah sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih, dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawwuf.

 tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa dan pembening hati, yang menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti ranah kehidupannya yang, pada dasarnya tidak pernah terlepas dari berbagia macam persoalan dalam kehidupan sehari-sehari . Tasawuf membimbing manusia dalam pengembangan kinerja ukhrawi dan sekaligus juga duniawi dan tidak terjebak oleh perkembangan zamannya.

Sudah mafhum difahami adanya ilmu-ilmu tersebut dalam agama kita.

Tentang dalil atau dasar-dasar landasan bahwa ilmu tasawwuf sebagai ilmu atau bagian dari tradisi islam awal (masa rasululloh SAW dan para sahabat), antara lain dapat diketahui dari mabadi :

1. Adanya ulama-ulama besar yang menjadi tokoh dalam ilmu ini, seperti Syeikh Hasan Bashri (wafat 110 H), Syeikhah Rabiah Adawiyah (wafat – 135 H),Syeikh abu muhammad ibnu al-'arobi , Syeikh Sufyan Tsauri (wafat – 161 H), Syeikh Ibrahim bin Adam (wafat – 161 H), Syeikh Syaqiq Al Balkhi (wafat – 195 H), Syeikh Ma’ruf Karkhi (wafat – 200 H), Syeikh Siri Siqthi (wafat – 297 H),Syeikh Al-Husain ibn Manshur al-Hallaj, Syeikh Dzin Nun Al-mishri (wafat 245 H), Syeikh Junaidi Al-baghdadi (wafat 297 H), Syeikh Abu Yazid Al-bushtomi, Syeikh Abu Thalib Al-makki (wafat 386 H), Syeikh Al-qusyaeri (wafat 465 H), Ahmad al-Faruqi al-Sahrandi ,Syeikh abdul karim al-jilli , Syeikh Athoo'illah assakandari ,Hujatul Islam Syeikh Abu Hamid bin Muhammad Al-ghozali (wafat 505 H), dll.

Beliau-beliau ini yang menggodog, merumuskan dan langsung membukukan ilmu-ilmu ini secara sistimatik. Serta sesudah kewafatan beliau-beliau, munculah ulama-ulama islam yang mengikuti jejak beliau-beliau itu dengan mengarang buku-buku atau kitab-kitab yang bertalian serta menjelaskan tentang pengalaman serta sudut pandang masing-masing dan semua saling menguatkan. Sehingga sampai sekarang kita dapat menikmati karya beliau-beliau itu dengan membaca kitab-kitabnya dan mempelajari pendapatnya sebagai cakrawala penerang HATI untuk mengenal DIRI yang sesungguhnya.

2. Sanad atau guru-guru tokoh tersebut tiada lain dari masa tabi’in adalah dari para shohabat seperti sayidina Ali KW, Sayidina Utsman ibnu Affan ra, Sayidina Umar ibnu Khotob ra, Sayidina Abu Bakar ra, dll, dari Rosululloh SAW, dari Malaikat jibril dan dari Alloh SWT agar selalu terjaga kemurnian serta disiplin ilmunya serta tidak asal berpendapat yang tidak bisa di pertanggung jawabkan karena sanad guru lebih afdhol dari pada sanad buku / kitab yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.

3. Adanya kitab-kitab yang tersiar dalam bidang ilmu tasawuf yang mu’tabar, Nahjul balaghoh (Saiyidina 'ali  RA) Fushususulhikam ,futukhah al-makiyah (ibnu-al-'arobi) Insan Kamil (abdul karim al-jilli) Al-Hikam (athoo'illah assakandari)  al : Ihya ‘Ulumuddin (Imam Ghozali), Mukhtasar Ihya ‘Ulumuddin (Al-Qasimi), Risalah Al-Qusyairiyah (Al-Qusyaeri), , dll.

4. Adanya -pengamal- atau pengikut ajaran ilmu tasawwuf ini yang sangat ta’at. Antara lain yang mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah dalam hal i’tiqod, syari’ah dan ahlak.

5. Bidang kajian teori ilmu ini seperti yang disebutkan di atas adalah bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti. Bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dan lain sebagainy. Landasan nya tiada lain Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW (Aqwal/hadits. Af’al, dan Taqrirot) serta atsar shohabat.

6. Hakekat Ilmu tasawwuf antara lain seperti yang dikemukan pendapat Ibnu Kholdun (wafat 1406 M), beliau berkata ; “Asal pokok dari ajaran tasawwuf itu adalah bertekun beribadah, berhubungan langsung kepada Tuhan, menjauhkan diri dari kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak suka pada harta dan tuah/pengaruh yang diburu orang banyak, dan bersunyi-sunyi diri dalam melaksanakan ibadat kepada Tuhan”.

Dari keterangan Ibnu Kholdun yg ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang tasawwuf itu adalah orang yang :
Tetap bertekun beribadat kepada Tuhan
Memutuskan pergantungan hatinya selain kepada Alloh taala
Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewahan duniawi
Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta benda dan pengaruh/tuah
Berkholwat atau bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadat.

Lalu Ibnu khaldun melanjutkan keterangannya : “Hal ini dilaksanakan oleh sahabat-sahabat Nabi SAW dan orang-orang Salaf, tetapi kemudian pada kurun ke 2 hijriyah, setelah orang-orang berebut-rebutan mengejar dunia, dan orang-orang sudah enak-enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang-orang yang tetap tekun beribadat sebagai sediakala dinamai dengan orang-orang Tasawwuf”.

Dari pandangan Ibnu Kholdun yang diberikannya secara global ini dapat diambil kesimpulan dan beberapa pengertian :

Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau beramal atau berbudi pekerti sesuai dengan Tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang Tasawuf bersumber kepada amal Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
Ajaran dalam Tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Qur’an dan Hadits dan amal-amal sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.

Dan pada kurun ke 2 H –orang-orang Islam boleh dikatakan sudah ada yang lupa daratan, sudah mewah-mewah, sudah berfoya-foya, sudah menumpuk-numpuk harta, sudah sombong menyombongkan diri, sudah banyak yang takabur-.

Sebagai reaksi dari keadaan itu banyak pula orang-orang Islam ingin tetap sebagai sediakala, sebagaimana yang diwariskan dari zaman Nabi SAW dan zaman sahabat-sahabat, yakni kehidupan sederhana.
Orang-orang inilah yang dinamakan orang Tasawuf atau orang sufiyah.

Ilmu tasawwuf itu tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah Nabi, dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Juga tidak bertentangan dengan syari’at lahir, tetapi berlainan lapangan. Andaikata ada kelihatan orang2 tasawwuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke masjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf. Tetapi tasawuf pura-pura, kalau tidak akan dikatakan orang sinting.

KHUTBAH NABI SAW MENYAMBUT RAMADHAN KARIEM



“Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Alloh telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathowwu’.”



“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Alloh dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”



“Romadhon itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Romadhon itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Alloh memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”



“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”



Para sahabat berkata, “Ya Rosulalloh, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rosululloh saw, “Alloh memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”



“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Alloh mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”



“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Romadhon; dua perkara untuk mendatangkan keridho'an Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat mengharapkannya.”



“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka. namun bagaimana kamu lalai dalam bias-bias surga dan neraka jika pertemuanmu dengan alloh dalam tauhidNya akan menghapus keduanya ”

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ زَادَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَخْبَرَنِي أَخِي قَتَادَةُ بْنُ النُّعْمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 



Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Abdurrohman bin Abdulloh bin Abdurrohman bin Abu Sha'sha'ah dari Ayahnya dari Abu Sa'id Al Khudzri, bahwa ada seorang laki-laki mendengar seseorang yang membaca QULHUWALLAHU AHAD (QS.Surat al-ikhlas), ia mengulang-ulanginya. Pagi harinya, ia menemui Nabi shollallohu 'alaihi wasallam dan mengutarakan kisahnya yang seolah-olah si laki-laki tadi menganggap terlalu remeh (sedikit) bacaannya. Spontan Rosululloh Shollallohu'alaihiwasallam bersabda: Sungguh surat tadi menyamai sepertiga alquran. Dan Ismail bin Ja'far menambahkan dari Malik dari Abdurrahman dari Ayahnya dari Abu Sa'id telah mengabariku saudaraku Qotadah bin Nu'man dari nabi shollallohu 'alaihi wasallam. 77.4/6826



 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ حَدَّثَنَا شَقِيقُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا نُصَلِّي خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَقُولُ السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 



. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Mughirah telah menceritakan kepada kami Syaqiq bin Maslamah berkata, Abdullah berkata, 'Pernah kami shalat di belakang Nabi shollallohu 'alaihi wasallam dan kami mengucapkan, 'ASSALAMU ALALLOHI (Semoga keselamatan atas Alloh) ', maka beliau berkata: 'Sesungguhnya Alloh adalah Assalaam', namun katakanlah olehmu sekalian:

'ATTAHIYAATULILLAH WA ASH SHALOWAATU WATH THOYYIBAT ASSALAAMU ALAIKA AYYUHANNABIYU WA ROHMATULLOHI WA BARAKAATUHU ASSALAAMU 'ALAINA WA 'ALA 'IBAADILLAHISH SHOOLIHIINA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAALLAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA RASUULUH

(Segala pujian milik Alloh', dan kesejahteraan serta segala kebaikan, semoga kesejahteraan atasmu wahai nabi shollallohu 'alaihi wasallam, juga rahmat Alloh dan barakah-Nya. Dan semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita, dan hamba-hamba Alloh yang sholeh, saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Alloh semata dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya) '. 77.11/6833



“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Alloh memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Berkata Dzun Nun Al-Mishri :

“Ciri-ciri orang yang mencintai Alloh ialah siapa yang mengikuti kekasih Alloh Nabi Muhammad SAW dalam ahlak, perbuatan, suruhan dan sunnah beliau“. 

“Kalau kamu melihat seseorang yang diberi karomah sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. .

Maka ahli Sufi yang tulen mesti menuruti ahlak, perbuatan, dan sunnah Nabi SAW. Andaikata kelihatan seorang Sufi melanggar syari’at, maka ia bukanlah ahli sufi.

Ajaran ilmu tasawwuf sudah jelas, tiada lain yaitu meliputi tiga hal unsur penting ,Islam, Iman dan Ihsan / ahlak. Landasannya sebagaimana sabda Nabi SAW 



عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ : رواه مسلم

Artinya : Dari Sayidina Umar bin Khottob ra, beliau berkata : “Pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasululloh SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak bahwa ia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu. Ia duduk berhadapan dengan Nabi SAW dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi SAW dan meletakkan tangannya di atas pahanya. Lalu ia bertanya ; Hai Muhammad, coba ceritakan kepadaku tentang Islam, Nabi menjawab ; Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad itu Rasululloh, engkau kerjakan sholat, engkau tunaikan zakat, engkau lakukan puasa bulan ramadhan, engkau naik haji kalau kuasa. Laki-laki itu menjawab, benar. Kami heran, kata Umar bin Khottob ra, Ia bertanya dan ia pula yang membenarkan.

Lalu ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tentang IMAN ya rosulalloh ??
Nabi menjawab secara Umum Iman ialah supaya engkau percaya kepada Alloh, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, hari akhirat dan percaya dengan takdir buruk baiknya. Ia menjawab, benar. Ia bertanya lagi ; Apa ihsan itu ?. Nabi menjawab ; Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka IA melihat akan engkau. Ia bertanya lagi ; Kapan hari qiyamah ?. Nabi menjawab ; Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tanda-tandanya!. Kalau sudah melahirkan budak akan tuannya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si penggembala kambing yang miskin.

Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Sayidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami : hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu ?. Jawab saya ; Tuhan Alloh dan rasul-Nya yang lebih tahu. Nabi menjelaskan ; Itulah Malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan agamamu’. (HR Imam Bukhari dan Muslim ; Syarah Muslim 1 ; 157-160).

Dalam memberi komentar Hadits ini, Imam Bukhari mengatakan bahwa ketiga-tiganya, yakni Islam, Iman dan Ihsan adalah Agama. (Kitab Hadits Bukhari 1 ; 15).

Hadits ini mengisyaratkan pada tiga unsur yang terdapat dalam agama Islam, yaitu Islam, Iman dan Tasawuf. Porsi Ihsan adalah ajaran muroqobah, tahalli, tajalli ; yang ada dalam tasawwuf. Upaya mensucikan diri, jiwa dan pikiran agar senantiasa dekat dicintai Alloh SWT.

pentingnya tasawuf dalam kehidupan sehari-sehari itu adalah cermin ahlak rosululloh saw . dan pentingnya ilmu tauhid dalam keseharian sebagai pengesahan antara batal dan tertolaknya setiap ubudiyahnya umat islam . semoga kita selalu belajar dan belajar dan jadikan hari-harimu sibuk dengan duniawi semata .....

=====================( ooOOOoo )==================

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila