TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Senin, 23 Juli 2012

SADARILAH KEADAAN DIRI SELURUHNYA ...

                                       
اعلم عينك كلهم شرك خفي


I'LAM 'AINUKA KULLUHUM SYIRKUN KHOFIYU.


Ketahuilah bahwa keADAanmu Keseluruhannya adalah syirik yang samar

وما يبن لك توحيدك الا اذا خرجت عنك 

 WA MAA YUBAYYINU LAKA TAUHIDUKA ILLA IDZA KHOROJTA ‘ANKA.

 
Dan tauhidmu itu tidak akan bisa nyata bagimu kecuali kamu keluar dari dirimu sendiri.

كلما اخلصت يكشف لك انه هو انت تستغفر منك 

KULLAMAA AKHLASHTA YAKSYIFU LAKA ANNAHU HUWA LAA ANTA TASTAGHFIRU MINKA

Ketika kamu dapat melepaskan dirimu darimu, maka akan tampak bagimu bahwa sesungguhnya DIA adalah DIA, bukan dirimu yang mohon ampunan darimu.

وكلما وجدت نوعا منها بيان لك الشرك فتجده في كل وقة توحيد او ايمان 

 WA KULLAMA WAJADTA NAU’AN MINHA, BAYAANA LAKAS SYIRKU FATAJIDUHU FII KULLI WAQTIN TAUHIDUN AU IIMANUN.

Pada saat kamu temukan satu macam dari itu, maka syirik nyata bagimu; kemudian kamu temukan syirik itu pada setiap saat berupa tauhid atau iman

Berdasarkan beberapa keterangan diatas, Alfaqir mengemukakan juga selain manusia tersusun dari dua unsur yaitu jasad dan ruh atau materi dan imateri, ia berpandangan bahwa, akal (aql) dan hati (qolb) sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pencapaian ma’rifat.

Karena itu Al-faqir pempriortiskan keduanya untuk melakukan suluk agar jiwa dapat bersih dari ketergantungan materi, sebagaimana hikmah yang ditulisnya :

اُخْرُجْ مِنْ اَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِصٍ لِعُبُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَاءِاْلحَقِّ

مجُيْبًاوَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا.


Artinya : “keluarlah kamu dari sifat-sifat kemanusiaanmu (materi) yang buruk dari setiap sifat yang dapat merusak sifat kebudihanmu agar kamu berada untuk menyambut panggilan dzat yang haq (Alloh Swt.), dan dari kehadirat-Nya adalah lebih dekat.”

seperti contoh doa dalam hadist qudsi di bawah ini


اذ نب عبد ذنبا فقال : اللهم اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى

اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد

فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب

عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب

ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى

اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب قد

غفرت لعبدي فليفعل ما شاء.(الحديث)

Artinya :
Ada seseorang melakukan dosa lalu dia berdo’a :
Ya Alloh ampunilah dosaku. Lalu Alloh berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. 
Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. 

Lalu Alloh berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa.
Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa,
Lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Alloh berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memilik Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa.
Sungguh aku telah mengampui hambaku, maka hendaknya dia berbuat apa yang dia mau.

Semua penjelasan diatas juga bisa difahami secara terbalik (Mafhum Mukholafah) bahwa orang yang bertambah harapannya terhadap rahmat Alloh SWT ketika melakukan amal shalih, maka dia termasuk orang yang mengandalkan amalnya.

Hal tersebut bisa divisualisasikan dengan keadaan seseorang yang sudah tua yang selalu melakukan ibadah dan memperbanyaknya sampai-sampai dia merasa bahwa dengan ibadah yang banyak dia akan memperoleh pahala yang banyak dan pasti termasuk penghuni surga.
Adapun cara menjauhinya adalah dengan mengetahui bahwa hak-hak Alloh SWT yang wajib dilakukan hambanya tidak bisa dipenuhi dengan banyak atau sedikitnya taat. Seandainya hak tersebut bisa dipenuhi dengan taat, maka orang yang paling utama melakukan hal tersebut adalah para Nabi dan Rosul. Tetapi tidak ada satu pun Nabi dan Rosul yang menghubungkan harapan rahmat Alloh dan ampunan-Nya dengan taat dan ibadah mereka, namun mereka selalu mengharapkan ampunan Alloh SWT.

Mengenai Jiwa Dan Ruh Insani



Ketahuilah bahwa Alloh Taala menjadikan manusia ini terdiri daripada dua suatu yang berbeda iaitu:
Jisim yang gelap, tebal, termasuk di bawah kejadian dan kebinasaan (Al-Kun Wal-Fasad) yang tersusun, bersifat ketanahan yang tidak dapat melaksanakan urusannya melainkan dengan yang lain.

Jiwa Jauhari yang tunggal yang bercahaya, mencapai, bertindak lagi menggerakkan dan menyempurnakan alat-alat (alat-alat dalam badan manusia baik yang bersifat ruhaniah seperti Ruh Hewani, Ruh Tobi'e dan lain-lain atau bersifat jasmaniah seperti otak dan bahagian-bahagiannya dan lain-lainnya.

Alloh Ta'ala menyusun jasad-jasad dari bagian-bagian makanan dan menjaganya dengan bagian-bagian dzat makanan yang lebur menyerap ke dalam jasad, menyediakan asas, menyempurnakan anggota-anggota penting, menentukan anggota-anggota kaki dan tangan dan melahirkan jauhar jiwa dari urusan yang tunggal, sempurna menyempurna lagi memberi faedah.

Bukanlah saya ( syeikh Imam Ghozali) maksudkan ‘jiwa’ itu kekuatan untuk mendapatkan makanan; 
bukanlah kekuatan yang menggerakkan syahwat (Al-Nafsu) dan kemarahan; 
bukanlah kekuatan yang berada dalam jantung(Al-Qolbu) yang melahirkan hidup, menimbulkan rasa dan gerak dari jantung kepada seluruh anggota, kerana kekutan ini dinamakan ‘Ruh Hewani’. 

Rasa, gerak, syahwat adalah dari tentera Ruh Hewani ini. 

Kekuatan mendapatkan makanan yang berada dan menguruskan dalam hati (Al-Kabad) dinamakan ‘Ruh Tobie.’ Pencernaan dan penolakan adalah dari sifat-sifatnya. Kekuatan merupa, melahir, menyubur dan lain-lain kekuatan tobie semuanya menjadi khadam-khodam bagi jasad dan jasad pula adalah khodam kepada Ruh Hewani, karena jasad menerima kekuatan-kekuatan dari Ruh Hewani dan bekerja menurut geraknya. 

Sebenarnya yang saya maksudkan dengan ‘JIWA’ itu ialah JAUHAR YANG SEMPURNA SERTA TUNGGAL (Al-Jauhar Al-Kamil Al-Mufrad) yang kerjanya hanya
mengingat
menghafal
berfikir membedakan baik buruk dan 
mengamat-amati juga 
menerima segala ilmu dan
tidak jemu-jemu menerima rupa-rupa abstrak yang bersih dari benda.

Jauhar ini adalah ketua segala ruh dan raja. Segala kekuatan semuanya berkhidmat (taat) kepada jauhar ini dan menjunjung perintahnya.

Jauhar ini tidak lain tidak bukan dari JIWA BERAQAL (Al-Nafs An-Naathiqoh) yang diberikan berbagai nama-nama. Para ahli falsafah menamakanNya jauhar ini sebagai JIWA BERAQAL(Al-Naf An-Naathiqoh).Al-Quran menamakannya sebagai JIWA YANG TENANG (Al-Nafsul Mutmainnah). Al-Quran juga menamakannya sebagai RUH URUSAN (Al-Ruh Al-Amri). Ahli Tasawuf menamakannya sebagai QOLBU(Al-Qolbi). Perbedaan cuma pada segi nama-nama sahaja tetapi artinya satu, tidak ada perselisihan.

Oleh itu ‘QQLBU’ dan ‘RUH’ pada kita juga ‘YANG TENANG’ semua nama-nama itu adalah bagi ‘JIWA BERAKAL’ (Al-Nafs Al-Naathiqoh). Jiwa berakal ialah ‘Jauhar yang Hidup’, ‘aktif’, lagi mencapai kalau disebut Ruh Mutlak atau Qolbu. Maksudnya ialah jauhar ini juga. 

Ahli-ahli Tasawuf menamakan ‘Ruh Hewani’ pula dengan nafsu. Syarak'juga memberikan pengertian yang sama sebagaimana sabda Rosululloh S.A.W. yang bermaksud: 

“Musuh engkau yang paling ketat ialah nafsu engkau”.

Baginda bersabda lagi dengan maksud:

“Nafsu engkau ialah yang terletak di antara dua pihak (lambung)”. 

Perkataan nafsu yang dimaksudkan oleh syara' di sini ialah kekuatan ’syahwaaniah’ dan kemarahan kerana kedua-duanya muncul dari jantung yang terletak di antara dua pihak (dari tubuh manusia). 

Bila kamu telah faham dan mengetahui perbedaan nama-nama itu ternyatalah bahwa para pengkaji memberikan nama yang bermacam-macam terhadap Jauhar yang bernilai ini dan mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeda. 

Para ahli Ilmu Kalam yang pandai dalam debat menganggap jiwa itu sebagai suatu jisim dan menyatakan bahwa ia adalah jisim yang halus sebagai tantangan bagi jisim yang tebal ini. Mereka hanya melihat perbedaan di antara ruh dan jasad dari segi kehalusan dan ketebalan sahaja. 

Sebagian dari mereka menganggap ruh sebagi ‘arodh. Sebahagian daripada ahli-ahli kedokteran cenderung ke arah pendapat ini. Ada pula yang menganggap darah sebagai ruh. 

Mereka semua merasa puas hati dengan pendapat mereka karena dipengaruhi oleh kecantikkan pandangan dan mereka ‘TIDAK BERUSAHA’ mencari bagian ketiga sedangkan sebenarnya ada tiga bagian iaitu Jisim, Arodh dan ‘Al-Jauhar-Al-Mufrod’. Ruh Hewani ialah jisim yang halus seolah-olah lampu yang menyala terletak dalam kaca jantung. Jantung yang dimaksudkan di sini ialah rangka sanubari yang tergantung pada dada manusia. Hidup adalah lampu tersebut, 

Darah ialah minyaknya,
Rasa dan gerak merupakan Nurnya, 
Syahwat ialah kepanasannya, 
Kemarahan ialah uapnya, 
Kekuatan mencari makanan yang berada di dalam hati merupakan khodam atau penjaganya dan wakilnya. 

Ruh ini terdapat pada segala binatang. Ruh ini tidak menerima ilmu dan tidak mengetahi soal yang berhubung dengan alam dan tidak mengetahui hak-hak Pencipta Alam. Ia hanya merupakan khodam yang terikat.

Ia mati bersama dengan matinya badan. Jika bertambah darah, padam lampu itu kerana bertambah kepanasan dan sebaliknya jika berkurangan darah, ia akan padam juga kerana bertambah kesejukan. Padamnya menjadi sebab bagi matinya badan. 

Tidak ada ‘khitob Tuhan’ iaitu (perkataan-perkataan Tuhan yang lazim yang dihadapkan kepada orang-orang mukallaf berhubung dengan perbuatan-perbuatan mereka) dan tidak ada ‘takhlif’ (pemikul tanggungjawab yang diamanahkan dari Alloh melalui hukum syara' yang lima) tuan punya syara' terhadap ruh ini. Kerana inilah segala binatang tidak termasuk ke dalam makhluk-makluk yang menerima ‘khitob’ dengan hukum-hukum syara'. 

Manusia sebenarnya ‘ditakhlif’ dan ‘dikhitob’ karena suatu makna yang lain terdapat padanya sebagai suatu tambahan yang dikhaskan untuknya. Maknanya ialah pada manusia ada

‘JIWA YANG BERAQAL’ (Al-Nafs-An-Naatiqoh), ‘RUH URUSAN’(Ruhul-Amri) dan ‘JIWA YANG TENANG’(Al-Nafsul Muthmainnah).

Ruh ini bukanlah jisim dan bukanlah ‘arodh’, kerana ia datang dari urusan Alloh Taala sebagaimana firmannya yang bermaksud: 


وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا
‘"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'." 

(Surah Al-Isra' ayat 85)

Alloh berfirman 


يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي (الفجر: 27 – 30)

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30)


Urusan Allah bukanlah berupa jisim dan bukan pula ‘aradh’, malahan ia adalah suatu kekuatan ‘ILAHIYAH’ seperti ‘AQAL YANG PERTAMA’ (Al-’Aqlul-Awal), Luh dan Qolam. Kekuatan Ilahiyah adalah Jauhar-Jauhar Tunggal yang bukan dari benda, malah ia merupakan sinar-sinar abstrak yang dapat difahami oleh akal (Ma’quulah).

Bukan boleh dirasa. Apa yang kita sebut sebagai ruh dan Qolbu adalah dari Jauhar-Jauhar itu. Ia
tidak rusak 
tidak layu
tidak binasa
tidak mati bahkan;
ia terpisah dari badan dan menantikan perkembaliaan pada hari kiamat

sebagaimana yang dinyatakan dalam syara' dan telah disahkan dalam ilmu-ilmu ‘HIKMIAH’ (Falsafah) dengan alasan-alasan yang tidak dapat ditolak lagi. Buktinya yang nyata menunjukkan bahawa ‘RUH YANG BERAKAL’ bukanlah jisim dan bukanlah ‘arodh, malah ia adalah JAUHAR yang tsabit(nyata / tetap) lagi kekal tiada binasa. 

Di sini rasanya tidak perlu lagi kita menyebut alasan-alasan dan membentangkan dalil-dalil kerana telah dibuat dan disebut orang. Sesiapa yang mahu mengesahkannya risaah tetap pada kitab-kitab yang baik mengenai ilmu ini. Cara kita memberi penguraian dalam risalah ini bukanlah dengan mengemukakan alasan, malah dengan berpegang pada apa yang telah dialami penulis

‘PENGLIHATAN YANG YAKIN DAN PENGLIHATAN IMAM.’ 

Alloh Ta'ala menghubungkan ruh kepada urusan dan kadang-kadang kepada ‘IZAH’Nya (dzat yang tidak bisa dicapai dengan akal dan fikiran) dengan firmanNya :


‘Dan Aku (Alloh) tiupkan padanya ruh dariKU’  

dan firmanNya lagi yang bermaksud:



وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيل

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.‘Katakanlah (hai Muhammad) bahawa roh itu adalah urusan tuhanku’ dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'."(Al-Isra' ayat 85)
dan firmanNya lagi yang bermaksud:

‘Lalu kami tiupkan padanya dari roh kami.’

Bila roh itu dihubungkan oleh Alloh Taala kepada diriNya tentulah ia bukan jisim atau A’rodh karena rendah tingkat kedua-duanya, selalu berubah-ubah dan cepat hilang serta akan rusa. Rosululloh S.W.T. bersabda yang di maksud: 

“Roh-roh adalah sebagai tentera yang lengkap”

dan dalam sabda Baginda yang lain lagi Beliau menyatakan:

“Roh para syuhada' terletak dalam bayang-bayang burung-burung hijau.”

Begitu juga dengan A’rodh tidak kekal selepas hilangnya jauhar karena A’rodh tidak boleh berdiri dengan dzatnya sendiri. Manakala saat jisim menerima peleburan kembali sebagaimana asalnya sebelum penyusunan dari benda (Al Madah) dan rupa seperti yang tersebut dalam kitab-kitab (kitab-kitab falsafah). 

Setelah kita mengetahui ayat-ayat, hadis-hadis dan alasan-alasan akal, ketahuilah kita bahawa ruh itu adalah JAUHAR MUFROD YANG SEMPURNA (Al-Jauharul Mufrod Al-Kamil) hidup dengan dzatnya, baik dan buruknya agama adalah datang daripadanya, manakala ruh Tobi'e dan Ruh Hewani dan kekuatan badaniyah seluruhnya daripada tentara Jauhar Mufrod Yang Sempurna ini. 

RISALAH ASAL USUL MANUSIA ,TUMBUHAN & HEWAN





أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله



Dari SULALAH kemudian menimbulkan HABBAN artinya: Biji-bijian.


أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّ


ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا


فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا


ANNAA SHOBABNAL MAA-A SHOBBAA (25). TSUMMA SYAQOQNAL ARDLO SYAQQOO (26). FA-AMBATNAA FIIHAA HABBAA (27).

Artinya:” Sesungguhnya kami telah mencurahkan (menurunkan) air (hujan) sebanyak-banyaknya.(25) Kemudian kami belah (renggangkan) tanah serenggang-renggangnya.(26) Lalu Aku tumbuhkan padanya biji”. (27) (‘Abasa / S. 80)

Adapun biji-bijian itu mempunyai kulit dan bau yang wangi.

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

WAL HABBU DZUL ‘ASHFI WAR ROIHAAN
Artinya :”Dan biji itu mempunyai kulit dan bau yang wangi.” (Arrohman / S. 55 / ayat 12).
Dan dari biji (Habban) itu ada Habban lagi yang sangat halus, yaitu yang dinamakan

NAWAA.


إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللَّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

"Sesungguhnya Alloh menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan (menjadikan) yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh) dan yang mengeluarkan (menjadikan) yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh). Demikian ialah (sifat) Alloh, maka mengapa kamu masih berpaling."
 (Al An’am / S.6 / ayat 95).



Kemudian biji-bijian (HABBAN) yang didalam tanah itu dipecah oleh Alloh sehingga keluarlah sesuatu yang hidup dari yang mati, yaitu muncul tumbuh-tumbuhan.

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ

Artinya:”Dia mengeluarkan (menjadikan) yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh), dan mengeluarkan (menjadikan) yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh), dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Ar Rum / S.30 / ayat 19)


Makanya Alloh berfirman dalam surat Nuh :

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا

Artinya : “Dan Alloh menumbuhkan kamu semua dari bumi berupa tumbuh-tumbuhan.” ( Nuh / S.71/ ayat 17).


ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا


"Dan Alloh menumbuhkan kamu (menghidupkan manusia) dari tanah, dengan sebaik-baiknya,"

Jadi kita itu pernah menjadi tumbuh-tumbuhan, yaitu setelah jadi SULALAH lalu jadi HABBAN, kemudian tumbuh menjadi NABAATAA (tumbuh-tumbuhan). Dan macamnya tumbuh-tumbuhan itu banyak sekali, bermacam -macam bentuknya, warnanya, namanya, rasanya, baunya, kasiatnya, hikmahnya.

Ada yang hikmahnya dijadikan makanan, ada yang dijadikan obat, ada yang dijadikan rokok dan lain sebagainya. Ada yang jelek tapi hikmahnya besar, seperti : Gedebok pisang yang sudah busuk, yaitu : Bisa dibuat untuk mengobati udun (bisul). Jadi biar busuk, masih tetap dicari-cari. Ada yang bermanfaat hanya waktu hidup saja dan ada juga yang bermanfaat dari hidup sampai mati, seperti : Kayu jati.

Walaupun air yang menyiram tanah hanya satu macam, namun tumbuhan yang dikeluarkan dari tanah itu macam-macam, diantaranya :


1. Ada yang rasanya pedas, seperti : Lombok (cabe).


Meskipun lombok (cabe)  itu pedas tapi pedasnya tidak membuat jera bagi yang memakan. Buktinya walau pernah ngoweh-ngoweh karena kepedasan tapi lain waktu minta lagi.
Lo itu lanang (laki-laki).

Mbok itu wedok (perempuan).


Jadi lombok itu laki-laki dan perempuan (bapak dan ibu). Makanya kalau bapak ibunya sedang menasehati anaknya tapi tidak dihiraukan, biasanya ngeses-ngeses.

2. Ada yang rasanya pahit, seperti : Sambiroto.
Walaupun pahit tapi banyak dicari orang, yaitu sebagai obat.

3. Ada yang rasanya masam sekali, seperti : Asam, cerme dll.

4. Ada yang umurnya panjang, tapi manfaatnya tidak begitu banyak, yaitu seperti : Cangkring.

5. Ada yang umurnya pendek tapi manfaatnya besar, yaitu seperti : Padi.

6. Ada yang tumbuhnya berdiri sendiri dan tegak, yaitu seperti : Mangga, kelapa dll.

7. Ada yang batangnya tidak bisa berdiri sendiri (selalu mencari sandaran), yaitu seperti : Suruh.

8. Ada yang banyak suaranya (kemresek / ramai) , yaitu seperti : Tebu yang tertiup angin.

9. Ada yang tidak banyak suaranya, tahu-tahu ada buahnya, yaitu seperti : Ketela.

10.Ada yang pohonnya besar, buahnya besar, yaitu seperti : Durian.

11.Ada yang pohonnya besar, buahnya kecil, yaitu seperti : Kentosan, beringin.
Suatu saat pernah ada orang yang berteduh dibawah pohon kentosan dan berkata dalam hati: Kalau dipikir-pikir, pohon ini sepertinya kurang pantas. Tampang pohonnya besar sekali, tapi buahnya sangat kecil.

Kalimat ini adalah termasuk maido (mencela) Alloh. Kemudian tiba-tiba jatuhlah salah satu buahnya dan tepat mengenai wajah orang tersebut. Setelah kejatuhan buah kentosan itu dia baru sadar dan berkata dalam hati :

Oh-iya seandainya pohon ini buahnya besar (mungkinsebesar durian), pasti remuk kepala saya. Ini memang keadilannya Tuhan,menciptakan pohon dengan bermacam-macam hikmah, termasuk juga menumbuhkan pohon yang besar dengan buah yang kecil, jadi cocok buat berteduh.

12. Ada yang pohonnya kecil, buahnya juga kecil, yaitu seperti : Lombok.

13. Ada yang pohonnya kecil, tapi buahnya besar, yaitu seperti : Blencong, semangka.

14. Ada yang modelnya berbunga dulu, setelah itu baru berbuah. Ini umum, seperti : Mangga, jeruk dsb.

15. Ada juga yang berbuah dulu, baru kemudian berbunga, yaitu seperti : kudu.

16. Ada yang beranak dulu, kemudian baru mengandung, yaitu seperti : padi, pisang.

17. Dan masih banyak lagi.

Jadi tumbuh-tumbuhan itu macamnya banyak sekali, sesuai dengan firman Alloh dalam Alqur-an :


 فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى


FA-AKHROJNAA BIHII AZWAAJAN MIN NABAATIN SYATTAA.


Artinya : “Lalu Kami tumbuhkan dengan dia beberapa jodoh diantara tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (Thoha / S : 20 / ayat : 53).


Dari tumbuhan ke mana?

Pada Tulisan sebelumnya manusia asalnya dari benda mati, bisa jutaan tahun di bumi. Setelah itu menjadi Sulalah dan akhirnya menjadi tumbuhan.

Dari tumbuhan yang beraneka macam itu bermacam-macam pula yang dimakan manusia yaitu lebih dari 3000 macam, ada yang rasanya pahit, manis, asin dsb. Kemudian makanan yang dimakan manusia itu ada sarinya, juga ada ampasnya. Dari sarinya makanan akhirnya menjadi darah. Dan mengenai ampasnya dibuang (dikembalikan lagi ketanah).

Untung ada pembuangan ampas. Setelah ampas dibuang ketanah, oleh tanah diserap lagi lalu ditumbuhkan lagi. Selanjutnya diambil dan dimakan lagi oleh manusia lalu dikeluarkan lagi oleh manusia, begitu seterusnya, muser terus (berputar terus).

Begitu juga dengan perputarannya ikan yang ditangkap manusia, setelah ikan ditangkap oleh manusia kemudian dimakan lalu ampasnya dibuang ke sungai. Selanjutnya ampas yang disungai dimakan ikan, ikan dimakan lagi oleh manusia.
Proses perputaran ini dinamakan ‘ID (kembali).

Lalu dari sari darah menjadi MANIYYI YUMNA (air suci) atau TIRTO KAMANDANU.


أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى


"Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),"
(Al qiyamah / S. 75 / 37)

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى


"kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Alloh menciptakannya, dan menyempurnakan-nya,"


فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى


"lalu Alloh menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan." 


TIRTO = air. KAMAN = benih. DANU = sumberan.

Jadi TIRTO KAMANDANU itu adalah air yang menjadi benih yang berasal dari sumberan. Bukan sumberan dari bumi bawah melainkan dari dirinya sendiri.

Adapun tempatnya TIRTO KAMANDANU / MANIYYI YUMNA bagi orang laki-laki namanya SULBI dan bagi orang perempuan namanya TAROIB. Sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :


خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ


"Dia diciptakan dari air yang terpancar (air mani),
Artinya : “Yang dikeluarkan dari antara tulang punggung (laki-laki) dan tulang dada (perempuan). (Ath Thoriq / S. 86 / ayat 7)


Selanjutnya air suci (TIRTO KAMANDANU) yang berada di SHULBI dan TAROIB itu kalau sudah bertemu (menyatu) jadilah NUTHFAH. Dan kalau sudah jadi NUTHFAH, tempatnya tidak lagi di SHULBI dan TAROIB melainkan di QOROORIM MAKIIN


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ


"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani, (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."
(sebagaimana dalam Surat Almu’minun ayat 13) atau disebut dengan ALAM ARHAM atau dalam istilah ilmu pedalangan dinamakan CUPU MANIK ASTOGINO.

* Setelah jadi NUTHFAH selama 40 hari lalu menjadi ALAQOH.

* Dari ALAQOH (juga 40 hari) berubah jadi MUDLGHOH.

* Setelah jadi MUDLGHOH (40 hari) kemudian Malaikat diperintah oleh Alloh untuk menulis 4 kalimat.

Dan tulisan Malaikat di alam Arham itu umumnya di sebut:

SASTRO CETO HAYUNINGRAT PANGRUWATING BAWONO.

Jadi manusia dimasuki unsur Malaikat itu ketika masih dalam usia 40 hari x 3 (120 hari). Karenanya bila bisa mujahadah dengan sungguh-sungguh sejumlah 40 hari x 3 (120 hari) maka nanti bisa sampai disitu, yaitu tiba diunsur Malaikat. Dan disitu akan mengetahui rahasia tulisan yang ada dalam dirinya sendiri.

Mujahadah 40 hari x 3 dengan sungguh-sungguh itu menurut istilah tasawufnya dinamakan

KHOLWAT.

Selanjutnya proses terus di alam rahim (di gua garbo) sampai 9 bulan. Setelah 9 bulan bertapa dalam perut, lalu dikeluarkan (dilahirkan) oleh Alloh untuk melanjutkan proses di alam dunia (menjadi lakon di dunia).

Setelah selesai lakonnya didunia kemudian pisahan (jawanya : pegatan), maksudnya adalah perpisahan antara jasmani dan ruhani dan inilah yang dinamakan dengan mati / meninggal dunia (Jawanya : pejah). Jadi hakekat maut itu adalah perpisahan, yaitu perpisahan nya jasmani dan ruhani.

Kemana perginya jasmani …..?

Jasmani kembali lagi ke asalnya, yaitu ke kotak (bumi) dan yang unsurnya Malaikat kembali kepada Malaikat, yang dari alam amar juga kembali ke alam amar.
Ketika dilain waktu kotak dibuka lagi, proses berulang lagi, hanya alur ceritanya saja yang berbeda. Tergantung dalangnya.

Semoga menjadikan kita sedikit terbuka terhadap teori Evolusi jasmani ataupun Evolusi Rohani..

Sabtu, 21 Juli 2012

SULUK LINGLUNG ... KANJENG MALAYA


Birahi ono nireku, aran iro Alloh jati. Tan ono kalih tetigo, sopo weruho yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki

Timbulnya hasrat kehendak Alloh menjadikan terwujudnya dirimu dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Alloh dengan sesungguhnya,(hono niro setuhune hononing hyang) Alloh itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga.

Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan kutipan ajaran Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga Azmatkhon dalam Suluk dirinya sendiri.

Sipat jamal to puniku, ingkang kinen angarani, pepakane ono ika, akon ngarani puniki, iyo Alloh angandiko, mring Muhammad kang dadi kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya.

Demikianlah yang difirmankan Alloh kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tan ono sira iku, ingsun tan ono kang ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya siro, aran iro aran mami

Kalau tidak ada dirimu, Alloh tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku, Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Alloh, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku

Tauhid hidayat sirrku, tunggal lawan Sang Hyang Widhi, tunggal siro lawan Alloh, uga donya uga akhirot, ya rumangsanono pangeran, ya Alloh ono nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Alloh, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Alloh itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sirrku, makrifat ya den arani, uripe ing aranan Syahadat, urip tunggil sak njroning urip sujud rukuk pangasonyo, rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tan onomu nyamur, jo melu yen siro wedi, lan jo melu-melu Alloh, iku aran sekaratil, ruh idhofi mati tan ono, urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Alloh. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati ,Hidup mati, mati hidup

Lir ing mati sajroning ngahurip, iya urip sajatining pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang ngelakoni, katampan badan kang nyoto, pamore sawujude, rogone ngrasa matiyo, Syekh Malaya (S.Kalijaga) den padhang siro nampani, Wahyu prapto nugroho.

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya.

Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud.

Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.…
.


Alhasil, berprasangka baik kepada Alloh merupakan suatu yang wajib bagi kita kaum muslimin, bukan hanya menimbulkan ketabahan melainkan akan membuahkan hasil yang semupna dalah keikhlasan kepada Alloh. 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ



Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

BERBAGAI DEFINISI TASAWUF DALAM PANDANGAN BERGAI ULAMA' AHLU SUNNAH WAL-JAMA'AH




Tasawuf pada prinsipnya bukanlah tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah implementasi dari sebuah kerangka agung Islam. Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:

Syeikh Muhammad al-Jurairy:

“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela."

Syeikh Al-Junaid al-Baghdady:

“Tasawuf artinya Alloh mematikan dirimu dari dirimu dan menghidupkan dirimu bersama dengan-Nya.”
“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Alloh swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”
“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”
“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’ dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”
“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”

“ Jika engkau melihat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak"

Syeikh Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:

“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun".

Syeikh Abu Hamzah Al-Baghdady:

Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem, bunyi.

Syeikh Amr bin Utsman Al-Makky:

“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.”

Syeikh Mohammad bin Ali al-Qashshab:

“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.”

Syeikh Samnun:

“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun".

Syeikh Ruwaim bin Ahmad:

“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Alloh dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendaki-Nya.”

“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: Memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra dan memilih".

Ma’ruf Al-Karkhy:

“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”.

Syeikh Hamdun al-Qashshsar:

“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu".

Syeikh Al-Kharraz:

“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat di hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami".

Syeikh Sahl bin Abdulloh:

“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis untuk alloh".

Syeikh Ahmad an-Nuury:

Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala tidak punya dan peduli orang lain ketika ada.

”Syeikh Muhammad bin Ali Kattany:

“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf".

Syeikh Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:

“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya".

Syeikh Abu Bakr asy-Syibly:

“Tasawuf adalah duduk bersama Alloh swt tanpa hasrat.”“Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Alloh swt sebagaimana difirmankan Alloh swt, kepada Musa, ‘Dan Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku’ (Thoha: 41) dan memisahkanmu dari yang lain. Kemudian Alloh swt berfirman kepadanya, ‘Engkau tak akan bisa melihat-Ku’.”

“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”“Tasawuf adalah kilat yang menyala dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka".

Syeikh Al-Jurairy:

“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab".

Syeikh Al-Muzayyin:

Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.”

Syeikh Askar an-Nakhsyaby:“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.”

Syeikh Dzun Nuun Al-Mishry:

“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Alloh di atas segala makhluk yang ada.”

Syeikh Muhammad al-Wasithy:

“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan".

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:

“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, ‘siapakah, yang menurutmu Sufi itu?’ Lalu ia menjawab, ‘Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit’. Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan".

Syeikh Ahmad ibnul Jalla’:

“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali tidak memiliki sarana-sarana duniawi. Mereka bersama Alloh swt tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Alloh swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya disebut Sufi".

syeikh Abu Ya’qub al-Madzabily:

“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.”

Syeikh Abul Hasan as-Sirwany:“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang menyertainya".

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq:

“Yang terbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, ‘Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Alloh swt, untuk menyapu kotoran binatang’.”

“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya".



Syeikh Abu Sahl ash-Sha’luki:

“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Alloh.”
Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.

Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Alloh swt dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Alloh dan Rosul-Nya, pengakuan diri akan haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.

Jumat, 20 Juli 2012

AWAL MULA MUTAJALIYATI-INSAN



اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ اْلشَّيْطَا نِ الْرَجِيْم بِسْمِ اللهِ اْلَرّحْمنِ اْلرَحِيْمِ
اَشْهَدُ اَنْ لا َاِلَهَ اِلا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
اَلله ُوَحْدهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ حَقُّ الله - رَحْمَةُ الله – رِضَأ الله

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Alloh berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

Semoga Alloh s.w.t memberikan kamu kemulyaan di dalam amalan-amalan yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperoleh keridhaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan faham dengan apa yang aku katakan. Alloh Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan Nur Muhammad dari cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi ...


إ ن الله خلق ا د م على صو ر ته.

Sesungguhnya Alloh menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”.

Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya: “Mula-mula Alloh ciptakan ruhku.
Pada awalnya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”. 
“Mula-mula Alloh ciptakan qolam”. 
“Mula-mula Alloh ciptakan aqal”.


Apa yang dimaksudkan sebagai pengadaan (tajalli / nyata) permulaan itu ialah penciptaan hakikat Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, karena dia di sucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Alloh. Alloh Yang Maha Tinggi berfirman: 

قَد جاءَكُم مِنَ اللَّهِ نورٌ وَكِتٰبٌ مُبينٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan kitab yang menerangkan.”. (Al-Maaidah, ayat 15)

Dia dinamakan aqal yang meliputi setiap mahluk karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya.

Dia dinamakan qolam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf. 
NUR Muhammad adalah dzat atau hakikat  menjadi rujukan kepada segala kejadian (kenyataan) mahluk seluruh alam baik yang di bumi dan di langit dunia dan akhirat, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan firman

( كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف )

“Adanya Aku (alloh) adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku berkehendak akan Kuperkenalkan akan ada Aku maka Aku jadikan semua makhluk supaya kenyataan Aku dikenalnya.”

Kemudian beliau menyebut hadits Nabi s.a.w

. أول ما خلق الله تعالى نورى وفى رواية روحى



Artinya: “Yang pertama kali di adakan oleh alloh adalah NUR ku (dan pada suatu riwayat – ruhku).”

 Maka dalam pemahaman al-faqir keADAan alam ini di mutajalayihahkan Alloh subhanahu taala dari  sebab NUR Muhammad s.a.w. seperti yang telah tersebut. Lalu ia menyebut pula hadith qudsi:

خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك لاجلى

Artinya: “Aku jadikan semua perkara itu karena engkau ya Muhammad dan Aku jadikan akan engkau itu karena adanya Aku, yakni dijadikan nur Muhammad itu dengan tiada wasithoh apa pun.”

dalam riwayat lain rosululloh bersabda :

اول ما خلق الله تعالي نوري وكان نوري من نور الله ولاجل ذالك النور فرض الله تعالي مني وامتي خمس وقت صلاة 

Sesuatu yang diciptakan alloh adalah NURku dan Adanya Nurku itu dari NURULLOH dan oleh karena memulyakan NURULLOH di wajibkan untukku dan umatku sholat dalam 5 waktu 

Kemudian Alloh ciptakan arasy dari cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain dari arasy. Kemudian Dia tiupkan Ruh-ruh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah yaitu menempati alam kebendaan , alam jirim dan badan. 

ثُمَّ رَدَدنٰهُ أَسفَلَ سٰفِلينَ

"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)" (Surah Tin, ayat 5)




ALLOH turunkan cahaya itu dari tempat ia diciptakan, dari alam lahut, yaitu alam kenyataan bagi dat Alloh, hal yang menjadi petunjuk bagi keESAanNya, bagi wujud mutlak, kepada alam dengan sebutan nama-nama Ilahi, hakikat sifat-sifat Ilahi, alam bagi aqal yang menjadi asbab milik ruh yang meliputi sekailan kehidupan.


Kemudian ALLOH memberikan RUH''  itu selimut dari cahaya. Ruh-ruh ini dinamakan ‘Ruh al-amr / ruh pemerintah’'Dengan selimut cahaya mereka turun kepada alam jabarut dan di sebut  "Ruh wilayah / Ruh idhofi" kemudian deng selimut Cahaya Ruh turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘ruh ruhani’. Kemudian ruh itu arahkan turun kepada alam kebendaan yaitu alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan kemudian mereka di sebut ‘ruh manusia’. Kemudian dari dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah. 

مِنها خَلَقنٰكُم وَفيها نُعيدُكُم وَمِنها نُخرِجُكُم تارَةً أُخرىٰ

“ Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. (Surah Ta Ha, ayat 55)

setelah peringkat-peringkat ini Alloh memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.

فَإِذا سَوَّيتُهُ وَنَفَختُ فيهِ مِن روحى فَقَعوا لَهُ سٰجِدينَ

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya…”. (Surah Shad, ayat 72)

Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Alloh ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka,

الست بربكم قالوا بلي 

“Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya, bahkan!.”

Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka.

Tetapi Alloh Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia antarkan kitab-kitab suci dan rosul-rosul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.

وَلَقَد أَرسَلنا موسىٰ بِـٔايٰتِنا أَن أَخرِج قَومَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ إِلَى النّورِ وَذَكِّرهُم بِأَيّىٰمِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فى ذٰلِكَ لَءايٰتٍ لِكُلِّ صَبّارٍ شَكورٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): ""Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Alloh"". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Perintah alloh untuk semua rosul yaitu ‘ingatkan ruh-ruh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Alloh’. 

Para rosul-rosul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia utusan yang mengingatkan akan hakikat penyembahan, peringatan serta menyadarkan manusia dari kelalaian mereka.

Tetapi mereka yang ingat pada-Nya, & kembali kepada-Nya, hanyalah sedikit manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurang dan terus berkurang bersama berputarnya zaman 

SEMOGA BISA MENJADI TELAAH BUAT KITA SEMUA UNTUK KEMBALI PADA AL-ILAH

PENGERTIAN AL-DIIN (AGAMA




لا دينا لمن لا ايمان له 

tidak di sebut mempunyai agama bagi orang-orang yang tidak meyaqininya (agama)

Makna leksikal al-diin adalah kepatuhan, ketaatan, penyerahan dan balasan. Dan makna istilahnya adalah keseluruhan keyakinan, akhlak, undang-undang dan aturan-aturan yang bertujuan mengatur urusan-urusan manusia dan membimbing mereka. Tidak semua ajaran itu seluruhnya benar dan dan juga sebaliknya, dan terkadang dalam beberapa ajaran bercampur antara benar dan batil. Jika keseluruhan ajarannya adalah benar maka disebut agama yang benar, dan begitu pula sebaliknya disebut agama yang batil atau percampuran antara benar dan batil. syahadat pertama (syahadatain)PERJANJIAN Pengertian ‘perjanjian’ bisa kita temukan dalam ayat-ayat qur`aniah di bawah ini.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (al-A’raaf: 172) ini menjadi haqiqat sampurnanya ADAM mumkin



اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله

. IQRAR (syahadatulloh) Pengertian ‘ikrar’ bisa kita temukan dalam firman Allah berikut ini.

"شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ "وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imran:18) YANG MENJADI AQIDAH 68 YANG ASLI MENJADI DZAT WAJIBUL WUJUD

شهد الله انه لا اله الا هو

INI YANG KE TIGA SUMPAH

قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“…Mereka berkata, ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (al-An’aam: 130)




YANG MENJADI HAQIQAT WUJUD MUHAMMAD HAQIQI . PERSAKSIAN

Adapun pengertian ‘persaksiaan’ untuk kalimat syahadat bisa kita temukan dalam beberapa firman Allah SWT

. قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“…Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali ‘Imran: 81)

قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“…Mereka berkata, ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (al-An’aam: 130)

شهد نا علي انفسنا

SETELAH INI DI PAHAMI BARU YG NAMANYA ISLAM

قال النبي صلي الله عليه وسلم

Sabda nabi muhammad SAW

من عبد الاسم دون المعني فقد كفر

Barang siapa yg menyembah nama dari lafadz maka bukan arti di namakan kafir

ومن عبد المعني دون الاسم فقد نفق

Barang siapa yg menyembah arti dari lafadz bukan nama maka di namakan munafiq

ومن عبد الاسم والمعني فقد أشرك

Barang siapa yang menyembah nama dan artinya maka dimakan syirik

ومن عبد المعني بحقيقة المعرفة فهو مؤمن حق

Barang siapa yang menyembah arti dari lafadz dengan haqiqatnya orang yang ma’rifat maka dimakan mu’min yang benar sebagaimana yang terekam dalam surah al-A’raf (7) ayat 172 :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhani).

INI BUKAN BUAT PERBANDINGAN NAMUN KAJIAN BUAT MASING.

Senin, 16 Juli 2012

LATAR BELAKANG PERLUNYA MANUSIA TERHADAP AGAMA (diin)


Sekurang-kurangnya ada alasan yang melatar belakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatruhi.

2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.

3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

4. Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.

5. Suatu system tingkah laku  yang berasal di kekuatan ghaib.

6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib.

7. Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dan perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.

8. Ajaran yang dianutnya Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.

Berdasarkan uraian tersebut kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dan Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi kegenerasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang didalamnya mencakup unsur emosional dan kenyataan bahwa kebahagiaan hidup tersebut bergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan ghaib tersebut.




 Latar Belakang Fitrah Manusia

Dalam bukunya berjudul prospektif manusia dan agama, Murthada Muthahhari mengatakan bahwa disaat berbicara tentang para Nabi

Imam Ali as. Menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingat manusia kepada manusia yang telah diikat oleh fitrah manusia, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya.

Perjanjian itu tidak dicatat diatas kertas melainkan dengan pena ciptaan Alloh dipermukaan terbesar dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan batiniyah.
Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegaskan kepada agama islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia, sebelumnya, manusia belum mengenal kenyataan ini.

Baru dimasa akhir-akhir ini muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitri keagamaan yang ada pada diri manusia inilah yang melatar belakangi perlunya manusia kepada agama, oleh karenanya ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya hal tersebut.

Dalam konteks ini kita misalnya membaca ayat yang berbunyi :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh), (sebagai perwujudan dari) fitrah Alloh (sifat-sifat Alloh). (Alloh) Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Alloh, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (hakekat semua ajaran agama-Nya ialah keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh, dengan menselaraskan kehidupan manusia kepada berbagai sifat-Nya dalam Asmaul Husna)" – (QS.30:30)

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya, serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh," – (QS.30:31)

Setiap perkara yang di adakan Alloh mempunyai fitrahnya sendiri-sendiri , sedang manusia saya membuat sesuatu itu pasti dengan fitrahnya sendiri-sendiri .

Kesimpulannya bahwa latar belakang perlunya manusia pada agama adalah karena dalam diri manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi yang beragama ini memerlukan pembinasaan, pengarahan, pengambangan dan seterusnya dengan cara mengenalkan agama kepadanya.




 Kelemahan dan Kekurangan Manusia.

Faktor lainnya yang melatar belakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan .

Walaupun manusia itu dianggap sebagai makhluk yang terhebat dan tertinggi dari segala makhluk yang ada di ala mini, akan tetapi mereka mempunyai kelemahan dan kekurangan karena terbatasnya kemampuan  para  ulama' menyatakan bahwa keterbatasan manusia itu terletak pada pengetahuannya hanyalah tentang apa yang terjadi sekarang dan sedikit tentang apa yang telah izin.

Adapun tentang masa depan yang sama sekali tidak tahu, oleh sebab itu kata beliau selanjutnya hukum apa sajapun yang dapat dibuat oleh manusia tentang kehidupan insani adalah berdasarkan pengalaman masa lalu.

Selanjutnya dikatakan disamping itu manusia menjadi lemah karena di dalam dirinya ada hawa nafsu yang selain mengajak kepada kejahatan, sesudah itu ada lagi iblis yang selain berusaha menyesatkan manusia dari kebenaran dan kebaikan. Manusia hanya dapat melawan musuh-musuh ini ialah dengan senjata agama.
Alloh menciptakan manusia dan berfirman “bahwa manusia itu telah diciptakan-nya dengan batas-batas tertenu dan dalam keadaan lemah.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya :
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu (terasuk manusia) telah kami ciptakan dengan ukuran (batas) tertentu (qS. Al-Qomar : 49)


وَمَا أَمْرُنَا إِلا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

"Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata." – (QS.54:50)

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran." – (QS.54:51)

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ



"Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan." – (QS.54:52)

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ


"Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis." – (QS.54:53)

Untuk mengatasi kelemahan-kelemana dirinya itu dan keluar dari kegagalan-kegagalan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan wahyu akan agama .




Tantangan Manusia


Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia adalah karena manusia adalah dalam kehidupan senantiasa menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan dari hawa nafsu dan bisikan syetan sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupa ingin memalingkan manusia dari Tuhan.

Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari keluhan.

Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya, berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obatan terlarang dan sebagainya dibuat dengan sengaja.

Untuk itu upaya untuk mengatasinya dan membentengi manusia adalah dengan mengejar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu saat ini semakin meningkat sehingga upaya mengamankan masyarakat menjadi penting .


Islam Rahmatan Lil 'Alamin

. Pengertian Islam Rahmatan lil’alamin

1. Pengertian islam

Kata “islam” adalah kata bahasa arab yaitu “sailama” yang dimasdarkan menjadi “islaman” yang berarti damai.

2. Pengertian rahmatan

Kata ‘rahmatan” kata bahas Arab yaitu “rohima” yang dimasdarkan menjadi “ rahmatan’ yang artinya kasih saying.

3. Pengertian lil’alamin

Kata “Al-alamin” adalah kata bahasa Arab yaitu “alam” yang dijama’kan menjadi “alamin” yang artinya alam semesta yang mencakup bumi beserta isinya.

Maka yang dimaksud dengan islam rahmatan lil’alamin adalah islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

PENGERTIAN DIINU AL-ISLAM


PENGERTIAN ISLAM SECARA BAHASA

Kata “ISLAM” berasal dari kata Asalama-yuslimu-islaman yang mempunyai arti semantik sbb:

  1. Tunduk dan patuh ( istislam-istislam)

  2. Berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama-taslim / tawakkal)

  3. Mengikuti (atba’a – itba’)

  4. Menunaikan-menyampaikan (adda’-ta’diyah)

5. Masuk dalam kedamaian, keselamatan, atau kemurnian (dakhala fi as-salm au –silm au as- salam).



PENGERTIAN SYARI'AT

Islam dalam istilah syariat dibedakan menjadi dua macam, yakni :

Duna al Iman (tanpa Iman), yaitu pengakuan keislaman dengan lisan tanpa adanya iman di hati. Ini imannya orang munafik. Firman Alloh QS. Al Hujrat 14 :

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آَمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ [الحجرات/14

“Orang-orang Arab budui itu berkata:”Kami telah beriman .”Katakanlah (kepada mereka):”Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber- Islam (tunduk secara lahir), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.”

Fauqa al Iman (dengan Iman), yaitu pengakuan Islam yang dibarengi dengan keyakinan dalam hati, dibarengi dengan perbuatan, dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Alloh pada semua qodho’ dan qodar-Nya. Inilah muslim sejati/mukmin sejati.

أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [البقرة/131]



…Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta Alam (QS. Al Baqarah 2:131)



PENGERTIAN ISLAM SEBAGAI SATU-SATUNYA AGAMA ALLOH SWT.



إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19) آل عمران/19

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) Alloh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa kafir terhadap ayat-ayat Alloh, maka sesungguhnya Alloh sangat cepat siksa-Nya
(QS. Ali Imran 3:19).”

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ [الشورى/13

Dan telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, (yaitu):”Tegakkanlah agama Islam dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya (QS. Asy Syura:13).”
Sabda nabi saw:

الأنبياء أولاد علات ، أمهاتهم شتى ودينهم واحد

“Para nabi itu bersaudara. Mereka putera-putera dari berbagai perempuan, Ibu mereka berlainan, tetapi agama mereka satu
(HR. Bukhari-Muslim)

Pada hakekatnya Islam adalah agama Alloh yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya sejak nabi Adam as sampai dengan nabi Muhammad saw. Pengertian ini dikuatkan oleh banyak ayat al-Qur’an antara lain :

Lisan nabi Nuh as:

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ [يونس/72

Dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang muslim (QS. Yunus :72)

2. Doa Nabi Ibrahim dan Isma’il

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ [البقرة/12

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh (muslim) kepada Engkau….(QS. Al Baqarah 128)

3. Wasiat Nabi Ibrahim dan Ya’qub kepada anak-anaknya

يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة/132]

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Alloh telah memilih agama ini bagi kamu sekalian, maka janganlah mati kecuali dalam memeluk agama Islam (QS Al Baqarah 132).

4. Perintah Nabi Musa kepada kaumnya

فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ [يونس/84

“Maka bertawakalah kepada-Nya saja, jika kamu sekalian (benar-benar) orang-orang yang muslim (berserah diri) (QS. Yunus :84).

5. Doa nabi Yusuf

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [يوسف/101

….Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang sholeh (QS Yusuf:101)

6. Doa para ahli sihir Fir’aun yang telah beriman kepada Nabi Musa

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ [الأعراف/126

“…Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam (berserah diri) (QS. Al-A’raf :126).

7. Pernyataan Kaum Hawariyyun pengikut Nabi Isa as.

آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ [آل عمران/52

….Kami beriman kepada Alloh dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (QS. Ali Imran :52)

8. Iqrar keislaman Ratu Saba’

وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [النمل/44

….Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Alloh, Tuhan Semesta Alam (QS. An Naml :44)

7. Pernyataan Kaum Hawariyyun pengikut Nabi Isa as.

آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ [آل عمران/52

….Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (QS. Ali Imran :52)

8. Iqrar keislaman Ratu Saba’

وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [النمل/44

….Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Alloh, Tuhan Semesta Alam (QS. An Naml :44)

 ISLAM DENGAN SEBAGIAN AJARANNYA

Dalam berbagai hadits sering dijumpai Rosululloh saw. Mendifinisikan Islam dengan sebagaian ajarannya, yang berarti mendifinisikan keseluruhan (kull) dengan sebagaian (juz’).Ini mengandung maksud bahwa ajaran yang sebagian itu merupakan unsur yang pokok dan sangat penting dalam ajaran Islam. Contoh:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

….(Islam adalah) Sholat lima waktu sehari semalam (HR. Bukhari dll).


الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Islam adalah kamu bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Hamba dan Utusan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Romadhon dan melaksanakan haji jika mampu (HR. Muslim).



Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Alloh. Hakikat Islam adalah agama Alloh swt yang dibawa oleh semua nabi dan rasul-nya, sejak nabi Adam hingga nabi Muhammad saw. 
Asas dari semua ajaran Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul itu adalah keyakinan akan keesaan Alloh (akidah tauhid) dengan kemurnian dan kelurusannya.
Ada dua macam orang ber islam:

a. Duuna iman (tanpa iman);

b. Fauqa al iman (islam dengan keimananan yang mantap.

SEMUA KEMBALI PADA MASING-MASING ... ISLAM TIDAK TERBATAS PADA AGAMA SEMATA NAMUN TERCERMIN DARI SETIAP TINGKAH LAKU DALAM SEHARI'' ,,, 

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila