TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Senin, 16 Juli 2012

Mengenal Thoriqot / tarekat kilas balik dari andalas


Thoriqoh al Mu’tabaroh di indonesia Dalam tasawwuf seringkali dikenal istilah Thoriqoh, yang berarti jalan menuju alloh , yakni jalan untuk mencapai Ridlo Alloh. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, Atthuruq biadadi anfasil mahluk, yang artinya jalan menuju Alloh itu sebanyak nafasnya mahluk, aneka ragam dan bermacam macam.

Kendati demikian orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena dinyatakan pula, Faminha Mardudah waminha maqbulloh, yang artinya dari sekian banyak jalan itu, ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. Yang dalam istilah ahli Thoriqoh lazim dikenal dengan ungkapan,Muâ’tabaroh. Wa ghoiru Muâ’tabaroh. KH.Ahmad zainal jinan wahhab menjelaskan, awalnya Thoriqoh itu dari Nabi yang menerima wahyu dari Alloh, melalui malaikat Jibril. 



Jadi, semua Thoriqoh yang Muâ’tabaroh itu, sanad(silsilah)-nya muttashil (bersambung) sampai kepada Nabi. Kalau suatu Thoriqoh sanadnya tidak muttashil sampai kepada Nabi bisa disebut Thoriqoh tidak (ghoiru) Muâ’tabaroh. Barometer lain untuk menentukan ke-muâ’tabaroh-an suatu Thoriqoh adalah pelaksanaan syariâ’at. Dalam semua Thoriqoh Muâ’tabaroh syariat dilaksanakan secara benar dan ketat. Diantara Thoriqoh Muktabaroh itu adalah : Thoriqoh Syathoriyah pertama kali dirintis oleh syekh Abdulloh As Syathor (w.1429 M). Thoriqoh Syathoriyah berkembang luaske Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan SyekhIbrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini diteruskan oleh Hamzah al-fansuri




Sufi, cendekiawan, budayawan dan sastrawan terkemuka pada pertengahan abad 16 dan awal abad 17 di kawasan Melayu-Aceh. Beliau juga dikenal sebagai sosok pelopor dan pembaharu, intelektual yang berani mengkritik para penguasa. Beliau juga memelopori penulisan risalah tasawuf secara sistematis dan ilmiah. Di bidang kesusastraan,

Syekh adalah orang pertama yang memperkenalkan syair puisi empat baris dengan skema akhiran sajak a-a-a-a. Beliau meletakkan dasar puisi dan estetika Melayu yang kokoh. Pengaruhnya sebagai penyair sufimasih kelihatan jelas hingga abad 20, terutama dalam karya sastrawan Pujangga Baru seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Dalam bidang tasawuf, Syekh Hamzah Fansuri adalah mursyid Tarekat Qadiriyyah. Ajarannya tentang wahdat al-wujud kelak ditentang keras oleh Syekh Nuruddin al-Raniri, yang menuduhnya sebagai ulama zindik.

Hamzah Fansuri di dalam Makkah

Mencari Tuhan di Bayt al-Ka’bah

Di Barus ke Qudus terlalu payah

Hamzah Fansuri di dalam Makkah

Mencari Tuhan di Bayt al-Ka’bah

Di Barus ke Qudus terlalu payah

Akhirnya didapat di dalam rumah

Tidak diketahui dengan pasti kapan dan di mana Syekh Hamzah Fansuri ini dilahirkan.



Namun dengan melihat pada nama gelaran di belakangnya diduga kuat beliau berasal dari Fansur, atau Barus, yang saat itu merupakan kotapelabuhan penting yang kerap dikunjungi para saudagar dan musafir dari negeri-negeri jauh. Juga tidak diketahui dengan pasti kapan beliau meninggal. Sebagian sarjana berspekulasi beliau masih hidup hingga zaman Sultan Iskandar Muda. Semasa hidupnya, Syekh Fansuri menyaksikan pergolakan dan pertikaian politik istana, hedonisme dan penyimpangan-penyimpangan dalam pengamalan ajaran Islam.



Pada masa Iskandar Muda, masa keemasan Aceh, tasawuf memang berkembang, tetapi kebanyakan hanya sekedar kegemaran dan “gaya hidup” tanpa penghayatan dan pengamalan yang mendalam dan benar. Pada masa Iskandar Muda, hedonisme dan kemewahan jauh lebih leluasa dibanding masa sebelumnya. Bahkan Sultan melakukan praktik meditasi menyambut datangnya bulan purnama, sebuah praktik dari tradisi Yoga pranayama.

Selain itu banyak penempuh jalan sufi yang bertindak keterlaluan, bertapa di hutan-hutan. Seperti dalam sebuah syairnya, beliau mengecam:Segala muda dan sopanSegala tua berhubanUzlatnya berbulan-bulanMencari Tuhan ke dalam hutan….Sidan thalib ke dalam hutanPergi uzlat berbulan-bulanDari muda datang berhubanTiada bertemu dengan TuhanBahkan tak lupa Syekh Fansuri juga mengecam dirinya sendiri,

yang barangkali pernah mengerjakan amalan serupa di masa mudanya:Hamzah sesat di dalam hutanPergi uzlat berbulan-bulanAkan kiblatnya picik dan jawadanItulah lambat mendapat TuhanHamzah sesat di dalam hutanPergi uzlat berbulan-bulanAkan kiblatnya picik dan jawadanItulah lambat mendapat TuhanPergi uzlat berbulan-bulanDari muda datang berhubanTiada bertemu dengan Tuhan KARYA AJARANNYA

Prosa dan puisi karya Syekh Fansuri yang masih tersisa tidak banyak. Adabeberapa karya diduga karya Syekh Fansuri tetapi diragukan keotentikannya Tetapi setidaknya ada tiga risalah yang dipandang asli karyanya, yakni Syarab al-Asyiqin, Asrar al-Arifin dan al-Muntahi.Syarah al-Asyiqin (Minuman Orang Berahi) berisi ringkasan ajaran wahdat al-wujud Syekh al-Akbar IBN AL-‘ARABI,

Shadr al-Din al-Qunawi dan Abd al-Karim al-Jilli, dan cara mencapai makrifat. Kitab ini terdiri dari tujuh bab – bab

1 sampai 4 menguraikan tahapan ilmu suluk (syari’at, tarekat, hakekat dan makrifat),

bab 5 tentang tajalli dzat Tuhan Yang Maha Tinggi (asas ontologi ajaran wujudiyyah),

bab 6 tentang sifat-sifat Allah, dan bab

7 tentang isyq dan sukr (kemabukan mistik). Kitab ini ditulis sebagai panduan untuk pemula dalam ilmu suluk.

Bab 5, yang berisi keterangan prinsip wujudiyyah, adalah bab terpenting dalam kitab ini yang menunjukkan pemikiran wujudiyyah Fansuri – kelak ajaran wahdat al-wujud ini, yang diteruskan oleh Syekh SYAMSUDDIN SUMATRANI - Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili menjadi kontroversi sengit dan bahkan dikecam habis-habisan oleh Syekh Nuruddin (lihat NURUDDIN RANIRI). 



Bab ini adalah ajaran tentang tajalli Tuhan, tentang martabat atau urutan tajalli Tuhan:Martabat la ta’ayyun, yakni keadaan di mana Dzat-Nya tak bisa dikenali oleh siapapun, ghaib mutlak, belum bertajalli. Akal, pembicaraan ilmu dan bahkan makrifat tidak akan menjangkau-Nya.

Bahkan para nabi dan wali pun tidak tahu (hairan). Maka Nabi berkata: Subhanaka ma’arofnaaka haqqon ma’rifataka (Maha Suci Engkau, tiada kukenal Engkau sebagaimana mestinya Engkau dikenal) dan tafakkaru fi khalqillahi wa la tafakkaru fi dzatillah (Renungkanlah ciptaan-Nya; jangan kau pikirkan Dzat-Nya).Martabat ta’ayyun awal (kenyataan pertama), yang berupa tajalliIlm (Pengetahuan), Wujud (Eksistensi), Syuhud (Menyaksikan), danNur (Cahaya).

Seperti dikatakan Syekh, karena Ilmu maka Tuhan adalah Alim dan Ma’lum (Mengetahui dan Diketahui); karena Wujud maka Dia adalah Yang Mengadakan dan Yang ada; karena Syuhud maka Dia adalah Yang Melihat dan Yang Dilihat; karena Nur maka Dia adalah Yang Menerangkan (dengan Cahaya-Nya) dan Yang Diterangkan (oleh Cahaya-Nya).

Martabat ta’ayyun tsani (atau ta’ayyun ma’lum), kenyataan kedua, di mana Tuhan menjadi dikenal. Yang dimaksud dikenal (ma’lum) di sini adalah a’yan tsabithah (entitas permanen), kenyataan dari segala sesuatu; juga dinamakan suwar al-‘ilmiyyah (bentuk yang diketahui) atau al-haqiqah al-asyya’ atau hakekat segala sesuatu di alam semesta, atau ruh idhafi (ruh yang terpaut)

Martabat ta’ayun tsalis (kenyataan ketiga) yakni ruh insan dan makhluk.Martabat ta’ayyun rabi’ dan khamis, kenyataan keempat dan kelima, yakni penciptaan alam semesta beserta seluruh makhluk.

Kitab Asrar al-‘Arifin adalah karya prosa Syekh Fansuri yang terpanjang, dan tidak ada duanya dalam khazanah sastra Melayu. Penulisannya diilhami oleh kitab Sawanah karya Syekh Ahmad al-Ghazali, Tarjuman al-Asywaq karya Syekh Ibn ‘Arabi, Lam’at karya al-Iraqi, dan Lawa’ih karya Jami. Isinya adalah telaah Syekh atas puisi ciptaannya sendiri.



Dalam kitab ini tampak keluasan ilmunya, seperti diindikasikan dalam perujukan-perujukannya pada sajak-sajak Syekh Ibn al-‘Arabi, Farid al-Din Athtar, Jalal al-Din Rumi, Ahmad al-Ghazali, Ayn al-Qudhat al-Hamadani, ‘Iraqi, Mahmud al-Syabistari, Junaid al-Bahgdadi dan Jami’ dan juga Mansur Al-Hallaj.

Kitab al-Muntahi merupakan karya paling ringkas tetapi mendalam. Kitab ini secara garis besar membicarakan tiga persoalan:

(1) kejadian alam semesta sebagai panggung tajalli Tuhan dan Kemahakuasaan-Nya.

(2) bagaimana Tuhan memanifestasikan Diri-Nya dan bagaimana ahli makrifat memandang alam semesta, serta bab tentang sebab pertama segala kejadian. 

(3) bagaimana seseorang dapat kembali ke asalnya, yakni keadaan kanzu makhfi (perbendaharaan tersembunyi). Dalam risalah ini pula Syekh Hamzah Fansuri menunjukkan kepiawaiannya sebagai penerjemah yang mumpuni. Tetapi kitab ini pula yang menjadi salah satu rujukan Syekh Nuruddin Raniri untuk mengkafirkan Syekh Hamzah Fansuri.

Menurut seorang peneliti, syair-syair Hamzah Fansuri yang penuh ajaran tasawuf itu memiliki sejumlah ciri menonjol, yakni:

(1) sajak empat baris dengan skema akhiran AAAA, atau disebut syair dalam kesusastaran Melayu

(2) dari struktur batinnya menunjukkan ungkapan perasaan fana, cinta Tuhan, kemabukan mistik,

pengalaman batin dan pengetahuan tasawuf yang diperoleh melalui ilham an kasyaf;

(3) terdapat banyak kutipan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an untuk fungsi religius dan estetis;

(4) terdapat isyarat atau perlambang kesufian seperti anak dagang, anak jamu, anak datu, anak ratu, orang uryani, faqir, thalib, asyiq dan lain-lain;

(5) ada ungkapan-ungkapan dan citra yang paradoks, hal yang lazim dalam sastra sufi

(6) ada syair yang memiliki kesamaan dengan baris-baris puisis sufi Parsi, semisal Iraqi. Hafiz, Rumi, Syabistari, al-Magribi dan Jami dan Athtar

(7) ada kata atau serapan kata dari Arab dan Jawa, kutipan Qur’an dan Hadits serta ucapan syathahat dari Sayyidina Ali, Bayazid al-Bisthami dan al-Hallaj.

Dari sudut pandang estetika, Syekh Hamzah Fansuri telah melaksanakan tuntutan licentia poetica (kebebasan penyair) secara utuh. Sajak-sajak Syekh Fansuri mencerminkan proses islamisasi kebudayaan Melayu pada abad 16.



Melalui Syekh Hamzah Fansuri bahasa Melayu naik kedudukannya menjadi bahasa paling penting di kepulauan Nusantara.



Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili aceh ke Nusantara,pamijahan tasik malaya ,papua, NTB,Tulungagung,jogja,dan jawa tengah lainnya kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanu al-Din & syeckh ke Minangkabau. Thoriqoh Syathoriyah sesudah Syekh Burhan al-Din & syamsu al-din assumathroni , berkembang pada 4 (empat) kelompok, yaitu;



1. Pertama silsilah yang diterima dari Imam Maulana.



2. Kedua, silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan.



3. Ketiga, silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan.



4. Keempat; silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa’ al-Qulub.



Thoriqoh ini berkembang di Minangkabau dan sekitarnya.Untuk mendukung ke1embagaan Thoriqoh, kaum Syathoriyah membuat lembaga formal berupa organisasi sosial keagamaan Jamâ’ah Syathoriyah Sumatera Barat, dengan cabang dan ranting- ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di propinsi-tetangga Riau dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya kelembagaan Thoriqoh Syathoriyah dapat ditemukan wujudnya pada kegiatan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan al-Din Ulakan. Sementara Thoriqoh Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada tahun 1850. Thoriqoh Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke 17, pintu masuknya melalui daerah Pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam dan Limapuluh kota.



Thoriqoh Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh syekh Jamalu al-Din, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum dia melanjutkan ke Bay'at al-Faqih, Aden, Haromain, Mesir dan India. Naqsyabandiyah merupakan salah satu Thoriqoh sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki, Bosnia- Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14,

Thoriqoh Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi Tsani (Pembaru Milenium kedua, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan Thoriqoh tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah.



Ciri yang menonjol dari Thoriqoh Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati (Sirri). Penyebaran Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah ditunjang oleh ulama ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah dan Medinah, mereka mendapat bai’ah dari Syekh Jabal Qubays di Mekah dan Syekh Muhammad Ridwan di Medinah.

Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu Hampar Payakumbuh (w. 1899 M), Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali Padang (w. 1936),

dan Syekh Muhammad Sai’d Bonjol. Mereka adalah ulama besar dan berpengaruh pada zamannya serta mempunyai anak murid mencapai ratusan ribu, yang kemudian turut menyebarkan Thoriqoh ini ke daerah asal masing masing Di indonesia ,,,, mengenang perkembangan thoriqoh dari andalas

Jumat, 13 Juli 2012

KAPAN DIMULAI PENYAKSIAN ITU

 
Ada Qo’idah dalam ilmu Tauhid : Bahwasannya “Awaluddin makrifatulloh, wakhiruddin nafi shifatu kamaaliyatil 'abdi wa itsbaatu amaaliyatillaahi ta'ala “

Awal beragama adalah mengenal Alloh Azza wa Jalla (makrifatulloh) , akhir 
beragama (mengfana'kan kesempurnaan mahluk & menetapkan kesempurnaan alloh semata) atau dalam kata lain tujuan beragama adalah muslim yang berakhlakul karimah atau 
muslim yang Ihsan atau muslim yang selalu meyaksikan Alloh (bermakrifat) dalam keadaan apapun.

Sedangkan anak kunci mengenal Alloh Azza wa Jalla adalah mengenal diri sendiri

من عرف نفسه فقد عرف ربه ومن عرف ربه ومن عرف ربه فقد ذهب نفسه اي فاني نفسه

, siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Alloh barang siapa mengenal alloh maka hilanglah dirinya (fana') 

Firman Alloh Taala :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

yang artinya "Kami akan memperlihatkan kepada mereka 
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah
Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu?" (QS. Fush Shilat 41:53 )

أَلا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ أَلا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ

"Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan, tentang pertemuan dengan Robb-mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu." – (QS.41:54)

Pengenalan diri bahwa pada hakikatnya semua manusia telah menyaksikan Alloh 
ketika mereka belum lahir ke alam dunia, pada keadaan fitri , sebelum panca
inderanya berfungsi.

Firman Alloh ta'ala

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

yang artinya, "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (QS- Al A'raf 7:172)

Setelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau
penyaksian terhadap Alloh.

Hakikat kata insan

(manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.
Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Alloh, ingin kembali menyaksikan Alloh.
Syarat untuk dapat menyaksikan Alloh adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia
firman alloh 

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan Alloh, maka merekalah orang-orang yang merugi." – (QS.7:178)

sabda nabi : 
'aroftu robbi birobbi  (lihatlah alloh dengan alloh)

Manusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat menyaksikan
Alloh dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik 
hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya
pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab)
dari menyaksikan Alloh. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Sebagaimana firman Alloh ta'ala

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلا

yang artinya, "Dan barangsiapa yang buta 
(hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula)
dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS Al Isra 17 : 72)

sabda nabi;

ومن لم يعرف بالله في الدنيا فكيف رايته في الاخرة وهي اضل سبيلا  

barang siapa tidak mengerti (ma'rifat) pada alloh di dunia ,bagaimanakah dia mau
melihat alloh di akhirat, itulah sebenar-benarnya tersesat dari jalan lurus

.أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (al Hajj 22 : 46)

Rosululloh shollalloohu 'alaihi wasallam bersabda, "Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit" (HR Ahmad).

Dan Jika belum dapat menyaksikan Alloh dengan hati atau belum mencapai ma'rifat,maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rosululloh shollalloohu 'alaihi wasallam bahwa "Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.' (HR Muslim 11)



Pada Hakekatnya; Syahadat merupakan proses penyaksian kita terhadap Alloh dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah Rosul kita.Namun ternyata dalam Syahadat tidak hanya itu saja,didalamnya masih terdapat makna yang harus kita pahami.Dalam Syahadat terdapat ma’rifat (kenal kepada Alloh),

Tauhid (mengesakan Alloh),Aqidah (tempat meminta hanya kepada Alloh).Tiga hal diatas bukan hanya sebagai slogan saja,tetapi bagaimana kita dapat mengamalkan nya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Syahadat sendiri terkadang hanya slogan saja,namun bagaimana menumbuhkan atau mengukir Syahadat didalam hati kita.

Sehingga kita dapat membawa dua kalimat Syahadat kemanapun kita pergi.Sesungguhnya Syahadat telah ada dari sejak mulai diciptakan nya ruh Nabi Adam as,ketika itu Nabi Adam as bertanya pada Alloh “Yaa Alloh,Tulisan apakah itu yang bersanding dengan nama Mu dan berada pada pintu taman Surga Mu?” Kemudian Alloh menjawab “itu adalah Muhammad yang akan menyempurnakan risalah Ku”.

Syahadat merupakan “Ruh” dari segala ibadah,karena tanpa dua kalimat Syahadat maka ibadah lainnya tidak akan terbawa.Alloh memberikan jaminan pada manusia yang memiliki Syahadat,dan akan memberikan surga kepadanya.Dalam Hadist Riwayatnya Rosul mengatakan “Barangsiapa yang membaca Syahadat setiap harinya,maka dia bagaikan manusia yang lahir ke bumi tanpa dosa”.

Oleh karena itu marilah kita bersama sama menancapkan dua kalimat Syahadat didalam hati kita,supaya hati kita senantiasa selalu berhadapan dengan Sang Khaliq.

Pengertian rukun 

1. Rukun Syahadat

Ada 4 rukun dalam syahadat yaitu:

Menetapkan dzat Alloh Ta'ala (berdiri dengan sendirinya)
Menetapkan sifat Alloh Ta'ala (berkuasa)
Menetapkan af'al Alloh Ta'ala (berbuat dengan sekehendaknya)
Menetapkan kebenaran Rosululloh SAW.

2. Syarat Syahadat

Ada 4 syarat dalam syahadat yaitu:

Memahami maksud syahadat.
Diikrarkan dengan lidah maksutnya dibaca dari permulaan hingga akhirnya.
Meyakini dalam hati maksutnya tidak ragu lagi dengan apa yang diucapkan.
Diamalkan dengan anggota badan, yaitu hati dan perbuatan wajib menolak segala sesuatu yang menyalahi arti dan maksut dari kedua kalimat syahadat tersebut.

3. Yang Merusak Syahadat

Ada 4 hal yang dapat menyebabkan rusaknya syahadat kita yaitu:

1. Menyekutukan Alloh
2. Ragu akan adanya Alloh
3. Menyangkal dirinya diciptakan oleh Alloh
4. Menyangkal bahwa alam semesta ini diatur oleh Alloh.

4. Macam-macam Syahadat

Syahadat macamnya ada dua yaitu:
Syahadat tauhid bunyinya: اشهد الا اله الا الله
  artinya : Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh

Syahadat Rosul Bunyinya : واشهد ان محمدا رسول الله
  artinya : Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Alloh

Lalu Bagaimana dengan Adam AS Kholifatullah..???

Makna sederhana dari kholifatullah adalah “pengganti Alloh di bumi”

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

"Ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'. Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih, dengan memuji Engkau, dan mensucikan Engkau'. Robb berfirman: 'Sesungguhnya, Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui'." – (QS.2:30)

Nabi Adam AS adalah kholifatullah, dengan pengertian bahwa ia sebagai kholifah (utusan Alloh) dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan hukum-hukum-Nya, kerana ia adalah utusan Alloh yang pertama.

Kholifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai kholifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Alloh selama manusia itu berada di bumi sebagai kholifatullah.

Abu Dzar bertanya kepada Rosululloh s.a.w tentang Nabi Adam: "Apakah ia sebagai nabi yang diutus?" Beliau menjawab: "Benar." Beliau ditanya: "Ia menjadi rasul bagi siapa? Sementara di bumi tidak ada seorang pun?" Beliau menjawab: "Ia menjadi rasul bagi anak-anaknya. ...Ila-liqo…. 

                                                                                (4)

PENDAHULUAN MA’NA SYAHADAT DALAM DIIN


BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Untuk mengawali kajian kitab bayanu al-diin di awali dengan kajian syahadat (penyaksian) sebagai & janji seorang muslim agar kiranya sebelum mengkaji kita selalu dapat menyaksikan & di syaksikan oleh alloh SWT ... dan selalu dalam bimbingan rosululloh SAW ... 

ومعني لااله الا الله لامعبود ولا موجود بحق الا الله

Wama’naa Laa Ilaaha Illalloohu 
Laa Ma’buda Bihaqqin Fil Wujuudi Illalloohu . 


Dan makna kalimat La Ilaha Illallahu yaitu tidak ada yg
disembah dengan sebenar-benarnya pada keadaan kecuali Allah .

 Kajian Ringkas :

Syahadat (Bahasa Arab: الشهادة asy-syahādah (dari kata شهد syahida, "(ia telah) menyaksikan") adalah pernyataan kepercayaan dalam keESAan Alloh dan Nabi Muhammad sebagai Rosul-Nya dan merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam

Syahadat adalah bagian yang fundamen atau fondasi utama dalam aqidah seorang muslim, dan karena syahadat ini memiliki nilai-nilai dan pengaruh yang besar dalam kehidupan serta pentingnya aqidah yang jelas dalam akal dan hati sehingga dapat melakukan ibadah kepada Alloh dengan hujjah yang nyata. 

Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mengenal lebih dalam makna syahadat itu
Makna syahadat ‘La Ilaaha Illallooh’ ( لا إله إلا الله ) adalah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Alloh SWT. 

Syahadat ini Mengandung pengertian meniadakan. ( pada kalimat Laa ilaaha ) Dan menetapkan. ( pada kalimat Illallaah )

Kalimat (لا إله) di dalam syahadat yang berarti ‘tidak ada tuhan’ merupakan bentuk nafyun atau peniadaan dan pengingkaran bagi seluruh sesembahan selain Alloh. 

Sedangkan kalimat ( إلا الله ) yang berarti ‘kecuali Alloh’ merupakan bentuk penetapan ibadah bagi Alloh semata, tidak ada sekutu baginya dalam ibadah, sebagaimana juga tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaanNya.

Alloh SWT berfirman: 


فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Alloh, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Alloh mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu. (QS: Muhammad: 19).

Dan dari Abi Sa’id Al Khudri RA beliau meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:


“Musa A.S berkata,”Ya Tuhanku! Ajarilah aku sesuatu yang dengannya aku bisa mengingatmu dan berdoa kepadaMu.” Alloh berkata, “Hai Musa! Sekiranya tujuh lapis langit dan ditempati selain aku, dan tujuh lapis bumi berada di sebuah piringan timbangan. Kemudian (kalimat) La Ilaaha Illallooh berada di peringan timbangan yang lainnya, maka pastilah piringan timbangan tersebut akan miring kepada kalimat ‘La Ilaaha Illallooh’. (HR. Ibnu Hibban dan Hakim).

“Ada tiga hal yang apabila ada pada seseorang dengannya dia akan merasakan manisnya iman; Alloh dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada yang lainnya, apabila ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Alloh, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia benci dilemparkan kedalam neraka. 

Alloh SWT memberitakan tentang sebuah kaum yang Dia timpakan azab kepada mereka karena mereka menolak untuk menerima kaliamat syahadah ini,dalam Firman-Nya di sebutkan:

فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

“Maka Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab''


إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

Sesungguhnya Demikianlah kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ


Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallooh" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh) mereka menyombongkan diri,

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?" (QS: As-Shoffat:33-36)


Dan dalam sebuah hadis Rosulalloh bersabda:
yang artinya:

“Perumpamaan ilmu dan hidayah yang Alloh mengutus Aku dengannya adalah bagaikan hujan deras yang jatuh ke tanah. Di antara tanah itu ada yang menyerap air sehingga menumbuhkan pepohonan dan rerumputan yang banyak. Dan di antara tanah itu ada yang gersang, menahan air sehingga Alloh memberikan kebaikan dengan air itu kepada manusia, maka minumlah mereka, menyiram dan menanam.

Dan ada (air) yang jatuh pada jenis (tanah) yang lain, tanah itu adalah Qii’aan, tidak menahan air dan tidak juga bisa menumbuhkan pepohonan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Alloh dan mendapatkan manfa’at dari apa yang aku diutus dengannya, lalu dia mengetahui dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang bodoh dan tidak menerima hidayah yang Alloh telah mengutusku dengannya.
seperti firman alloh :

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Alloh-lah kesudahan segala urusan. (QS: Luqman: 22).

وَمَنْ كَفَرَ فَلا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور

"Dan barangsiapa kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka, apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya, Alloh Maha Mengetahui segala isi hati." 

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Alloh-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Alloh akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Alloh mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS: Al-Baqoroh:284).

Mari kita berdoa kepada Alloh 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِير

"Rosul (Muhammad) telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Robb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rosul-rosul-Nya. (Mereka mengatakan): 'Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rosul-rosul-Nya', dan mereka mengatakan: 'Kami dengar dan kami taat'. (Mereka berdo'a): 'Ampunilah kami ya Robb-kami dan kepada Engkaulah tempat kembali'." 

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Alloh tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya, dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): 'Ya Robb-kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb-kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami, beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb-kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami, apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'." – (QS.2:286)

                                                                          (2)


RISALAH BAYAN AL-DIN WA AL-THORIIQOH

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي سيد االمرسلين وعلي اله وصحبه  الطاهرين الطيبين اجمعين ومن تبعهم باحسان الي يوم الدين وبعد وما توفيقي الا بالله عليه توكلت واليه انيب 

Alkhamdulillah syukur kehadlirat alloh swt yang telah memberikan hidayah pada al-faqir ini untuk menyelesaikan tafsir risalah bayan al-diin wa al-thoriiqoh ( penjelasan tentang agama & thoriqoh) peninggalan ulama-ulama' terdahulu,

Atas permintaan saudara'' pengamal thoriqoh semoga tafsiran al-faqir bisa menjadi petunjuk bagi saudara'' muslim dan saudara'' yang bingung dengan kemana mengkaji dasar'' agama islam dan thoriqoh 

بسم الله الرحمن الرحيم  


الحمد لله الذي فتح ابواب المشاهدات علي ارباب المجاهدات بمفتاح لا اله الا الله واحيا نفوس العارفين وملأ كؤوس

الذاكرين من اقداح لا اله الا الله احده سبحنه وأشكره اذجعلنا من اهل لا اله الا الله واشهد ان لا اله الا الله وحده لا

شريك له  شهادة تنجي قائلها اذا خاب اهل الشرك ونجا اهل لا اله الا الله واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسو له الذي جدد

الله به ما درس من معالم لا اله الا الله فصل اللهم علي عبدك ورسولك وحبيبك سيدنا محمد وعلي جميع اصحابه واله من اهل لا اله الا الله الطيبين الطاهرين وسلم تسليما كثيرا ابدا 

akhirnya hanya kepada alloh saya memohon ampun jika nanti ada tafsiran yang kurang bisa di mengerti karena keterbatasannya pemahaman dari al-faqir dan kepada saudara-saudaraku muslim semoga bisa memberi masukan-masukan / kritikan yang membangun agar dalam penulisan kitab ini ada kesalahan ,, semoga bisa menjadi rujukan-rujukan saudaraku semuanya dalam masalah pengertian tentang keimanan dan ubudiyah dalam islam .... 





الحمدلله رب العا لمين والصلاة والسلام علي سيدنا محمدواله واصحابه اجمعين  اما بعد
فاعلم  ايها العا شق ان الدين عند الله الاسلان الذي غير المغير
قال النبي صلي الله عليه وسلم لا دينا لمن لا ايمان له ولا ايمانا لمن لا حيا ء له ولا حياء لمن لا حشعه ولا حشوع لمن لا عقل له ولا عقل لمن لا فكر له ولا فكر لمن لا صح له ولا صح لمن لا عرف له ولا عرف لمن لا اسلام له  كما قال سيدنا علي كرم الله وجهه  اول الدين معرفة الله

puji syukur bagi alloh sang penyeru alam dari seluruh alam semesta raya ini ,sholawat ma'assalaam dari alloh selalu tecurahkan untuk junjungan kita mukhammad SAW  beserta keluarganya dan sahabat'' beliau  sebagai penerus ajaran beliau semuanya dan setelah itu al-faqir berpesan semoga tulisan ini bisa bermanfaat sebagai jalan penerang bagi saudara'' untuk mengenal diri dan alloh ,agar kiranya kita selalu mengikuti jalan'' yg telah di lalui sang rosul jati agar kita bisa memahami haqiqat asal muasal kita sebelum mengenal islam secara utuh dan kemana kita akan kembali.

ketahuilah saudaraku semua yg isyq billah syarat utama untuk mengenal agama itu wajib mengenal dulu alloh nya ''alloh'' dari kata AL ma'rifat dan ''ILAH'' sesembahan alloh adalah kumpulan dari pada seluruh dzat,sifat  dan nama diseluruh alam semesta yg menjadi asal muasal wujud kita yg menjadi awal yg tidak ada permulaan yg menjadi akhir dan tidak ada batasan yg menjadi warna dari seluruh warna yg ada yg menjadi arah dari setiap arah yg ada yg menjadi dhohir dari setiap bentuk yg ada yg menjadi batin dari setiap ghaib yg ada,DIA yg maha dari segala yg termaha yg meliputi disetiap makhluq nya dg kebersamaannya DIA menjadi penggerak pd setiap wujud-wujud yg ada,DIA yg tidak bermula yg tidak pernah lalai yg  maha pengasih dg segala kasih sayangnya, tiada kata / kalimah yg pantas untuk menggambarkannya untuk mengumpamakannya DIA yg maha wujud dari setiap wujud yg ada karena DIA kekal dalam keabadiannya selama lamanya ,

dalil di atas menyebutkan bahwasanya agama yg paling baik di sisi alloh adalah agama ISLAM
yaitu agama yg tetap dan tidak pernah berubah, pengertian ISLAM di sini adalah pasrah dan selamat ,sallama yusallimu tasliiman ,apanya yg selamat yaitu selamat dari perkataannya ,tingkah lakunya ,fikirannya,hawa nafsunya,hatinya selalu bisa kembali pada DIA dalam keadaan apapun (انا لله وانا اليه راجعون ) seketika itu juga .


BAROKALLOH FIIKUM YAA ROBBAL 'ALAMIIN  

KEDIRI 

AL-FAQIR : M ALI ALBAIS ZEIN .

Senin, 09 Juli 2012

DO'A ITU BUKAN PERMOHONAN ,,, NAMUN UNKAPAN RASA SYUKUR DARI SEORANG HAMBA ... SELAMAT BELAJAR BERSYUKUR DARI HAL TERKECIL


لا يكن تأخر أمد العطاء مع الالحاح في الدعاء موجبا ليأسك فهو ضمن لك الاستجابة فيما يختاره لك لا فيما تختاره لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد



Janganlah do'a yang lama di kabulkan itu jadi penghalang, padahal engkau telah meminta dengan sungguh-sungguh menjadikan engkau putus asa, karena Alloh SWT pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya bukan sesuai dengan keinginanmu dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan pada waktu yang engkau inginkan .





Karena seorang hamba melakukan asbab-asbab dan meninggalkan pengaturan serta bertawakkal kepada Alloh SWT atas hasil-hasil asbab yang dia lakukan, maka dia dituntut untuk berdo'a kepada Alloh SWT secara bersih dari sifat thoma' & roja' serta tadbir .



Ini adalah merupakan bukti bahwa manusia adalah makhluk yang butuh kepada kholiqNya.bukan berarti alloh SWT itu butuh amal mahluk.



Alloh SWT telah berfirman di dalam surat Al-Mu'min ayat : 60 :



وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ



Artinya :



Dan alloh berfirman "Berdo'alah kepadaku, niscaya akan kuperkenankan bagimu semua".



Terkadang ada orang yang sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di dalam do'anya. Sehingga dia menyangka bahwa Alloh tidak menepatinya janjinya.



Perasangka ini adalah sebuah kesalahan yang sangat vital dan tidak bisa di tolelir lagi hal ini dikarenakan kebanyakan orang hanya meminta dengan mulutnya tersebut, dia tidak memahami makna dari do'a yang sesungguhnya dan syarat-syaratNya.



Meminta (tholab / roja') itu, belum bisa di katakan do'a, karena diantara do'a dan tholab terdapat perbedaan yang sangat besar.



Tholab adalah sifat dari suatu lafadz (kata-kata) yang di ucapkan oleh orang yang meminta. Sedangkan do'a adalah suatu ibarat yang menunjukkan tentang keadaan dan perasaan hati orang yang meminta.



Keadaan aqal & budi yang bisa menjadikan tholab disebut do'a hanya bisa terwujud dengan adanya dua persyaratan sebagai berikut :



sadarnya diri pada penerimaan hati dan perasaan dengan penuh rasa rendah diri dan tawadlu' di hadapan Alloh SWT.



Apabila hati belum sadar akan fungsiNya dan belum ada perasaan rendah diri dan tawadlu' kepada Alloh SWT, tetapi mulut hanya mengucapkan do'a (meminta) dengan kalimat-kalimat yang telah di hafalkan padahal hatinya lupa dan pikirannya melayang, maka permintaan ini belum bisa dikatakan do'a melainkan hanyalah sebuah tholab / roja'. Atau bisa disebut do'a secara lughowi yakni do'a yang dikehendaki oleh ahli lughot arab ketika berbicara tentang kalam khobar dan kalam insya'.



Jadi ketika seseorang dengan hati yang tertutup dan tidak ada rasa tawadlu' maka bagaimana mungkin permintaan itu dikabulka????





Demikian pula banyak sekali di jumpai orang yang sedang memiliki impian-impian dan harapan-harapan dunia dan dia yakin bahwa impian-impian tersebut akan terwujud ketika dia berdo'a dengan do'a-do'a khusus yang bila seseorang meminta kepada Alloh dengan do'a-do'a khusus tersebut, pasti akan dikabulkan.



Maka diapun berusaha mencari do'a-do'a tersebut dari kitab-kitab para ulama, para santri dan sebagainya. Setelah dia menemukannya maka dia akan menghafalkannya.



Do'a tersebut dia ucapkan berkali-kali, berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu padahal hatinya masih kosong dan dia berpaling dari perintah-perintah dan wasiat-wasiat Alloh SWT. Akhirnya setelah menuggu sekian lama, ternyata permintaannya tidak ada satupun yang dikabulkan oleh Alloh SWT. Akibatnya, diapun mengklaim bahwa Allsh SWT tidak menepati janjinya. Ini adalah salah satu kebodohan, karena dia tidak mengetahui ma'na do'a ,tholab,roja' & thoma' yang sebenarnya.

Orang yang berdo'a harus bertaubat dengan taubat nasuha dari semua yang pernah ia lakukan dan menjadikan taubat ini sebagai penolong do'anya.



Adapun orang yang meminta kepada Alloh SWT, padahal dia belum bertaubat dan masih melakukan maksiat hati (syirik khofi), berarti dia adalah orang yang tidak bisa menggunakan akalnya dan pasti do'anya tidak akan dikabulkan.kalaupun di kabulkan itu hanya sebagai istidroj (hijab) agar semakin jauh dari jalan yang lurus .



Hal ini bisa kita analogikan dengan keadaan yang kita jumpai di masyarakat. Contoh kecilnya adalah sebagai berikut: Ada seseorang yang mengajukan proposal dan meminta bantuan kepada salah satu pejabat yang ada di kotanya, padahal orang tersebut masih memiliki permusuhan dengan sang pejabat.



Bila dia langsung mengajukan proposal dan meminta bantuan tanpa meminta maaf terlebih dahulu, pastilah sang pejabat tidak akan menyetujui proposal dan permintaaanya.



Ini adalah contoh kecil hubungan yang terjadi di antara sesama manusia yang mana status mereka adalah makhluk Alloh SWT. Maka bagaimana bila hal ini terjadi antara hamba Alloh yang hina dengan Dzat yang menguasai dan mengaturnya ?



Alloh SWT telah memerintahkan kepada Hamba-Nya untuk tidak mendustakan-Nya tetapi dia tidak memenuhi perintah tersebut. Lalu Alloh SWT menyuruhnya untuk bertaubat, namun dia tidak mau bertaubat.



Dan disaat kondisi seperti ini dia meminta kepada Alloh SWT sehingga Alloh SWT tidak mengabulkannya, ujung-ujungnya dia mengklaim bahwa Alloh SWT tidak memenuhi janji-Nya. Manusia seperti ini adalah manusia yang tidak berakal dan tidak memiliki adab terhadap sang kholiq, sebab permintaan yang dia ajukan hanyalah tholab dan tidak bisa dikatakan do'a yang disebut dalam firman Alloh SWT :



(وقال ربكم ادعوني أستجب لكم)



Doa untuk sendiri dan orang lain



Seseorang yang sudah melakukan 2 (dua) syarat taubat ini, maka ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri pasti do'anya akan di kabulkan.



Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak, maka seringkali do'anya tidak dikabulkan. Hal ini dikarenakan ketika dia berdo'a untuk dirinya sendiri maka sangat mudah bagi dirinya untuk bertaubat dan berhenti melakukan ma'siat.



Namun ketika dia berdo'a untuk masyarakat banyak maka syarat ini sulit untuk diwujudkan, karena di dalam masyarakat masih terdapat orang-orang yang berdo'a dan belum bertaubat. Sedangkan terkabulnya do'a untuk masyarakat itu digantungkan pada taubatnya orang yang berdo'a dan taubatnya masyarakat yang di do'akan.



Maka dari itulah engkau berdo'a untuk masyarakat agar Alloh menghilangkan kesusahan dan kemiskinan yang menimpa mereka hendaknya engkau mengingatkan mereka untuk bertaubat dari dosa-dosanya, bila mereka bisa bertaubat dengan taubat nasuha, maka do'amu pasti akan terkabulkan. Dan sebaliknya bila mereka belum bisa bertaubat dengan nasuha, maka janganlah engkau berharap do'amu akan dikabulkan.



Arti di istijabahi (dikabulkan )



Ketika syarat-syarat do'a ini sudah di penuhi maka Alloh SWT pasti akan mengabulkan do'a tersebut. Tetapi jangan engkau menyangka bahwa terkabulnya do'a (istijabah) itu sama persis dengan apa yang kamu harapkan. Karena istijabah yang dijanjikan oleh Alloh SWT kepada hambanya itu memiliki ma'na yang lebih luas dari apa yang engkau harapkan.



Istijabah ma'nanya adalah Alloh SWT mewujudkan tujuan dari permintaanmu dan bukan berarti tujuan tersebut bentuknya sama persis dengan apa yang engkau harapkan.



Contohnya ada seseorang yang meminta suatu pekerjaan kepada Alloh SWT karena dia menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa menyampaikan tujuannya dan merupakan hal yang terbaik baginya. Akan tetapi Alloh SWT mengetahui bahwa pekerjaan yang dia inginkan itu tidak akan mendatangkan kebaikan bahkan bisa menyebabkan kejelekan.



Lalu Alloh SWT mengganti pekerjaan tersebut dengan hal lain yang lebih baik dan bisa menyampaikan pada tujuan yang dia harapkan.



Alloh SWT berfirman dalam Surat Al-Baqoroh ayat : 216



كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [البقرة/216



Artinya :



Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Alloh mengganti sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqoroh ayat : 216)



Dan makna ini sudah di isyaratkan oleh Ibnu Atho'illah di dalam hikmahnya:



فهو ضمن لك الاستجابة فيما يختاره لك لا فيما تختاره لنفسك



Karena Alloh pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya, bukan sesuai dengan keinginanmu.



Bila kita amati, hal-hal seperti ini banyak terjadi di kehidupan kita. Banyak orang yang mengharapkan suatu pekerjaan dan menyangka bahwa pekerjaan tersebut bisa mewujudkan impian-impian dan cita-citanya.



Sehingga diapun berdo'a kepada Alloh agar memberikan pekerjaan tersebut. Namun setelah meminta dengan waktu yang lama ternyata yang dia harapkan tidak kunjung tiba, sampai-sampai dia menyangka bahwa Alloh SWT tidak mengabulkan do'anya. Tetapi pada akhirnya Alloh SWT menciptakan asbab-asbab lain yang bisa menghantarkan dia kepada cita-citanya.



Dan ketika dia berfikir dan mengamati asbab-asbab tersebut maka dia tahu bahwa asbab-asbab itu lebih baik dari pada pekerjaan yang dia inginkan sehingga akhirnya dia memuji pada Alloh SWT atas nikmat tersebut,nikmat ini adalah anugerah yang besar dari Alloh SWT dan sebuah keajaiban, karena sebelumnya seseorang memandang bahwa perkara yang dia harapkan itu adalah yang terbaik. Namun pada hakikatnya perkara tersebut berakibat buruk dan akhirnya diganti oleh Alloh SWT dengan hal yang lebih baik dan berguna baginya.



Sebuah kesalahan lagi yang terjadi pada sebagian orang adalah putus asa di saat berdo'a. ketika seseorang sudah dan memenuhi syarat-syaratnya, namun setelah menunggu beberapa minggu yang menurut dia seharusnya do'anya telah dikabulkan, maka hal ini menyebabkan diriya berputus asa untuk berdo'a.



Sehingga hati kecilnya berkata : "Aku sudah berdo'a dengan sungguh-sungguh namun belum juga dikabulkan".



Ini adalah sebuah kebodohan yang menyelimuti kebanyakan orang-orang yang ditimbulkan oleh rasa sangat menyukai impian-impian dan harapan-harapan yang mereka cita-citakan.



Bentuk kesalahan ini, karena mererka menyangka bahwa do'a yang telah di perintahkan oleh Alloh SWT adalah sebagai wasilah (alat) untuk sampai pada ghoyah (tujuan). Makanya do'a hanya dia gunakan ketika membutuhkan sesuatu atau tertimpa musibah. Dan bila hajatnya telah di penuhi dan musibahnya telah hilang, maka dia tidak butuh untuk berdo'a.



Persangkaan yang keliru ini akan membawa seseorang dalam kesedihan yang mendalam ketika dia telah berdo'a, namun dalam waktu yang dia harapkan ternyata do'anya belum dikabulkan. Sehingga dia yakin bahwa do'a yang telah dia ucapkan berkali-kali tidak ada faedahnya sama sekali.



Dan hal ini bisa menyebabkan dia putus asa dalam berdo'a. ini semua karena dia memandang bahwa do'a hanyalah sebatas wasilah. Padahal sebenarnya dzatiyanya dari do'a adalah sebuah ghoyah tersendiri.



Manusia adalah seorang hamba yang dimiliki oleh Alloh SWT. Oleh karena itu di dalam setiap detiknya pasti dia membutuhkan Tuhannya di dalam menghadapi semua problem yang bermacam-macam.



Diantara tugas hamba yang terpenting adalah memperlihatkan ubudiyyahnya kepada Alloh SWT. Hal ini bias dilakukan dengan cara membuktikan bahwa dia sangat butuh kepada-Nya, dan dengan memperlihatkan bahwa kehidupannya, kebahagiaannya itu tergantung pada penjagaan Alloh SWT. Perwujudan ubudiyyah ini bias dilakukan dengan berdo’a baik dia menyangka bahwa do’anya ini akan berpengaruh ataupun tidak.



Alloh SWT berfirman :



وقال ربكم ادعوني أستجب لكم



Ayat tersebut mengandung perintah kepada manusia agar memiliki sifat ubudiyyah kepada Allah SWT, yaitu pada kalimat أدعوني .



dan perintah ini adalh perintah yang mutlak tanpa ada qoyyid tertentu dan tidak di hubungkan dengan syarat.



Selain itu ayat tadi juga mengandung janji yang menunjukkan sifat rahmat Alloh SWT kepada hambanya dengan memberi anugerah yang tidak terhitung yaitu pada kalimat



استجب لكم .



Antara dua hal yang di kandung ayat tersebut tidak ada hubungan yang slaing mengikat. Maknanya, janji tersebut timbulnya bukanlah dari doa tetapi dari rahmat Alloh SWT. Namun banyak orang yang mengira bahwa ketika dia berdo’a, maka dia telah membeli istijabah.



Rosululloh SAW, bersabda :



يستجاب لأحدكم مالم يعجل , يقول : قد دعوت فلم يستجب لي



Artinya :



Salah satu diantara kalian pasti dikabulkan do’anya selama tidak tergesa-gesa. Dia berkata: saya telah berdo’a tapi belum juga dikabulkan.



Maksudnya dari hadist di atas adalah seseorang akan di kabulkan do’anya selama dia tidak menyangka bahwa dia memiliki hak yang harus di penuhi oleh Alloh SWT yaitu sitijabah dan selama hatinya tidak berkata : “saya sudah berdo’a, tetapi kenapa saya belum memperoleh hak saya yang berupa istijabah”.



Jadi ubudiyyah (do’a) dan istijabah adalah dua perkara yang berbeda dan tidak ada keterkaitan. Do’a adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang hamba sebagai perwujudan ubudiyyah di hadapan Alloh SWT, tanpa memandang dari hasil yang di dapatkan dari do’a tersebut.



Rosululloh SAW, bersabda :



الدعاء هو العبادة



Do’a adalah ibadah”.



Sedangkan istijabah adalah anugerah dan karunia dari Alloh SWT, bukan hasil dari do’a .namun wujud rasa syukur seorang hamba menerima keadaan dan menjalani ketentuan yang ada tanpa adanya keinginan terlepas / keluar dari keadaan tersebut.



Kesimpulannya, jalan yang wajib di tempuh oleh seorang muslim adalah menunjukkan bahwa dia butuh kepada Alloh SWT di dalam setiap keadaan. Dan memperlihatkan hal itu dengan tawadlu’ dan rendah hati tanpa memandang hasil-hasil yang akan di peroleh, tetapi dia harus yakin bahwa dengan sifat rohmat dan ihsan-Nya akan mengabulkan do’a-do’anya.



Adapun hikmah diakhirkannya istijabah itu adalah melatih seseorang hamba untuk memahami makna yang terkandung di dalam ayat .



ادعوني استجب لكم ,



dan supaya mengerti bahwa isijabah itu bukanlah hal yang wajib ada ketika seseorang berdo’a, melainkan istijabah adalah murni anugerah Alloh SWT. Sehingga do’a dan penantian istijabah dengan kesabaran dan tenang menjadi bagian dari ibadah. Bahkan bisa menjadi kunci dan ruh ibadah.



Rasulullah SAW, bersabda :



انتظار الفرج عبادة



Artinya :



Menanti kelapangan adalah ibadah.



Penjelasan di atas adalah makna dari juz akhir yang terdapat di dalam hikmah ini yaitu :



وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد



Alloh akan mengbulkan do’a pada waktu yang alloh kehendaki sendiri, bukan pada waktu yang engkau inginkan / harapkan . itu adalah muthlaq







وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

. Dan kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu Telah kami terangkan dengan jelas.

"Janganlah hatimu mengatur urusan yang sudah diatur oleh Allah SWT". Dan juga menjelaskan keselarasan hikmah ini dengan hikmah lainnya yang yang bermakna "Keinginanmu pada maqom asbab adalah menuruti hawa nafsu yang samar"...


walloohu a'lam ... 'alaa dzaalik .................

PENGERTIAN TENTANG ATURAN DALAM SYARI'AT ,THORIIQOT,MA'RIFAT, HAQIQAT


القائم مع الشريعة تفضل عليه بالعلم والعمل والقائم بالطريقة تفضل بالمجاهدة والجماعة والقائم مع المعرفة تفضل بالمشاهدة والمكاشفة والقائم بالحقيقة تفضل عليه بالمنّة لله وشتَان بين العلم والعمل والجاعة والمجاهدة والمشاهدة و المكاشفة والمنة لله



AL QOOIMU MA’AS SYARI’ATI TAFADDLOLU ‘ALAIHI BIL ‘AMALI WAL AL QOOIMU BITTHORIIQOTI TAFADDOLU ‘ALAIHI BIL MUJAAHADATI WAL JAMAA'AH, WAL QOOIMU BILMA’RIFATI TAFADDOLU ‘ALAIHI BIL MUSYAAHADAH WALMUKAASYAFAH WAL QOOIMU MA’AL HAQIQOTI TAFADDOLU ‘ALAIHI BIL MINNATI, WA SYATTAANA BAINAL MUJAHADATI WAL MINNATI LILLAH





Adapun orang yang beribadah dengan syari’at itu bisa bermanfa'at jika memakai ilmu yang di amalkan, Adapun orang yang mengikuti (masuk) thoriqoh itu lebih utamanya dengan tatacara bermujahadah (sungguh-sungguh) dan berjama'ah , Adapun orang yang berubudiyah dengan MA'RIFAT itu lebih utamanya dengan menyaksikan alloh dan terbukanya beberapa rahasia hati (kasyful asror) adapun seseorang yang berubudiyah dengan HAQIQAT lebih utamanya dengan pemberian Alloh semata (Ridho) bagi alloh .dan sangatlah jauh banget perbedaannya antara Ilmu,amal,mujahadah (sungguh-sungguh) , jama'ah ,musyahadah , mukaasyafah dengan MINNAH (pemberian Alloh swt) BAGI ALLOH semata.....



الأعمال متعلق بالشريعة والطريقة متعلق بالعلم والمعرفة

متعلق بالايمان والمكاشفة والحقيقة متعلق بالله لله فقط





Adapun beberapa 'amal itu bergantung dengan syari’at, dan thoriqoh itu bergantung pada 'Ilmu,dan Ma'rifat amal serta ilmu itu bergantung dengan iman dan terbukanya rahasia hati, dan Hakikatnya Iman serta kasyaf itu bergantung pada ALLOH dan bagi alloh (terbukanya pengetahuan ilahiyah)





mari kita aplikasikan dengan pertanyaan UMUM SEMATA



كيف تطلب العواض على عمل هو متصدق به عليك بالواجبة ؟





أم كيف تطلب الجزاء على صدق هو مهديه إليك بالعمل ؟





"Bagaimana bisa kamu ingin meminta suatu ganti (imbalan) atas kebenaran ibadah / perbuatan wajib yang telah dilakukan, sedangkan hal itu merupakan shodaqoh yang telah Alloh berikan kepada hambanya ???.



Dan bagaimana bisa kamu meminta suatu balasan pahala atas kebenaran amalmu, sementara kita bisa melakukan segala amal ini sebab adanya pemberian anugrah dari Alloh ???



JAWABANNYA ADA PADA DIRI KALIAN MASING-MASING .... APA ITU IBADAH WAJIB & SUNNAH ???

SERTA AMAL KEBAIKAN YANG KITA LALUKAN SEHARI-HARI INI TELAH IKHLAS ... SEDANG KEIKHLASAN ITU ADA SEDIKIT HARAPAN DI KEMUDIAN HARI .... ???



PEMBAGIAN AMAL SECARA GARIS BESAR



1- Ummiyyah Umniyyah adalah mengharapkan sesuatu tanpa ada usaha. Sedangkan tujuan yang diharapkan tidak akan berhasil tanpa adanya suatu usaha yang memerlukan tenaga baik itu secara bathin ataupun dlohir. Sedangkan yang dimaksud Shidqun disini ialah merupakan amal perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menetapi syarat sah ketentuanNya baik secara Ilmu & Amal.



Ketika kedua arti ini disatukan maka akan ada unsur dalam diri seseorang rasa ingin mendapatkan pahala atau pemberian dari Alloh subhanahu wata'ala atas amal yang telah dilakukannya, padahal amal tersebut adalah sebuah pemberian atau anugerah dari Alloh, jadi untuk apa kita meminta pahala kepadaNya sedangkan pekerjaan tersebut juga termasuk dari anugerah Nya. Hal ini juga sama dengan seseorang ketika ditanya tentang amal, apakah kamu ingin menjadi orang yang alim ?





jawaban yang pasti adalah INGIN.



Akan tetapi sewaktu ditanya apakah kamu mau menjadi orang yang benar- benar alim ..?





Dari pertanyaan kedua ada kalimat benar-benar yang menunjukan adanya tekanan kepada orang yang menjawab, maka dari itu hanya sebagian orang saja yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Alasan jawaban yang pertama adalah karena tidak adanya suatu beban dalam berusaha. Sedangkan alasan kedua disebabkan adanya usaha berat yang maksimal (banyak aturan) .





2- Raja' Raja' ialah mengharapkan sesuatu yang dibarengi adanya usaha dan terdapat konsekuensi dalam melakukan suatu perbuatan tersebut tapi dalam melakukan perbuatannya dia tidak mengharapkan pahala dalam berbentuk apapu kecuali hanya ingin bias mendekatkan diri kepada Alloh. Seperti yang dilakukan shahabat Nabi dalam mengerjakan amal yang dijanjikan Alloh,mereka melakukan dengan sungguh- sungguh...



سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا (الفتح : 23)



Artinya : "Sebagai suatu sunnatulloh yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatulloh itu". (Q.S. Al-Fath : 23)



Ayat ini menunjukan bahwasanya Alloh menegur kepada orang-orang yang menggantikan sunatulloh atau perintah Nya dengan hal yang baru, seperti yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang yang mempropokatori (dahwah amal) bahwasanya yang bisa mempersatukan umat islam bukanlah dari segi sholat jama'ah tapi dengan adanya organisasi seperti persatuan sepak bola, bulu tangkis dan lain-lain padahal tidak demikian,





Hadist nabi



اخبرني أبو عبيد مولى عبد الرحمن بن عوف ان ابا هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لن يدخل الجنة احدا عمله قالوا ولا انت يا رسول الله قال ولا انا الا ان يتغمدني الله منه بفضل ورحمة Artinya :



"Abu ‘ubaid seorang budak Abdurrohman Bin A'uf membawa berita kepadaku sesungguhnya Abu hurairoh berkata : "Saya pernah mendengar Rasulallah bersabda : "Tidak akan masuk surga seseorang terhadap amalnya, para shohabat berkata : "Bukan engkau wahai Rosulalloh. Rosulalloh menjawab : "Bukan saya, kecuali Alloh memberika atas perbuatannya keanugerahan dan kebesaran sifat rohimNya alloh semata





Dalam hadist tersebut rasulallah mempertegas bahwasanya amal perbuatan seseorang tidak akan bisa membawanya masuk surge Alloh kecuali dengan adanya kasih sayong Alloh dan anugerah Nya.



3- Zuhud





" إنما يستوحش العباد والزهاد من كل شيئ لغيبتهم عن الله في كل شيئ فلو شهدوه في كل شيئ لم يستوحشوا من شيئ "



"Sesungguhnya orang - orang yang tekun beribadah dan zuhud itu merasa asing dari segala sesuatu dikarenakan mereka tidak bisa menyaksikan Alloh di setiap sesuatu, jikalau mereka bisa menyaksikan Alloh ketika menemui sesuatu, maka mereka tidak akan merasa asing dari sesuatu tersebut".



Sebagian dari orang-orang yang tekun beribadah dan zuhud ada yang menyangka bahwa untuk membersihkan qolbu (hati) mereka diperlukan 'uzlah (mengasingkan diri) dari manusia dan gemerlapnya dunia. 'Uzlah mereka jadikan metode untuk mempraktekkan nilai kezuhudan, kemudian mereka mencari tempat-tempat untuk ber'uzlah seperti gua, gunung dan lainya supaya terhindar dari pengaruh negatif gemerlapnya dunia. Sebenarnya, apakah ini bisa dikatakan derajat yang tinggi yang seyogyanya dipraktekkan oleh hamba-hamba Alloh yang ingin mendekatkan diri kepada Alloh subhanahu wa ta'ala sehingga mampu meraih derajat Abror atau shiddiqin



(درجة الأبرار والصدقين) ?





yang di maksud Zuhud bukan berarti menyepikan diri dari kesibukan memandang gemerlap dunia lahiriyah tetap bersama-sama dengan manusia namun basyiroh & hatinya selalu bersama alloh SWT . kalo mengartikan bahwa bahwa Zuhut ber'uzlah kegua-gua, dan meninggalkan keindahan-keindahan dunia tidaklah menjadi jalan utama untuk beribadah dan berzuhud yang dimaksud oleh syara'

. Bahkan itu semua akan berdampak pada hancurnya bumi ini, tidak terwujudnya bumi yang subur, bangunan -bangunan rumah dan lain-lain. Dan yang paling bahaya adalah akan dikuasainya dunia ini oleh musuh-musuh Alloh (orang-orang kafir), dan ini semua sangat bertentangan dengan apa yang difirmankan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala : 



هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها فاسغفروه ثم توبوا إليه جإن ربي قريب مجيب (61





"Dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya*, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Hud : 61)



* Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia



هو الذي جعل لكم الأرض ذلولا فامشوا في مناكبها وكلوا من رزقه صلىوإليه النشور (15



" Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan". (Mulk : 15).

قل من حرم زينة الله التي خرج لعباده والطيبات من الرزق قل هي للذين امنوا في الحيوة الدنيا خالصة يوم القيمة كذلك نفضل الأيات لقوم يعلمون (32 





" Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alloh yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat*. " Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.



Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Alloh dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia Ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.



Menanggapi khilafiyah pertanyaan di atas mari kita pelajari keterangan dari ulama' al-'aarif billah





" إنما يأسرك من الدنيا تعلقك بها لا تعاملك معها, والمطلوب منك أن تتعامل معها لا أن تتعلق بها "



"Sesungguhnya yang bisa memenjarakan kamu adalah ketergantungan anda kepada dunia bukan interaksi (hubungan) kamu dengan dunia, dan yang menjadi tuntutan bagimu adalah supaya kamu berhubungan dengan dunia namun tidak bergantung kepadanya." Caranya tidak lain adalah dengan menjalankan factor-faktor yang bisa mengantarkan dan membuahkan mahabbah kepada Alloh



(محبة الله).



Adapun sebab yang paling pokok adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh dan muroqobah kepada-Nya serta ingat terus kepada Dzat yang memberikan anugerah nikmat-Nya kepada kita. Apabila metode ini diistiqomahkan maka akan sangat mudah untuk membuahkan nilai mahabbah yang hakiki kepada Alloh.



Ketahuilah bahwa mahabbah kepada Alloh itu sudah menjadi fitroh yang terpendam pada diri hamba-hamba Alloh, akan tetapi fitroh ini terhijab dengan adanya nafsu/sahwat yang selalu mengarahkan kepada kejelekan, akan tetapi dengan melanggengkan dzikrulloh akan tersingkaplah Mahabbah Robbaniyah



(المحبة الربانية) .



Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah kalau kita sudah cinta kepada Alloh apakah kita tidak di perbolehkan cinta kepada yang lainnya seperti halnya orang tua mencintai anaknya, suami mencintai istrinya, seorang muslim cinta kepada saudaranya ? Jawabannya adalah sesungguhnya orang yang hatinya diliputi rasa cinta kepada Alloh, maka tidak akan mungkin mencintai selain-Nya, adapun mencintai selain Alloh harus kita dasari cinta karena Alloh



(الحب في لله),



sedangkan mencintai selain-Nya dengan tidak didasari karena Alloh adalah salah satu bentuk dari syirik khofi



(الحب مع الله). Cinta kepada selain Alloh yang didasari karena Alloh



(الحب في لله)



Merupakan buah dari tauhid. Orang yang hatinya di penuhi mahabbah kepada Alloh, ia tidak memandang kepada sesuatu kecuali sesuatu tersebut mampu menjadikannya selalu ingat kepada Alloh, tidak hanya mengambil kenikmatan saja, namun dia mampu berinteraksi dengan dunia yang disertai penuhnya rasa cinta kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala. Sesungguhnya mahabbah kepada Alloh bisa menjadikan orang tersebut tidak melihat sesuatu kecuali hanya menyaksikan sifat-sifat Alloh yang indah serta rahmat-Nya yang luas. Dan maqom (derajat) ini hanyalah bisa dirasakan oleh yang selalu istiqomah dalam dzikir dan muroqobah (mendekatkan diri) kepada Alloh, derajat ini juga bisa disebut :



WAHDATUS SYUHUD (وحدة الشهود) ,



Melihat apapun bisa mengantarkannya ingat kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala .



seperti penjelasan para sahabat Saiyidina abu bakar as shiddiq ra



ما رأيت شئا الا رأيت الله قبله



aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali melihat alloh sebelum melihatnya (sesuatu)



Saidinaa utsman bin 'affan ra





ما رأيت شئا الا رأيت الله بعده







aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali melihat alloh sesudah melihatnya (sesuatu)



Saiyidina Umar al faruqi ra







ما رأيت شئا الا رأيت الله معه







aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali melihat alloh besertaan dengan melihatnya (sesuatu)

Saiyidina 'ali karromallohu wajhah ra ..







ما رأيت شئا الا رأيت الله قيه





aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali melihat alloh meliputi dalamnya (sesuatu)



KETERANGAN SELANJUTNYA MONGGO SILAHKAN DI TERUSKAN SENDIRI-SENDIRI PADA GURU MASING'' &

KALO ADA YANG KURANG BERKENAN MONGGO MASUKANNYA ,,, INI HANYA SEBUAH ULASAN DARI AL-FAQIR ...SEMATA DAN MENUQIL DARI BEBARAPA KITAB KARYA SUFI'' TERDAHULU ,,,

JIKA DALAM PENGARTIAN TAFSIR BAHASA KURANG BERKENAN KIRANYA DI MAKLUM KARENA MASIH KURANGNYA DIRI INI BELAJAR DAN MOHON DI BENARKAN ,,, BAROKALLOH FIIKUM LILLAAHI AL-'ALAMIIN 

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila