TANBIIH

الحَمـْدُ للهِ المُــوَفَّـقِ للِعُـلاَ حَمـْدً يُوَافـــِي بِرَّهُ المُتَـــكَامِــلا وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَي النَّبِيِّ المُصْطَفَىَ وَالآلِ مَــــعْ صَـــحْــبٍ وَتُبَّـاعٍ وِل إنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا تَقْوَى الإلهِ مَدَارُ كُلِّ سَعَادَةٍ وَتِبَاعُ أَهْوَى رَأْسُ شَرِّ حَبَائِلاَ إن أخوف ما أخاف على أمتي اتباع الهوى وطول الأمل إنَّ الطَّرِيقَ شَرِيعَةٌُ وَطَرِيقَةٌ وَحَقِيقَةُ فَاسْمَعْ لَهَا مَا مُثِّلا فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَة وَطَرِيقَةٌ كَالبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَلاَ فَشَرِيعَةٌ أَخْذٌ بِدِينِ الخَالِقِ وَقِيَامُهُ بَالأَمْرِ وَالنَّهْيِ انْجَلاَ وَطَرِِيقَةٌ أَخْذٌ بِأَحْوَطَ كَالوَرَع وَعَزِيمَةُ كَرِيَاضَةٍ مُتَبَتِّلاَ وَحَقِيقَةُ لَوُصُولُهِ لِلمَقْصِدِ وَمُشَاهَدٌ نُورُ التّجَلِّي بِانجَلاَ مَنْ تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

hiasan

BELAJAR MENGKAJI HAKIKAT DIRI UNTUK MENGENAL ILAHI

Sabtu, 28 Juli 2012

ADA APAKAH DI BALIK 2 AYAT TERAKHIR DARI SURAT ATTAUBAH ???




لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sesungguhnya telah datang kepadamu, seorang rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin."


اعلم أن مفتاح معرفة الله تعالى هو معرفة النفس، كما قال سبحانه وتعالى: (سَنُريهِم آياتِنا في الآفاقِ وَفي أَنفُسِهِم حَتّى يَتَبَيَّنَ لَهُم أَنَّهُ الحَقُّ).

“Ketahuilah bahwasanya kunci pengetahuan (ma’rifah) kepada Alloh Ta’ala adalah pengetahuan (ma’rifah) tentang diri sebagaimana yang firman Alloh swt : ‘Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar’ “ (QS. Fushshilat, 41 : 53)

من عرف نفسه فقد عرف ربه.

“Siapa yang tahu akan dirinya sendiri sungguh ia tahu akan Tuhannya”.

Dua Akhir surat al-taubah itu merupakan firman Alloh yang artinya “telah datang rasul dari diri kalian sendiri ”.
Mungkin kalau kita hanya mengartikannya hanya dengan dasar tafsir'' semata tentu saja kita tidak akan mendapat hikmah dari ayat tersebut, yang perlu digali adalah maknanya apakah & siapakah Rosul dari dalam dirimu itu ... ???

وتعلم أن هذه الصفات لأي شيء ركبت فيك؛ فما خلقها الله تعالى لتكون أسيرها، ولكن خلقها حتى تكون أسرك، وتسخرها للسفر الذي قدامك، وتجعل إحداها مركبك، والأخرى سلاحك؛ حتى تصيد بها سعادتك. فإذا بلغت غرضك فقاوم بها تحت قدميك، وارجع إلى مكان سعادتك.

“Anda pun perlu tahu dari sifat-sifat yang mana yang ada pada diri anda, mestikah apa yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala menjadi perangkap dan anda pun terperangkap olehnya, ataukah anda yang mesti menundukkannya untuk suatu perjalanan sehingga yang satu menjadi kendaraan dan yang lainnya sebagai senjata, sehingga anda menemukan kebahagiaan anda. Jika anda telah sampai pada tujuan anda maka anda berdiri tegar dan kembalilah pada tempat kebahagiaan anda.”

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ

sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.

وَفِي الْأَرْضِ ءَايَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ

[51:20] Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang yang yaqin.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan pada diri kalian, apakah kalian tidak melihat? AL-DHRIYAT 5 & 21
''bukalah mata tersembunyimu dan lihat! mari, kembali ke akarnya akar asal dirimu."

COBA kita gali makna ayat isro' mi'roj :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

"Maha Suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid yang di muliakan"

APA maksud dari abdihi itu hanya rosululloh ... ???

kemudian phami dengan perintah rosululloh

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صلوا كما رأيتموني أصلي.

sholatlah kamu sekalian seperti yang engkau ketahui tentang sholatku ...

apakah sholat kita sudah seperti sholatnya rosul yang selalu mi'roj ...

apa hubungannya dengan makna ayat attaubah ,,,,,


فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ

[51:23] Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء: 107

Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rohmat bagi semesta alam”. Surat al Anbiya-’:107

وليس شيء أقرب إليك من نفسك،

“Tidak ada sesuatu yang lebih dekat kepada anda daripada diri anda sendiri"

فإذا لم تعرف نفسك، فكيف تعرف ربك؟ فإن قلت: إني أعرف نفسي! فإنما تعرف الجسم الظاهر، الذي هو اليد والرجل والرأس والجثة، ولا تعرف ما في باطنك من الأمر الذي به إذا غضبت طلبت الخصومة، وإذا اشتهيت طلبت النكاح، وإذا جعت طلبت الأكل، وإذا عطشت طلبت الشرب. والدواب تشاركك في هذه الأمور.


Jika anda tidak tahu akan diri anda sendiri, bagaimana anda bisa tahu tentang Tuhan anda. Jika anda berkata, ‘Saya tahu diri saya’, berarti yang anda ketahui fisik luar tubuh anda, yakni tangan, kaki, kepala dan anggauta-anggauta badan lainnya. Namun anda tidak tahu anggota-anggota tubuh yang ada di dalam perut anda.
Anda hanyalah sekedar jika marah marah-marah kepada seseorang, untuk memenuhi syahwat anda kawin, jika lapar anda makan, jika haus anda minum.
Jika demikian samalah anda dengan binatang ?”

sedang orang'' jawa leluhur lokal tanah jawi mengajakan jika manusia itu telah mengerti "SANGKAN PARANE DUMADI" pastilah manusia itu akan selalu "MEMAYU HAYUNING BAWONO"
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rohmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

Banyak orang-orang yang menganggap bahwa setelah rasul wafat maka sudah terhenti sampai di situ saja, padahal syafaatnya tetap mengalir hingga hari akhir dan hari keabadian kepada orang-orang yang dikehendakiNya.

 Di dalam anfus atau diri setiap manusia telah diberi oleh Alloh seberkas cahaya yaitu cahaya Muhammad, dari cahaya itulah kita dapat menggali tentang ilmu apapun, dari cahaya itulah kita dapat mengetahui awal dan akhirnya suatu kehidupan, dan dari cahaya itulah kita dapat melangkah.
Menghisab setiap hembusan nafasnya, kedurhakaan hati dan anggota tubuhnya setiap saat. Amat sangatlah berharga detak jantungnya dalam mengisi kehidupannya. Muhasabah nafsi tidaklah dilakukan setahun sekali, sebulan sekali ataupun seminggu sekali.

Tapi tiap-tiap saat di setiap akhir malamnya. Di setiap gerak aktifitas jiwa dan raga, sampai apapun yang terlintas di benak kita.
Menghitung hari demi hari sebagai suatu perdagangan dengan Alloh Ta’ala.
Apakah keUntu-ngan atau kerugiaan yang akan kita dapatkan ?

Jadi guru sejati telah ada dalam diri kita masing-masing yang sering disebut hati nurani. Bagaimana agar cahaya itu dapat menerangi kita, tentu saja kita harus selalu bertafakkur ,muhasabah diri mengasah, mengasih, dan mengasuh dengan senantiasa memuji kepadaNya dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apa saja.


Oleh karena Manusia perlu tahu akan diri sendiri yang sejatinya, sehingga mengenal siapa diri ini, dari mana datang sampai di dunia ini, untuk apa diciptakan, serta di manakah letak kebahagiaan yang sejatinya. Kemudian, dalam diri manusia terdapat tiga anasir sifat : sifat binatang, sifat setan, dan sifat malaikat. Di samping itu ada ruh sebagai pinjaman yang manusia tidak tahu apa sejatinya ruh itu.

Jika kebahagian hanyalah makan, minum, tidur, dan memenuhi kebutuhan nafsu syahwat berarti samalah dengan binatang. Jika kebahagiaan hanyalah kelihaian melakukan trik-trik, kelicikan, dan kejahatan berarti samalah dengan setan. Sedang mencapai kesaksian (musyahadah) keindahan Ilahiah merupakan kebahagiaan Semoga kita semua selalu dalam bimbingan Muhammad Rosululloh SAW. Amiin.

ِ أُوصيكُمْ ونَفْسِي بتقْوى اللهِ عزَّ وجلَّ، وأحثُّكُمْ علَى طاعتِهِ، قالَ تعالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَاجْمَعِ اللَّهُمَّ أُمَّتَنَا عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ، اللَّهُمَّ أصلحْ لنا دينَنَا الذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وأصلحْ لنا دُنيانَا الَّتِي فيهَا معاشُنَا وأصلحْ لنا آخِرَتَنَا التي فيها معادُنَا، وَاجْعَلِ الحياةَ زيادةً لنا في كُلِّ خَيْرٍ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ مَرِيضًا إِلاَّ شَفَيْتَهُ وَعَافَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنَا يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، ونسأل الله تعالى بأسمائه الحسنى وصفاته العلا أن يبارك لنا في شعبان، وأن يبلغنا رمضان، وأن يكتب لنا فيه الرحمة والرضوان والعتقَ من النيران سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ. وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ


BERFIKIR JAWABAN ADA PADA DIRIMU SENDIRI SALAM

Jumat, 27 Juli 2012

PENGARUH LINTASAN HATI PADA MANUSIA

                                                                      


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ


"Hai manusia, sesungguhnya janji Alloh adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Alloh."


إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. Al-Fathir Ayat 6

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. Yaasin Ayat 60

Sudah selayaknya seorang hamba bekerja dengan sungguh – sungguh untuk menolak musuh itu dari dirinya dengan sekuat tenaga, bukannya malah banyak bertanya asal usul musuh, bangsanya atau tempat tinggalnya, bagi yang sudah mengerti.

Sekarang hendaklah kita banyak bertanya tentang senjata syaithon pada diri manusia, agar dapat menolaknya, senjata syaithon adalah terutama hawa, nafsu dan syahwat dan itu cukup untuk membinasakan umat manusia yang kebanyakan tanpa ia sadari.

Adapun mengetahui dzatnya syaithon, sifat – sifatnya serta hakikatnya maka kita berlindung kepada Alloh swt daripadanya syaithon tersebut, yang demikian ini adalah medan perangnya bagi orang – orang yang berakal untuk mencapai mukasyafah, bagi orang yang hanya cukup mengetahui ilmu muamalah sudah memadailah baginya akan bahwasanya syaithon itu musuh yang nyata dan tegas.

Bagi orang – orang yang cukup arif untuk mendalami sesungguhnya ilmu agama adalah harus mengetahui akan beberapa lintasan pada hati, yaitu :
Lintasan hati yang dapat di ketahui secara pasti, yakni bahwa syaithon senantiasa membawa kepada kejahatan, dan ini di namakan dengan was – was,

Lintasan hati yang juga di ketahui membawa kepada kebaikan, maka inilah yang di namakan dengan ilham,

Lintasan hati yang tidak di ketahui, sehingga kita menjadi bimbang dan ragu, ragu akan apakah ini datang dari malaikat ataukah syaithon, karena termasuk tipu daya syaithon juga dengan sikap yang mengeluarkan perbuatan baik tetapi sesungguhnya adalah kejahatan, inilah dia yang sebenarnya hati Sanubari, hanya saja apa keputusannya harus di sertai dengan akal dan pikiran serta ilmu kebenaran.

Membedakan hal inilah yang paling sulit untuk di laksanakan, kebanyakannya para ahli ibadah terjerumus dan binasa pada hal ini, sebab jika syaithon tidak sanggup mengajak mereka kepada kejahatan yang tegas, lantas mereka mengajak kejahatan yang menggambarkan dengan kebaikan,


Contohnya begini : “Apakah kamu tidak memperhatikan kepada sekeliling kamu ? 


Banyak mereka yang lalai karena kebodohan, rusak dan binasa serta hampir masuk ke neraka ? 
Tidakkah kamu merasa kasihan pada mereka ?


Sedangkan kamu bisa menyelamatkan mereka dari kecelakaan tersebut dengan nasihat dan petunjuk kamu ? 


Sesungguhnya Alloh Swt telah mengaruniai kamu akan kebijakan dan kefasihan lidah serta gaya bicara yang mempesona ummat ?”

Nah, pada hal inilah kita perlu hati – hati dalam menentukan sikap, jika sempat merasa bangga akan kebolehan ilmu yang kita miliki, maka sesungguhnya ini adalah sifat yang buruk di namakan dengan “ujub (mengherani diri sendiri/bangga), takbur dan sombong, kita sudah tergelincir kejurang kesesatan dalam hal ini karenanya.

Syaithon tiada henti – hentinya menggunakan cara ini yang paling halus pada orang – orang yang berilmu dan berakal agar mereka tergelincir ke neraka, syaithon senantiasa mengajak kepada mereka agar membagus – baguskan pembicaraan dan menampakkan kebaikan dengan sengaja dan di buat – buat karena mentang – mentang telah berilmu dan ahli ibadah dari orang lain.

Syaithon senantiasa meniupkan lintasan – lintasan hati yang bersifat ria, ia bisikkan seluruh perbuatan baik tetapi dia selipkan perasaan ria, ujub, suma’ah dan lain – lain tanpa di sadari, inilah pekerjaannya syaithon bagi seorang yang alim dan ahli ibadah, ia mengira bahwa dia memperoleh kedudukan di sisi Alloh Swt, padahal dialah orang – orang yang paling merugi, seperti golongan orang – orang yang di sabdakan oleh Rosululloh Saw :


ان الله لا يؤيد هذه بقوم لا خلق لهم 


Artinya : “Sesungguhnya Alloh Swt telah mengukuhkan agama ini dengan segolongan orang yang tidak ada nasib bagi mereka (kebaikan). Hadist Riwayat Nasai.


 ان الله لا يؤيد هذه  برجول فجر 


Artinya : “Sesungguhnya Alloh Swt telah mengukuhkan agama ini dengan orang lelaki yang menyeleweng dari kebenaran. Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim.

Penipuan syaithon dari jenis ini tidak pernah habis sampai hari kiamat, dan dengan penipuan seperti inilah banyak membinasakan para ulama, ahli ibadah, orang – orang zuhud, orang yang kaya, orang yang fakir harta serta orang – orang yang membenci akan kejahatan dzohir dan nyata sementara dia termasuk pada orang yang membuat kejahatan dengan tersembunyi, ini akan di perhitungkan besok (hisab).

Kesimpulannya setiap orang harus selalu memperhatikan langkah dan tujuannya, perhatikan dengan sungguh tujuan yang terlintas tadi dengan menggunakan mata hati yang telah dibaluri dengan dzikrulloh, kita melihatnya atas ketaqwaan dan nur taqwa, pandangan bathin dan berdasarkan ilmu, 


sebagaimana Firman Alloh Swt :


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ


"Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."


وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


"'Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Alloh. Sesungguhnya, Alloh Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang – orangnya taqwa itu apabila di ganggu oleh sekelompok syaithon, lantas ia ingat (kembali kepada nur ilmu) maka kalau begitu mereka bisa melihat (terbuka bagi mereka)”. Al-A’raf Ayat 201


“Menyerahkan diri secara mutlak kepada Alloh Swt, sesuai dengan ajaran Rosululloh Nabi Muhammad Saw untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat”


Walloohua'lam

KENYATAAN DIRI DAN PROSES PENGEMBANGAN-NYA




الحَمْدُ للهِ الَّذِي بَلَّغَنَا رمضانَ، شهرَ الجودِ والإحسانِ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ذُو الجَلالِ والإِكرامِ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الأَنَامِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.





Insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak yaitu Tuhan. Kedua, insan kamil yang jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi diriNya



إن الله خلق آدم على صورت





لقد خلقنا فى أحسن تقويم





كنت كنزا مخفيا فأحببت أن عرف فخلقت الخلق فبي عرفوني



Dari hadits tersebut tampak bahwa Alloh ingin dikenal maka di ciptakan-Nya makhluk, dan melalui makhluklah Alloh dikenal. Dari sini semakin jelas bahwa manusia adalah tajalli Tuhan.



Proses pengertian TAJALLI sebenarnya di mulai dari



Tajalli Dzat (hakikat)



Tajali Sifat (ma'rifat)



tajalli af'al (thoriqoh) dan



Tajalli Asma (syari'at)



Kemudian pada perbuatan-perbuatan sehingga tercipta alam semesta.

Akan tetapi dalam rangka meningkatkan martabat rohani,

tajalli tersebut di tempatkan pada urutan terbalik, di mulai dari :



tajalli nama-nama(tajalli al-asma’)



tajalli perbuatan-perbuatan(tajalli al-af’al), ,



tajalli sifat-sifat (tajalli al-shifat), dan



yang terakhir tajalli dzat (tajalli al-dzat)



Kemudian di lanjutkan konsep tanazul (turun) dan turaqqi(pendakian).



Dalam proses tanazul Tuhan mengambil tiga tahap yaitu ;



ahadiyah,



hawiyah dan



Aniyah.



Pada tahap ahadiyah Tuhan dalam keabsolutan-Nya baru keluar dari al-‘ama, kabut kegelapan, tanpa nama dan sifat.



Pada tahap hawiyah nama dan sifat Tuhan telah muncul,

tetapi masih dalam bentuk potensial.



Pada tahap Aniyah, Tuhan menampakkan diri dengan nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. Dan tajalli Tuhan yang paling sempurna terdapat pada insan kamil



Untuk mencapai tingkat insan kamil sufi mesti mengadakan taraqqi melalui tiga tingkatan yaitu:

Bidayah, Tawassuth, dan khitam.

Pada tingkat Bidayah seseorang mulai dapat merealisasikan asma-asma dan sifat-sifat Tuhan.



Pada tingkat tawassuth seseorang tampak sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan dan sebagai realitas kasih sayang Tuhan.



Dan pada tingkat khitam seseorang telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh Pada tingkat inilah seorang sufi menjadi insan kamil & Insan kamil ini merupakan



mikrokosmos dan makrokosmos,



jami’ al-haqoiq al-wujudiyah,



qolbnya = arasy),



aqalnya = qolam,



nafsnya = lauh al-mahfudz,



mudrikahnya = kaukab,



al-qowiy = al-muharrikahnya =



asy-syams, dan lain sebagainya tak terbatas oleh apapun ...



Sesuatu bisa dianggap wujud atau ada jika termanifestasikan

dalam apa yang disebut ‘tahapan wujud’ (marâthib al-wujûd),yang terdiri atas 4 hal:



(1) eksis dalam wujud sesuatu (wujûd al-syai’ fî ainih),





(2) eksis dalam pikiran atau konsepsi (wujûd al-syai’ fî al-ilm),



(3) eksis dalam ucapan (wujûd al-syai’ fî al-alfadz),



(4) eksis dalam tulisan (wujûd al-syai’ fî ruqûm)



Kemudian wujud itu terbagi dalam dua bagian : wujud mutlak dan wujud nisbi.

Wujud mutlak adalah suatu sesuatu yang eksis dengan dirinya sendiri dan untukdirinya sendiri, dan itu adalah Tuhan.

Wujud nisbi adalah sesuatu yang eksistensinya terjadi oleh dan untuk wujud lain (wujûd bial-ghoir).



Wujud nisbi ini terbagi dalam dua bagian, wujud bebasdan wujud ‘bergantung’, yang disebut kedua ini berupa atribut-atribut, kejadian-kejadian dan hubungan-hubungan yang bersifat spesial dan temporal.



Sementara itu, wujud nisbi bebas berupa substansi-substansi,

dan ia terbagi dalam dua bagian; materialdan spiritual.



Wujud_______________________________ Nisbi Mutlak________________________________ Bebas Bergantung(substansi-substansi) (Atribut-atribut, kejadian-kejadian, dan hubungan-hubungan yang bersifat spesial dan temporal) _______________________ Material Spiritual



Namun, yang perlu dicatat, apa yang dianggap wujud nisbidiatas tidak sepenuhnya ‘entitas temporal’ melainkan juga‘entitas permanen’ (al-a`yân al-tsâbitah) sebagaimana wujud mutlak.



Intinya semua yang ada dalamsemesta ini, dalam semua keadaannya, telah ada dan persis seperti apa yang ada dalam ilmu Tuhan, sedang ilmu Tuhan sendiri adalah al-a`yân al-tsâbitah.



Setiap urusan dan apa yang ada dalam semesta tidak pernah keluar dari rencana yang telah ditetapkan Tuhan sejak permulaan dalam ilmu-Nya.



خير الناس أنفعهم للناس



Al-Kamil (kesempurnaan) mungkin dimiliki manusia secara potensial (bil quwwah), dan mungkin pula secara aktual (bil fi’li) seperti yang terdapat pada diri wali dan Nabi, namun intensitasnya berbeda-beda. Dan yang paling sempurna adalah Nabi Muhammad



Konsep insan kamil merupakan salah satu kajian dalam dunia sufi yang cukup besar menarik perhatian berbagai kalangan.

Insan kamil merupakan wadah tajalli Tuhan yang paling sempurna.



Posisi insan kamil tidak hanya di tempati oleh satu orang tertentu, tetapi setiap orang berpotensial untuk mencapai derajat insan kamil ketika dia telah mampu memantulkan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan dan telah mencapai kesadaran secara penuh mengenai kesatuan hakikatnya dengan Tuhan.



Dan yang paling tinggi tingkatannya adalah Nabi Muhammad, dengan tanpa menutup kemungkinan bahwa masih ada manusia-manusia lain yang bisa saja sampai pada derajat insan kamil. Namun yang bisa sampai pada tingkatan khitam yaitu tingkatan tertinggi dalam derajat insan kamil hanya satu yaitu Nabi Muhammad.



Jika di lihat, Nabi Muhammad yang merupakan manusia yang paling sempurna ternyata merupakan makhluk multi dimensi. Artinya dalam hal spiritual tidak ada yang mampu melebihi Nabi, namun disamping itu dalam kehidupan sosialnya Nabi adalah manusia yang sangat perduli terhadap kondisi masyarakatnya, bahkan beliau rela mengorbankan diri, keluarga, dan hartanya untuk kepentingan sosial.



Seorang muslim sudah selayaknya mengetahui tentang apa itu insan kamil, kepribadian dan intelektualnya.



Agar dapat membangun dirinya dan Umatnya.








HIKMAH ROMADHON



اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ



وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَاجْمَعِ اللَّهُمَّ أُمَّتَنَا عَلَى الْخَيْرِ وَالسَّدَادِ، اللَّهُمَّ أصلحْ لنا دينَنَا الذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وأصلحْ لن



دُنيانَا الَّتِي فيهَا معاشُنَا وأصلحْ لنا آخِرَتَنَا التي فيها معادُنَا، وَاجْعَلِ الحياةَ زيادةً لنا في كُلِّ خَيْرٍ، اللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ



غَفَرْتَهُ، وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ مَرِيضًا إِلاَّ شَفَيْتَهُ وَعَافَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنَا يَا أَكْرَمَ



الأَكْرَمِينَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ،



ونسأل الله تعالى بأسمائه الحسنى وصفاته العلا أن يبارك لنا في شعبان، وأن يبلغنا رمضان، وأن يكتب لنا فيه



الرحمة والرضوان والعتقَ من النيران، اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها. ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة



حسنة، وقنا عذاب النار. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ. وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Rabu, 25 Juli 2012

TAUHID DALAM TASAWUF ADALAH HUKUM DASAR MENGENAL THORIQOH

                                                        


ILMU TAUHID : Pengertian Tentang hakikat mengenal keESAan Ilah

Berawal dari Mu’alim orang yang bernama Abdul Karim al-jillii menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan muroda al-saalikiin al- waaridiin kajian yang beliau tulis dengan menggunakan huruf arab, mudah-mudahan Alloh meridhoi dan mengizinkan al-faqir menulisnya sebagai wacana kajian untuk sesama MUKMIN ISLAMI yang juga pencari jalan KEBENARAN ALLOH semoga ini tidak melanggar adab untuk sesama murod.

ALKHAMDULILLAH HANYA PADA & BAGIMU YA HAQ ...

Adapun Awalnya ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqoidul Iman

2. Tempat pengambilannya : marji'nya dari Qur’an dan Hadits

3. Kajiannya :

yaitu memuat pengetahuan dari hal membahas ketetapan (kenyataan keESAan Ilah) yang menjadi pegangan kepercayaan kita semua terhadap HADROTI AL-MAULAAHU dan kepada rosul-rosulNya, kajian ini untuk mencermati beberapa HIKMAH yang menjadi kesimpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalilNya
Supaya diperoleh I’tiqod yang yaqin seyaqinNya( kepercayaan yang tidak akan terputus hukum Jazimnya (ketetapan) sekiranya nanti ada kajian yang menyinggung / menaikkan perasaan / dzauk saat menerima hikmah kefahaaman untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan Tauhid yaitu yang menjadi awalnya rasa cinta (ashlul mahabbah).

إذا ابتليت عبدي المؤمن فلم يشكني إلى عواده أنشطته من عقالي وأبدلته لحماً خيراً من لحمه ودماً خيراً من دمه وليستأنف العمل

Bila Aku menetapkan sakit kepada hambaku kemudian dia tidak mengeluh padaku untuk kesembuhannya, maka akan kulepas dia dari jeratan ketetapaKu dan Kuganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dan darahnya dengan darah yang lebih baik (menjadi manusia baru yang masih suci) dan (seraya Kukatakan padanya) “mulailah amal Ubudiyahmu lagi”.

4. wilayah pembahasannya atau Maudu’nya yaitu meliputi pada empat tempat:

a. Pada dzat Alloh Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

b. Pada dzat rosul-rosul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

c. Pada semua kejadian dari segi jirim dan jisim dan arodh sekira-kira keadaannya itu mejadi petunjukNya dan dalil bagi wujud yang menjadikan keADAanNya

d. Pada semua i'tiqod dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar dari kabar yang di sampaikan oleh rosul-rosul Alloh seperti hal-hal penyembahan siapa yang muthlaq di sembah

5. Faedah ilmu TAUHID yaitu untuk mengenali ALLOH BAIK secara LAFADZ dan MA'NAWINYA dan MENGIMANI rasululloh serta hidup setelah akhirat yang kekal.

6. Nisbah (kebangsaan) ilmu Tauhid ini di ibarat ilmu dasar untuk mengenali ALLOH yang menjadi DASAR Agama islam dan menjadi rujukan lain-lain ilmu, yaitu ilmu yang di bangsakan (kenalkan) dari agama islam dan yang paling di utamakan sekali dalam agama islam.

إذا فتحَ لكَ وِجْهةً من التَّعرُّفِ فلا تبالِ معها أن قلَّ عملُكَ فإنه ما فَتَحَها لك إلا وهو يريد أن يتعرَّفَ إليكَ . ألم تعلم أن التَّعَرُّفَ هو مُورِدُهُ عليك والأعمال أنت مهديها إليه وأين ما تُهديه إليه مما هو مُورِدُهُ عليكَ

Jika Allah telah membukakanmu suatu Arah pada kenyataan tentang ma'rifat, maka jangan lagi risaukan amal ibadahmu yang masih sedikit.
Sesungguhnya Alloh takkan membukakan jalan itu untukmu kecuali karena Alloh sendiri hendak mengenalkan diri padamu.

Tidakkah kau sadar bahwa ma'rifat itu Alloh sendiri yang menyuguhkannya kepadamu sedangkan amal ibadah adalah suguhanmu kepada Alloh ?

Di manakah posisi kesungguhanmu (pemberian) sendiri kepada Allph bila dibanding dengan kesungguhan (pemberiana) Alloh kepadamu ?

7. Sedang Orang'' yang mempopulerkankan ilmu Tauhid ini yaitu SAIYID IMAM abu hanifah , Saiyid Imam maliki saiyid imam syafi'i dan saiyid imam ahmad ibnu hambal yang merujuk pada SAHABAT KHULAFAAIRROSYIDIIN , KEMUDIAN DI TERUSKAN oleh Syaeikh ja'far shodiq syeikh hasan al-bashori syeikh abu al-qosim al-juanidi syaikh imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi syeikh abu yahya al-anshori al-damasqusi al-ruslaani dan di kembangkan oleh syeikh al-husein mansur al-hallaj , syeihk abdul jabbar annifari ,syeikh ibnu al-'arobi kemudian di kembangkan lagi oleh 2 murid terkasih dari syeikh ibnu al-'arobi yaitu syeikh muhammad abdul karim al-jilli dan syeikh ibnu 'athoillah assakandari

Ilmu tauhid ini mengenalkan akan dalil ketetapanNya ;

فاعلم انه لا اله الا الله : دلاله على علم الاصول وهو ايضا علم الكلام وهو علم العقيدة الخ.....


ketahuilah sesungguhnya tidak ada wujud yang muthlaq dan ithlaq kecuali alloh semata :petunjuk pada ilmu asal yaitu ilmu kalam yaitu mengantarkan pada ilmu aqidah dan seterusnya



قال ابو القاسم القشيري ( ولا يتاتى الايمان بالشيء الا بعد معرفته )


PENJELASAN SYEIKH ABUL QOSIM AL-QUSAIYRI : IMANNYA SESEORANG PADA SESUATU ITU TIDAK AKAN DATANG SETELAH MENGETAHUI HAKIKATNYA

قال ابو الحسن الاشعري ( اول ما يجب على المكلف معرفة الله ودينه ورسوله )

PENJELASANNYA SYEIKH ABU AL-HASAN AL ASY'ARI : AWALNYA PERKARA YANG DI WAJIBKAN PADA ORANG'' YANG MUKALLAF ITU MENGERTI HAKIKAT ALLOH KEMUDIAN AGAMA & UTUSANNYA

وقال ابن رسلان اول واجب على الانسان معرفة الله باستقان


PENJELASAN SYEIKH IBNU RUSLANI : KEWAJIBAN YANG PERTAMA KALI DI TETAPKAN PADA INSAN YAITU MA'RIFATULLOH

قال الغزالي: (لا تصح العبادةُ إلا بعدَ معرفةِ المعبود

PENJELASAN SYEIKH IMAM AL-GHOZALI : TIDAK SAH (BATAL) IBADAHNYA SESEORANG BELUM MENGERTI ALLOH ,KECUALI SETELAH MENGETAHUI HAKIKAT YANG DIA SEMBAH (ILAH)

Bahwa ma’rifatulloh ini adalah tujuan dari tasawuf murni anjuran yang di wajibkan untuk seluruh umat muslim pemahaman TAUHID ini dapat diperoleh dengan dua jalan

1). Mawahib atau ‘ain al-wujud (sumber Kenyataan kemurahan Tuhan) yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugrah tersebut.

2). Makasib atau madzi al-majhud yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, mulazamah al-dzikir, mulazimah al-wudlu, puasa sholat sunnnah dan amal sholeh lainnya dengan ikhlas.

Pengertian penjelasan ini menolak perkataan mereka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang masyhur menerima ilmu tauhid pada Alloh Ta’ala hanya dengan membaca tanpa berguru serta memakai sanad Rijaalul washilah pada alloh - jibril - nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Alloh Ta’ala dengan jalan Ijmal (Keseluruhan) atau ringkasan begitu juga bagi rosul-rosul Alloh dan dengan jalan tafsil atau uraian seperti penjelasan imam syafi'i dalam syairnya ?

إن الفقـيه هو الفقـيه بفعـله * ليس الفقـيه بنطـقه و مقاله

وكذا الرئيس هو الرئيس بخلقه * ليس الرئيس بقومه و رجاله

وكذا الغـني هو الغـني بحاله * ليس الغـني بملـكه و بماله

Sesungguhnya orang yang faqih (pengamal ilmu fiqih syariat) itu adalah dinilai dengan perbuatannya

Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya

Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya

Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya pengikut dan pembela-pembelanya

Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan)nya Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Alloh saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.

Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa.

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?


9. Kelebihan / keutamaan ilmu tauhid itu : semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu dari pada ilmu yang lain-lain, karena menurut sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam dalam haditsnya:

ان الله تعالي لم يفرض شئا افضل من العلم التوحيد وصيلة ولوكان شئا افضل منه لم ترضه علي ملائكته منهم راكعون ومنهم ساجدون

artinya, Sesungguhnya alloh tidak memfardhukan sesuatu yang terlebih afdhol kecuali pada ilmu tauhid "mengEsakan Tuhan". Jika ada sesuatu yang lebih afdhol daripada Ilmu tauhid niscaya tetaplah yang difardhukan kepada malaikatNya padahal setengah daripada malaikatNya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya

dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan di pelajari oleh seluruh umat islam ,ilmu yang mengenalkan kita kepada dzat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadi maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

10. Akhir dari ilmu Tauhid ini yaitu dapat membedakan antara I’tiqod dan kepercayaan yang Sah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhdisNya .....

==============ooOOooOOoo=================

-Secara lahir dan batin melakukan Taqwa kepada Alloh Swt

-Berkata dan berbuat sesuai dengan As Sunnah rosululloh

-Dalam penciptaan dan pengaturan menolak akan kekuasaan Makhluk

-Baik dalam keadaan sedikit maupun banyak ridho kepada Alloh Swt.

-Baik dalam keadaan senang maupun susah selalu ingat kepada Alloh Swt

-Istiqomah & disiplin belajar

مَا تَرَاكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْأً مَنْ اَرَادَنَ يُحْدِثُ فِى اْلوَقْتِ غَيْرَ اَظْهَرَهُ اللهُ فِيْه

Artinya : “tidak meninggalkan kedunguan sedikitpun (sangat bodoh) orang yang menghendaki perubahan di dalam waktu (yang telah ditentukan) menuju kelain waktu yang Alloh telah menampakannya didalam waktu itu”.

-Nihayah haq

لاَ ِنهَايَةَ ِلمَذَامِكَ اِنْ أَرْجَعَكَ إِليكَ وَلاَ تَفْرَغُ مَدَ فَحِكَ إِنْ أَظْهَرَ وُجُوْدَهُ عَلَيْكَ

Artinya “ tidak ada batas akhirnya (tidak ada selesainya) kejelekanmu jika Alloh mengembalikan kamu kepada kekuatan usaha dan daya upayamu sendiri.

Dan tidak akan ada habisnya kebaikanmu, jika Alloh memperlihatkan kemurahan-Nya kepadamu”

SEMOGA INI MENJADI DASAR KITA UNTUK SELALU MENGKAJI ILMU TAUHID HAQ SERTA SELALU MENGGUNAKAN METODE TA'LIM MUTA'ALLIM DAN MEMAKAI SANAD YANG MENYAMBUNGKAN KITA PADA ROSULULLOH SAW






إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا



"Sesungguhnya, Kami mengutus kamu (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,"



لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا



"supaya kamu sekalian beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan (agama)-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang."



إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا



"Bahwasanya, orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh. Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya (hukuman-Nya) akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar." – (QS.48:10)



يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلا يَسْرِقْنَ وَلا يَزْنِينَ وَلا يَقْتُلْنَ أَوْلادَهُنَّ وَلا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ



"Hai Nabi, apabila datang kepadamu, perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Alloh tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta, yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka, dan mohonkanlah ampunan kepada Alloh untuk mereka. Sesungguhnya, Alloh Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.60:12)





SERTA MEMAKAI METODE DISIPLIN ILMU



Syeikh Saiyid haqqi An-nadzili dalam kitab Khozinatul asror hal 188 menjelaskan dengan tegas apakah Amalan tersebut di amalkan melalui mata rantai atau tidak demikian penjelasan beliau ;



فمن لميتصل سلسلته الي حضرة النبوية فاءنه مقطوع الفيض ولم يكن وارثا لرسولله صلي لااه عليه وسلم ولاتؤخذ منه المبايعة والاجارة لما ورد في الحديث العلماء ورثة الانبياء بأسانيد صلحة ولما اخرجه الطبرني قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم طوبي لمن راني وامن بي وطوبي لمن راي من راني ولمن راي من راي وامن بي طوب لهم وحسن ماب وقال الشيخ ابو عبد الله السلمي قدس الله سره وقوله طوبي لمنراني وطوبيوطوبي لمن راي من راني اي طوبي لمن اثر فيه بركاة نظري ومشاهدتي ولمن فيه مشاهدة اصحابي وهكذا حالا بعد حال الي ان بلغ حكماء الامة واولياء الله في ازمنة فكل من اثر فيه نظر حكيم او مشاهدة ولي فانما ذالك التأثيرمن نظر النبي صلي الله عليه وسلم الي اصحابه وعلي اختلاف احوالهم فاثر كل واحد بحسب حاله ولهذا جرت التأثيرات من الشايخ للمريدين ويجري الي اخر الدهر لان اسناد الحال كاسناد الاحكام



Barang siapa yang mengamalkan amalan thoriqoh dan tidak bersambung sanadnya (matarantai) Gurunya hinggga sampai pada Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam maka amalannya tidak akan mendapatkan Anugrah & berkah dari nabi muhammad saw .dan rahasia cahaya Alloh , Ia tidak mendapatkan warisan Nabi Saw Ia tidak berhak menjadi Guru mursyid (kholifah yang sudah tingkatan membai'at & memberikan talqin pada orang lain) mengingat sabda rosululloh saw . (ulama' adalah pewaris nabi saw) dan syeikh imam thobroni dari ibn busr ra rosululloh bersabda "beruntung sekali para sahabat mendapatkan tempat paling baik di surga ,yang berbai'at kepadaku,dan beruntung sekali para tabi'in yang telah berbai'at pada sahabat begitu juga beruntung sekali para pengikut tabi'in (tabi'it tabi'in) yang telah berbai'at pada tabi'in, dan begitujuga beruntung sekali Khalan (tingkah / prilaku) pada Khalin dari masa ke masa ,beruntung sekali mereka telah mengambil bai'at pada guru mursyid yang mempunyai mata rantai sampai pada saiyidina muhammad saw begitu sampai seterusnya ....



Dengan demikian Arti Thoriqoh Mu'tabaroh adalah jalan / cara tertentu yang di lakukan para salik (pengamal thoriqoh) dengan Tujuan untuk mengenal Ilahi dan amalan tersebut mempunyai mata rantai yang bersambung kepada rosululloh saw yang sah ...







===OOooOO[ TIADA SESUATU YANG SANGAT BERGUNA BAGI HATI SEBAGAIMANA 'UZLAH UNTUK MASUK KE MEDAN TAFAKKUR DALAM KEPASRAHAN ]OOooOO===


.....

BAROKALLOH FIIKUM LILLAHIL'AALAMIIN

PENGERTIAN DAN ATURAN SANAD THORIQOH

"الطريقة هي السيرة المختصة بالسلكين الي الله تعالي من قطع المنازل والتراقي في المقامات "

Thoriqoh Adalah prilaku / amalan / tindakan yang di tentukan (khususkan) Untuk orang-orang yang melalui jalan suluk agar sampai pada alloh ta'ala dengan cara memutus kedudukan (tidak terjebak pada naik turunnya pangkat) BAIK secara duniawi dan ukhrowi semua semata'' hanya lillah bilah ....


Sementara itu dalam hal talqin bai'at  / memberikan iqrar janji Mursyid pada Murod seseorang haruslah sudah mendapat mandat langsung dari mursyid kamil - mukammil & dia sendiri telah memahami hakikat insan kamil billah ...serta mempunyai sanad dari guru yang di atasnya dan di atasnya lagi yang terus menerus menyambung kepada Rosululloh Saw - Saiyidina  Jibril as waila hadroti robbil bariyyah ...

yang demikian ini di sebut mata rantai emas ( di dalam ilmu / mustolakh hadist di sebut sanad ) jadi dalam pengamal thoriqoh harus teliti  masalah sanad seseorang Mursyid baik dalam sanad & masalah keilmuanNya yang bisa di pertanggung jawabkan nantinya.

Syeikh Saiyid haqqi An-nadzili dalam kitab Khozinatul asror hal 188 menjelaskan dengan tegas apakah Amalan tersebut di amalkan melalui mata rantai atau tidak demikian penjelasan beliau ;

فمن لم يتصل سلسلته الي حضرة النبوية فاءنه مقطوع الفيض ولم يكن وارثا لرسولله صلي لااه عليه وسلم ولاتؤخذ منه المبايعة والاجارة لما ورد في الحديث العلماء ورثة الانبياء بأسانيد صلحة ولما اخرجه الطبرني قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم طوبي لمن راني وامن بي وطوبي لمن راي من راني ولمن راي من راي وامن بي طوب لهم وحسن ماب

وقال الشيخ ابو عبد الله السلمي قدس الله سره وقوله طوبي لمنراني وطوبيوطوبي لمن راي من راني اي طوبي لمن اثر فيه بركاة نظري ومشاهدتي ولمن فيه مشاهدة اصحابي وهكذا حالا بعد حال الي ان بلغ حكماء الامة واولياء الله في ازمنة فكل من اثر فيه نظر حكيم او مشاهدة ولي فانما ذالك التأثيرمن نظر النبي صلي الله عليه وسلم الي اصحابه وعلي اختلاف احوالهم فاثر كل واحد بحسب حاله ولهذا جرت التأثيرات من الشايخ للمريدين ويجري الي اخر الدهر لان اسناد الحال كاسناد الاحكام

Barang siapa yang mengamalkan amalan thoriqoh dan tidak bersambung sanadnya (matarantai) Gurunya hinggga sampai pada Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam maka amalannya tidak akan mendapatkan Anugrah & berkah dari nabi muhammad saw .dan rahasia cahaya Alloh , Ia tidak mendapatkan warisan Nabi Saw Ia tidak berhak menjadi Guru mursyid (kholifah yang sudah tingkatan membai'at & memberikan talqin pada orang lain) mengingat sabda rosululloh saw . (ulama' adalah pewaris nabi saw) 
dan syeikh imam thobroni dari ibn busr ra rosululloh bersabda "beruntung sekali para sahabat mendapatkan tempat paling baik di surga ,yang berbai'at kepadaku,dan beruntung sekali para tabi'in yang telah berbai'at pada sahabat begitu juga beruntung sekali para pengikut tabi'in (tabi'it tabi'in) yang telah berbai'at pada tabi'in, dan begitujuga beruntung sekali Khalan (tingkah / prilaku) pada Khalin dari masa ke masa ,beruntung sekali mereka telah mengambil bai'at pada guru mursyid yang mempunyai mata rantai sampai pada saiyidina muhammad saw begitu sampai seterusnya ....

Dengan demikian Arti Thoriqoh Mu'tabaroh adalah jalan / cara tertentu yang di lakukan para salik (pengamal thoriqoh) dengan Tujuan untuk mengenal Ilahi dan amalan tersebut mempunyai mata rantai yang bersambung kepada rosululloh saw yang sah ...


قُل هٰذِهِ سَبيلى أَدعوا إِلَى اللَّهِ ۚ عَلىٰ بَصيرَةٍ أَنا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنى ۖ وَسُبحٰنَ اللَّهِ وَما أَنا۠ مِنَ المُشرِكينَ


“Katakanlah: ""Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Surah Yusuf, ayat 108).

Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda,
“Sahabat-sahabatku adalah Di ibarat bintang di langit. barangsiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar”.

Pandangan yang jelas (bashiroh) datangnya dari mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang telah sampai kepada Alloh, yang menjadi sahabat Alloh.



Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (bashiroh). 


Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya dari alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir dari kesadaran Ilahi. 

وَعَلَّمنٰهُ مِن لَدُنّا عِلمًا



“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).

Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (bashiroh) yang mata hatinya tajam, dan nasehat serta bimbingan dari orang yang seperti ini adalah perlu. 



Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, guru yang telah mengenal  Alloh  dengan hakikat dan penyaksian alam mutlak. 

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah karena melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan

agar dikaruniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Alloh memerintahkan:

وَسارِعوا إِلىٰ مَغفِرَةٍ مِن رَبِّكُم وَجَنَّةٍ عَرضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالأَرضُ أُعِدَّت لِلمُتَّقينَ


الَّذينَ يُنفِقونَ فِى السَّرّاءِ وَالضَّرّاءِ وَالكٰظِمينَ الغَيظَ وَالعافينَ عَنِ النّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ المُحسِنينَ

“ Dan bersegeralah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”. (Surat Imraan, ayat 133 & 134).

Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kholifah kerohanian untuk kembali kepada Tuhan kamu.



Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi.


Kita tidak datang ke bumi ini untuk merusak dunia ini.
Kita diturunkan ke mari bukan untuk makan, minum dan berak.
Roh penghulu kita menyaksikan kita.
Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu.
Baginda s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari
apabila baginda s.a.w bersabda,

“Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

Apa saja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk,

secara nyata atau tersembunyi ,nyata dalam bentuk peraturan umum dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau ma'rifat. 
Alloh Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan lahiriya kita dengan mematuhi peraturan syari’at dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperoleh hikmah kebijaksanaan atau ma'rifat. 


Bila lahir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau ma'rifat dengan peraturan agama (syari’at) bersatu, seseorang itu sampai kepada maqom yang sebenarnya (hakikat).

Kedua-duanya mesti menjadi satu.

Kebenaran atau hakikat tidak akan diperoleh dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan hanya tentang alam kebendaan.


Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai sumber, yaitu dzat Muthlaq yang mahdlun (murni). Ibadah dan penyembahan memerlukan kedua-duanya
yaitu peraturan syari’at dan makrifat. Alloh berfirman tentang ibadah: 

وَما خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعبُدونِ



“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).

Dalam lain perkataan, ‘mereka diciptakan supaya mengenali Aku’. Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia boleh memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan beribadah kepada-Nya?

Ma'rifat yang diperlukan bagi yang ingin mengenali-Nya & boleh dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang,

Menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga berkilaulah cahaya cermin itu. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi
akan memancar pada rahasia cermin hati.

WALLOHU'ALAM 

=======OOOO=======


PENGENALAN & PEMAHAMAN DIRI AKAN JIWA


Tingkatan-tingkatan dalam pengenalan dan pemahaman DIRI... 





secara realita dan secara logika..





1.naluri..





2.akal dan budi...





masuk dalam kesadaran diri...





3.pengenalan terhadap roh atau sifat roh...





4.pengenalan terhadap jiwa....





ruh sangat dipengaruhi oleh tiga sifat tri guna..yaitu satuan(esa), raja' (pengharapan/aktif), tamat (waqof /pasif)...





itu yang menyebabkan manusia memiliki diri atau sifat-sifat yang berpengaruhdisana...





sattwam berhubungan dengan sifat baik, kebijaksanaan dsb...





sedangkan rajas berhubungan dengan nafsu, rajin, ambisi dsb...





tamas berhubungan dengan sifat malas, bebal, cuek, tidak mau maju.. dsb





dengan mengenal DIRI sebagaimana diri itu, maka manusia bisa mencapai sifat yang dileburkan oleh sifat ILAHI..yaitu menSIFATINYA....





manakah sifatnya....yaitu satuan, dengan raja' yang sesuai dengan pengendalian satuan..dan nol tamat / wukufiyah ...





sedangkan pengenalan terhadap jiwa adalah pengenalan terhadap DIRI yang terdapat pada suatu ENTITAS AGUNG tersebut...menyatu dengan JIWA pada dasarnya adalah pembebasan itu sendiri..





 bagaimana pengenalan jiwa itu dilaksanakan?? banyak cara tergantung dari pemahaman serta praktek2 spiritual dari masing2 orang...ada dengan saderhana (seperti menjalankan kewajibanNYA secara mutlak), telaah kitab dengan penerapannya, bekerja tanpa pamrih sembari mengenalNYA dalam budaya kerja tersebut, atau dengan teknik-teknik meditasi)..yaps dijalankan sesuai kemampuannya... 





selanjutnya ADA pada panggilan masing''





dan jangan tanya mana jalanMU ...



اعلم أيها الإنسانُ العاقلُ أنَّ الله تعالى أعطاكَ العقلَ وهو هيئةٌ راسخةٌ في الإنسانِ يُمَيِّزُ بها بينَ الحسَنِ والقبيحِ وبينَ ما ينفعهُ وما يضُرُّهُ فلا ينبغي للعاقِلِ أن يُهدِرَ هذا العقلَ الذي أنعَمَ الله به عليه

KETAHUILAH , hai manusia yang bijaksana bahwa Alloh telah memberi Anda pikiran, tubuh yang didirikan pada manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan apa yang akan menguntungkan dia dan membahayakan dirinya tidak ada orang waras seharusnya ditawarkan ini pikiran yang Alloh telah diberikan kepada Aqal .... jika dirimu waras TEMUKAN lah di balik NUSIA kalalaianmu .... semuanya

“Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang di tetapkan, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berfikir.”
“Dan kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa : “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba – hambaKu (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan di susuli.”

“Dia di bawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).”

Ruh yang menggerakkan badan atau jasmani suatu saat akan meninggalkan jasmaninya tersebut dengan jalan kematian, yang akan meninggalkan jasmani tersebut adalah ruh yang telah di tiupkan kedalam jasmani tersebut melalui di panggil kembali atau dicabut oleh malaikat izra’il yang memang bertugas untuk menjemput ruh atau nyawa dari seseorang anak manusia (adam).

 Ruh dan jiwa itu tidak berbeda satu kesatuan dan beda fungsinya semata, jika ada yang mengatakan bahwa berbeda adalah suatu hal yang keliru, sebab berdasarkan dalil – dalil dari Al-Qur’an dapat di ketahui akan hal ruh ini adalah yakni suatu jiwa di cabut oleh malaikat dan di bawa kembali kepada penciptaNya.

Ruh inilah yang menimbulkan kehidupan dan kehidupan akan lenyap bersamaan dengan perginya ruh ini (mati), jadi kata – katanya saja yang berbeda tetapi maknanya sama saja, yaitu ruh atau jiwa adalah sama atau satu jua adanya, perbedaannya terletak adalah jika ruh bersatu dengan jasmani atau badan, maka kerap kali di namakan dengan jiwa, jika telah meninggalkan badan atau jasmani (mati/di cabut) maka di namakan dengan ruh, demikian adanya letak perbedaan tetapi maknanya satu jua.

Ruh di ciptakan atau asal kejadiannya tidak berupa dari benda alam nyata yang wujud ini, maknanya tidak ada misalnya dengan di dunia ini, maka dari itu manusia tidak akan dapat mengetahui akan sifat – sifat atau dzatnya, tetapi Alloh Swt menjelaskan kepada manusia bahwa ruh itu bisa naik dan turun, mendengar, melihat serta berbicara seperti layaknya yang di perbuat oleh jasmani kita sekarang ini, walau begitu sifat mendengarnya, melihatnya dan berdirinya serta lain sebagainya bukanlah seperti yang kita ketahui sekarang ini, jadi hati – hati juga dalam menafsirkannya, contohnya

Rosululloh Saw menceritakan perjalanan ruh adalah bahwasanya ruh itu di bawa ke langit kemudian di kembalikan ke kuburnya dalam waktu singkat untuk di beri kenikmatan atau siksaan, tentu definisinya berbeda dengan keadaan alam nyata.


 Ruh menyebar di seluruh badan dan tiada suatu tempat khusus bagi ruh ini dalam jasmani atau jasad, prosesnya seperti kehidupan menyeluruh yang automatis, apabila di masukkan ruh tersebut maka secara keseluruhan akan menjadi hiduplah seluruh badan tersebut tanpa kecuali, begitu juga sebaliknya.

Apabila ruh tersebut meninggalkan jasmani atau jasad, maka secara otomatis pula seluruh jasad atau jasmani tersebut akan mati seketika, beginilah kinerjanya ruh dalam bersatu dengan jasad atau jasmani, tidak ada tempat yang khusus tetapi meliputi secara keseluruhan terkhusus bagi jasmani atau jasad.

 Ruh ini di ciptakan seperti layaknya makhluk yang di ciptakan lebih dahulu daripada jasad atau jasmani anak adam, jelasnya ruh lebih dulu di ciptakan daripada jasad, sebagaimana di jelaskan Alloh Swt berikut ini :

قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagiKu, dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Surah Maryam Ayat 9).

Jiwa yang membawa kepada sifat mencela dan mengumpat serta menyesali diri sendiri, sehingga ianya selalu melakukan perbuatan dosa seperti, mengumpat dan menyesali diri, sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surah Al-Qiyamah Ayat 2 yang berbunyi :

وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَه

"Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?."

Ini sifat ruh jika telah di panggil kembali ke hadiratNya adalah selalu menyesali akan ingin kembali ke dunia supaya dapat membuat amal perbuatan yang lebih banyak lagi, sementara sewakti dia di dunia sifat jiwa ini membawa kepada sifat suka mengumpat dan mencela – cela diri sendiri ataupun orang lain, yang jelas sifat adalah perbuatan dosa.

dan ikatan itu muthlaq HaqNya

وَلا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

"dan tiada seorangpun yang mengikat, seperti ikatan-Nya."

Jiwa yang membawa kepada ketenangan jiwa,

Sebagaimana firman Alloh Swt dalam Al-Qur’an Surah Al-Fajr Ayat 27-30 yang berbunyi :
Ayat 27. Artinya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

“Hai jiwa yang tenang.”

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

 Ayat 28. Artinya : “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas serta di ridhaiNya dengan hakikat keridhoannya.”

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

"Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku," 


barokalloh fiikum lillahi al-'aalamin

Selasa, 24 Juli 2012

TANYA JAWAB MAHLUK & HABIBULLOH


Salaamun Alailka Yaa Habiballooh
Wa salamun alaikum Yaa 'Ibadallooh

Kabarkan kepada ku tentang kehidupan di dunia ini,
Tidaklah ia melainkan suatu ilusi yang nyata,
dan Senda-Gurau yang melalaikan jiwa.

Kenapa begitu kejadiannya Yaa Habiballooh ?

Tidak lain dan tidak bukan melainkan ia suatu ketetapan bagi Alloh menentukan siapa di kalangan hamba-hamba Nya yang ber-Ihsan di dalam amalan mereka,,,

Karena itu Sayyidul Mursaliin mengatakan yang paling bijaksana di antara kamu ialah mereka yang meninggalkan Ad-Dunya dan seterusnya membuat persiapan untuk mendiami Al-Aakhiroh sebagai tangga kembali kepada Alloh, walaupun masih hidup di dunia ini.

Bagaimana aku bisa meninggalkan Ad-Dunya ini Yaa habiballoh ?

Carilah oleh mu Wasilah yang bisa mengantarkanmu pada Kenteramkan hati kamu,Ingatlah akan asal dan tempat kembalimu,
Duduklah dengan Nabi mu dengan memperbanyakkan sholawat ke atasnya karena sekalian yang duduk pada maqomnya akan selamat.

Lihatlah akhir hayat para Sahabatnya semua,
Kemudian fungsikan Aqal mu agar berlaku jujur pada pemerhatianNya serta selalu belajar untuk menggali setiap pelajaran Hidup Ini ,Pastikan hati mu ikhlas di dalam menjalani kehendakNya.

Bagaimana aku bisa mempersiapkan Al-Akhiroh ku Yaa Sayyidi?

Kembalikanlah jiwa mu kepada Pencipta dengan istighfar, karena tatkala itu Dia kan mendakapmu dengan penuh kasih dan sayang saat ketepan penjemputanmu,

Nafikanlah keberadaan Diri & Ad-Dunya mu karena ia bukanlah sebab kamu di ADA'kan,Ad-Dunya itu tidak lebih dari satu sandiwara yang palsu belaka… tetapi sempurna penciptaannya karena ia menempati hukum yang telah ditentukan yang menjadi ketetapaNya,
Bersihkanlah hatimu karena di situ lah kamu akan menemukan Al-Akhiroh mu dan di situlah kamu akan menemukan Jalan Lurus di mana ada sebuah pilihan selamat & tidak selamat ...

Bukankah kamu sudah mengakui bahwasanya sekalian yang ada pada diri kamu itu adalah pinjaman semata-mata dari Dzaatul-khaq Yang Maha Esa?

Apakah kamu memiliki hati dan aqal kamu?

Apakah kamu yang menciptakan penglihatan dan pendengaran kamu?

Apakah kamu yang memiliki kekuatan kedua-dua tangan dan kaki kamu?

Jika benar kamu lah pemiliknya, mengapa kamu menjadi buta dan tuli?

Mengapa kamu menjadi lemah setelah diri mu itu dimakan usia?

Kabarkan kepada ku wahai jiwa!

Bisakah kamu hidup tanpa mati, jika benar kamu lah pemilik segala apa yang ada pada diri kamu itu?

Tinggalkan Diri & hawa nafsu mu dan kembalikan ruh mu kepada Pemiliknya yang sebenar-benarnya dengan mengaku kedho’ifan,kefana'an dan kefaqiran mu itu,

Kamu tidak akan bisa berjumpa dengan kemenangan melainkan Dia yang memenangkan kamu !!

Biarlah Dia saja yang membersihkan hati mu dengan NurNya yang menerangi langit dan bumi,

Pasrahkanlah diri & jiwamu dari sekalian khayalan dan angan-angan yang tercipta oleh kehendak hawa nafsu,

Janganlah kamu berkehendak sekecil apa pun melainkan ia yang berkehendak (Ilahi)

Dan perhatikanlah bahwasanya kamu tidak meninggalkan Ad-Dunya kamu, selagi itulah keberadaan kamu itu didalam dosa yang nyata …

Dan sesungguhnya… tiadalah berarti kehidupan kamu itu jika Al-Akhiroh tidak engkau Fahami....


Hendak pulang ke kampung akhirot Bertemu siapa ??
Apakah bertemu alloh ... sedang diri & jiwamu belum mengenalNya ....... tidak perlu menunggu mati, pertemuan itu seharusnya dilakukan di dunia ini juga dengan jalan “mati sebelum mati” atau ” Titik ghoib, maka nyatalah Al-Ilah, atau, Ghoiblah Hamba, maka Nyata Wujudlah Al-Ilah )

RAHASIA DALAM DIRI YANG HARUS DI KENALI UNTUK KEMBALI PADA FITHRAHNYA

1. Kenalilah dirimu.

2. Menjaga segumpal daging, yang bila baik akan menentukan kebaikan anggota jasad dan bila rusak akan menetukan kerusakan seluruh jasad.

 3. Bila kamu menjaga dan menerima segala yang datang dari Alloh niscaya perlindungan dan pemeliharaan-Nya akan selalu menyertaimu.



قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ “



Sungguh telah datang kepada kalian hujjah dari Robb kalian. Maka barang siapa melihatnya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa buta darinya atasnya dan aku bukan sebagai penolong atas kalian.” (Al-An’am: 104)



وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ “



Dan barangsiapa melakukannya maka sungguh dia telah mendzolimi dirinya sendiri.”(Al-Baqarah: 231)



Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:



فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ “



Barangsiapa menemukan kebaikan maka hendaklah dia memuji Alloh dan barangsiapa mendapatkan selainnya janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

 Dari Abdulloh bin ‘Umar rodhiallohu ‘anhuma ia berkata: “Rosululloh memegang pundakku lalu berkata: ‘Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau penelusur jalan.” Ibnu Umar berkata: ‘Bila kamu berada di sore hari maka jangan kamu menunggu sampai datangnya pagi hari dan bila kamu berada di pagi hari jangan menunggu datangnya sore hari dan ambillah (kesempatan masa sehatmu) sebelum datang (masa) sakitmu dan hidupmu sebelum datang matimu.

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ اْلأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ

 Dari Abi Bazrah Al-Aslami rodhiallohu ‘anhu ia berkata: dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan tergelincir kedua kaki pada hari kiamat sehingga ditanya: “Tentang umurnya di mana dia habiskan, tentang ilmunya apa yang diperbuat, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia pergunakan dan tentang jasadnya di mana dia hancurkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ

 Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu ia berkata: telah bersabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah, akan tetapi setiap (dari mukmin yang kuat dan lemah) memiliki kebaikan, bersemangatlah untuk melakukan segala yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Alloh dan jangan bermalas-malasan.


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 Dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata: Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua nikmat yang kebanyakan orang melalaikannya: Nikmat sehat dan waktu luang.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Termasuk kebagusan agama seseorang yaitu dia meninggalkan segala yang tidak bermanfaat.”

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

 “Dan bersegeralah kalian menuju pengampunan Robb kalian dan menuju surga yang luasnya (seluas) langit dan bumi yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133)

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ

 “Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ di dalam sholat mereka. Dan orang yang berpaling dari segala yang melalaikan.” (Al-Mu`minun: 1-3)

وَالْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 “Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 “Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim.”

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

 Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Dan barangsiapa mengambil warisan tersebut berarti dia telah mengambil bagiannya yang terbanyak.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

 “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Alloh akan mudahkan jalannya menuju surga.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

 “Barangsiapa yang Alloh inginkan untuk mendapatkan kebaikan, Alloh faqihkan di dalam Agama.

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

 “Alloh telah mempersaksikan tentang kalimat La ilaha illalloh dan berikut para Malaikat (ikut mempersaksikan) dan orang-orang yang berilmu, (bersaksi) dengan penuh keadilan dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Mulia dan Bijaksana.” (Al-Baqarah: 18)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

 “Maka berilmulah tentang bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Alloh dan mintalah ampun (kepada-Nya ) dari dosamu.” (Muhammad: 19)

Namun…….setelah dirinya tertarik dengan Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini, Energy Gaya Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini menggetarkan kesadaran dirinya akan “KESADARAN DZATULLOH” itu sehingga membuat dirinya tak sadar lagi akan INTI HAKIKAT ASAL KEJADIAN DIRI. Lalu Sirnalah Diri kedalam liputanNya,

Walaupun kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya telah menjadi Hijab/dinding yg menutupi Cahaya Haq’ itu namun……..ada yg tidak bisa di tutupi oleh kedirian/ego/hawa nafsu itu yaitu “FITRAH/SUCI”nya…sebagai penghubung antara dirinya dengan Tuhannya. dan “FITRAH/SUCI” itu adalah “KEKUATAN yg SANGAT LEMBUT LAGI HALUS” yg meliputi si “HAYAT/URIP/HIDUP”, saya menyebutnya dengan Istilah….”SIRR BATHIN”. Tanpa tersadari oleh Manusianya itu sendiri sesungguhnya “FITRAH/SUCI” nya selalu “memangil2″ dirinya untuk kembali kepada ASAL dirinya masuk melalui pintu “KESADARAN DZATULLOH”,

Namun Ingat…….9 Hawa yg masuk pada dirinya melalui 9 GOA yg terbuka lebar telah membuat dirinya tak menghiraukan “Kata2 FITRAH/SUCI pada HAYAT/URIP/HIDUP”nya. 9 Hawa itu adalah : 

1. Takabbur

2. Sombong

3. Tamak

4. Serakah

5. Iri

6. Dengki

7. Hasut

8. Benci

9. Dendam

 Karenanya ada istilah : “BABAGAN HAWOSONGO” yg bertujuan menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa itu lenyap dan tergantikan secara otomatis (TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI yaitu :

 1. Laa Qodirun Illalloh (Tiada yg MAHA Kuasa selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 2. Laa Muridun Illalloh (Tiada yg MAHA Berkehendak selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 3. Laa ‘Alimun Illalloh (Tiada yg MAHA Mengetahui selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 4. Laa Hayyun Illalloh (Tiada yg MAHA Hidup selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA) 

 5. Laa Sami’un Illalloh (Tiada yg MAHA Mendengar selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 6. Laa Bashirun Illalloh (Tiada yg MAHA Melihat selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 7. Laa Mutakallimun Illalloh (Tiada yg MAHA Berkata2 selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 8. Laa Fa’ilun Illalloh (Tiada yg MAHA Berlaku dalam Gerak dan DIAM selain ALLOH meliputi dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 9. Laa Maujudun Illalloh (Tiada yg MAHA ADA di Awal tiada berpermulaan sekaligus di Akhir tiada berkesudahan dan tiada yg MAHA ADA pada Dzohir dan Bathin selain ALLOH meliputi Dzat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

 Maka….Demi Waktu/Masa dalam 24 jam sehari semalam dari buka mata sampai tutup mata kembali, sungguh Manusia itu dalam kerugian yg Nyata karena…..seiring dengan waktu Dunia

“KESADARAN DZATULLOH” itu semakin terhijab/terdinding oleh kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya melalui 9 GOA pada dirinya yg terbuka lebar. Kecuali………

 Mereka2 yg masuk dalam ke- AMAN-an (IMAN) TAUHID dikarenakan…ia telah menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa lenyap dan tergantikan secara otomatis (TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI, dan kemudian setelah itu “FITRAH/SUCI”nya dalam “KESADARAN DZATULLOH” membawa dirinya untuk berbuat kebaikan yg menjadi Rahmat serta saling berbagi/mengisi dalam kebenaran untuk memberikan pandangan tentang

“KESADARAN DZATULLOH”
Meliputi dan juga saling berbagi/mengisi dalam kesabaran kepada siapa saja, karena ia telah memandang dalam Penyaksiannya akan “GURUmu adalah GURUku dan GURUku adalah GURUmu”( kita sama2 Belajar kepada GURU yg SATU yg tidak makan juga tidak minum, Tidak Tidur tidak pula mengantuk).

Salam…..Ta’lim Wa Ta’dzhim untuk seluruh Saudara-saudaraku semuanya dimana saja berada.


THORIQOH ADALAH JALAN MENUJU TAUHID



Selera dan gaya hidup seringkali tak berbanding lurus dengan penghasilan yang diperoleh. Banyak orang yang kemudian mengorbankan banyak hal demi berburu kesenangan sesaat.

 Banyak orang beranggapan, hidup memang untuk dinikmati. Tak heran jika kemudian mereka berprinsip “yang penting senang” dan bagaimana menciptakan kehidupan yang “serba ada”. Tak peduli bagaimana caranya.

Harga diri pun siap digadaikan demi memenuhi selera dan tuntutan gaya hidup yang dianutnya. Sehingga karena ingin hidup senang, akhirnya terlena untuk menimbang akibat buruk yang bakal timbul di kemudian hari. Melupakan urusan diri sendiri padahal diri ini dituntut memiliki kesiapan bila pada saatnya harus kembali kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

TAUHID HAQ, adalah pengetahuan hakiki tentang AL-ILAH. Dan pemahaman itu Hanya terdapat pada para sufi yang Telah Terpilih (warid) Ketika ia ditanya bagaimana ia mencapai ma’rifat tentang Tuhan, ia menjawab :

“Aku mengetahui Al-Ilah dengan Al-Ilah dan Jika tidak Dengan Ilah aku tidak akan mengerti hakikat Alloh swt ”

ungkapan tersebut menunjukan bahwa ma’rifat tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui pemberian Alloh.

Ma’rifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung kepada kehendak dan rohmat Ilah. Ma’rifat (mengatahui / mengerti) adalah pemberian Alloh kepada sufi yang sanggup menerimaNya. Pemberian tersebut dicapai setelah seorang sufi lebih dahulu menunjukan kerajinan, kepatuhan dan ketaatan mengabdikan diri sebagai hamba Alloh dalam beramal secara lahiriyah sebagai pengabdian yang dikerjakan tubuh untuk berUBUDIYAH .Ma’rifat juga dimaksudkan dengan komunikasi cahaya dari Ilahi ke dalam hati nurani seseorang.

Orang- orang yang sudah mencapai ma’rifat tidak lagi berada dalam diri mereka, tetapi mereka berada dalam dzat Ilah. Mereka dapat melihat tanpa pengetahuan, tanpa mata, tanpa penerangan,

Pada dasarnya Haqiqot ini kembali kepada dirinya masing2 dalam memelihara dan menjaga hatinya , agar senantiasa dekat dgn-nya.
Ilmu mencapai Haqiqot ini merupakan perjalanan ruhani setiap SALIK menuju kpd-Nya , yang kadang tidak semua orang Faham tentang teori ajaran TAUHID HAQ ini , Misalnya apa yg di Ungkapkan oleh Oleh

Syeikh hasan al-bashori dengan teori Asyq

Saiyidah Robi'ah dengan teori Makhabbah Ma'suq ,

Syeikh abu yazid dengan teori Ittikhad ,

Syeikh Abdul jabbar annifari dengan teori Asyq - Ma'syuq ,

Syeikh Ibnu Arobi tentang Wihdatul Wujud,

Syeikh Muhammad Al-Mantsur bin Husein Al-Halajj dgn teori HULUL atau yang lebih di kenal dengan ungkapan Annal'Haq nya.
dan banyak lagi para tokoh sufi seperti Syeikh abul qosim juanidi ,syeikh abu mudloffar, syeikh diwan ,syeikh madzfur,syeikh abdul kari aljillii dengan insan kamilnya syeikh Ibnu Athoillah dalam Hikamnya syeikh abul qosim qusairy syeikh fatkhul asror syeikh muhammad yahya al-anshori (wali ruslan al-damasqusi) syeikh imam robbani , syeikh hamzal alfansuri dengan kitab wihdah martabah al-sab'ah lalu di teruskan oleh,syeikh syamsuddin assumathroni syeikh aryo damar al-palimbangi di teruskan syeikh abdul jalil al-jawi dan wali di lanjutkan oleh syeikh abdurrouf assinkili ... dan sampai saat ini ... ,,,,,

apakah kita akan menjadi SEORANG MUSLIM YANG MALAS UNTUK BELAJAR PADAHAL SERUAN MENGKAJI TAUHID SEBAGAI AWAL SEORANG MUSLIM YANG TELAH DI TETAPKAN OLEH ROSULULLOH ,,, ??? 

JAWABANNYA ADA PADA KALIAN SENDIRI APAKAH ISLAM ITU HANYA SEBUAH AGAMA KETURUNAN / HANYA CUKUP DENGAN 2 KALIMAT SYAHADAT SEMATA ...=> AWWALUDDIN MA'RIFATULLOH ... (AWALNYA DI SEBUT MEMPUNYAI AGAMA ADALAH MENGERTI HAKIKATNYA ALLOH) ,,,

JANGAN CUMA MENGENAL NAMA DAN KEKUASAANNYA SEMATA SUDAH MENGAKU ISLAM ,,, DAN BERDAKWAH SEOLAH'' SUDAH PALING 'ALIM DAN '' )==> WALAA DIINAN LIMAN LAA IIMANA LAHU (DAN TIDAK DI KATAKAN MEMPUNYAI AGAMA JIKA SESEORANG ITU TIDAK PERCAYA PADA AGAMANYA )=> WALAA IIMAAN LIMAN LAA MA'RIFATA LAHU TA'ALA (dan tidak di sebut beriman (percaya) bagi orang yang belum mengerti hakikat Al-ilahnya) => MAN LAM YADZUQ LAM YA'RIF )=> ,( Barang siapa belum merasakan maka belumlah dikatakan mengetahui) ...

Ruh setiap Manusia sebelum dihadirkan di Dunia, semuanya dalam keadaan Suci dan dalam keadaan terpelihara serta tahu akan Robbnya namun ia belumlah mengenal akan Sejati dirinya. Dengan kemurahan kasih sayang Alloh Swt melalui ‘pandangan’ rahmat Nurun ‘alaa nuurin maka dihadirkan ia (Ruh) ke Alam Dunia agar sempurna dalam kesempurnaanNYA dengan mengenal serta mengerti akan SEJATI DIRINYA. Terlahirnya Manusia di Alam Dunia, “DIA” tanamkan di dalam Bathinnya “Mutiara TAUHID”

Setiap Insan siapapun dirinya apapun Statusnya dan apapun Agamanya, Alirannya, Golongannya, Madzhabnya telah terpanggil dan Terhayati akan “KESADARAN DZAATULLOOH (hidup)” dalam Pandangan-NYA sejak dirinya masih berada di Alam AZALI, dan di NYATA-kan HAL itu pada saat IQRAR “Alastu bi Robbikum….???, Qoluu Ba Laa…Syahidna..!!”

(Apakah engkau membenarkan bahwa “AKU” lah Penguasa serta yg Mengatur setiap Urusan yg berlaku dalam “HAYAT/URIP/HIDUP…???, Ya…..BENAR…!!! Kami sebagai Saksi yg menyaksikan..!!!”

Dalam penantian Sang Hamba menuju kesempurnaan maka akan di mulai dengan Ilmu. Dalam Ilmu (pengetahuan) tidak akan memberikan Manfa’at (sia-sia) jika tanpa di dasari Kesadaran dalam Niat yang tulus.

“Sesungguhnya Manusia itu Mati kecuali mereka2 yang berpengetahuan, dan mereka2 yang berpengetahuan banyak yang tertidur kecuali mereka2 yang mengamalkan, dan mereka2 yang mengamalkan banyak yang tertipu kecuali mereka2 yang Tulus Ikhlas.

Ketika Lautan Hikmah dari segala Ilmu terselami maka terlihat lah……Mutiara2 Indah yang sangat berkilauan, dan banyak di antara para Salik yang mengambil Mutiara2 itu, karena saking Takjub dan terpananya melihat keindahan Mutiara TAUHID KHAQ ...

ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن :

“PANGGILLAH (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”


وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

 “Dan aku tidak bisa melepaskan diriku. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan untuk berbuat jahat kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Robbku. Sesungguhnya Robbku Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

 “Apa yang menimpamu berupa kebaikan maka datangnya dari Alloh dan apa yang menimpamu berupa kejahatan datangnya dari dirimu sendiri.” (An-Nisaa: 79)

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

 “Dan barangsiapa melakukannya maka sungguh dia telah mendzolimi dirinya sendiri.”(Al-Baqarah: 231)

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ

 “Sungguh telah datang kepada kalian hujjah dari Robb kalian. Maka barang siapa melihatnya untuk dirinya sendiri dan barangsiapa buta darinya atasnya dan aku bukan sebagai penolong atas kalian.” (Al-An’am: 104)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيْلٍ

 “Katakan wahai sekalian manusia, telah datang kepada kalian kebenaran dari Robb kalian. Maka barangsiapa mendapatkan petunjuk untuk dirinya dan barangsiapa yang sesat, maka dia tersesat atas dirinya sendiri dan Aku bukanlah pembela atas kalian.” (Yunus: 108)

Semua ayat di atas mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperhatikan urusan diri kita sendiri, di mana jika berhasil maka keberhasilan untuk diri kita sendiri dan jika merugi itu merupakan hasil usaha kita, tidak boleh kita mengkambinghitamkan orang lain.

 Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

 “Barangsiapa menemukan kebaikan maka hendaklah dia memuji Alloh dan barangsiapa mendapatkan selainnya janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”

BAROKALLOH FIKUM ...

PENGERTIAN TENTANG THORIQOH DAN SIAPA SAJA YANG SEHARUSNYA MELAKSANAKAN-NYA




ان الطريقة عندهم هي الأخذ بالاحواط في سائر الاعمال ولا يأخذ بالرخص والطريقة ايضا اعتماد السالك علي حالة شاقة كرياضة اي تذليل النفس من قلة اكل وشرب ومن تباعد عن فضول المباحات 

"Thoriqoh adalah melakukan / mengamalkan sesuatu dengan cara lebih berhati'' dalam mengamalkan seluruhamalan,dan tidak melakukan hal-hal yang mendapatkan kemurahan (ruhsoh/keringanan) .Thoriqoh juga berpegang teguh pada pengamalan secara istiqomah pada hal-hal yang berat seperti riyadloh,yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan sedikit makan dan minum dan menjauhi hal-hal yang di lakukan (mubakhaat)" 

dalam keterangan lain di jelaskan 


 الطريقة هي العمل بالشريعة والاخذ بعزائمها والبعد عن التساهل  فيما ينبغي التساهل فيه وان شئت قلت اجتناب المنهيات ظاهرا او باطنا وامتثال الامر الالهية بقدر الطاقة اوهي اجتناب المحرمات والمكروهات وفضول المباحات واداء الفرائض ومااستطاع من النوافل تحت الرعاية عارف من اهل النهاية 

" Thoriqoh adalah mengamalkan syari'at islam dengan cara beersungguh'',menjauhi anggapan-anggapan ringan dari suatu yang tidak ada keringanan apapun,dan kalau kita mau mengatakan,menjauhi semua larangan, Baik secara nyata atau sembunyi (samar). melaksanakan semua perintah alloh menurut kadar kemampuannya,atau Thoriqoh adalah menjauhi semua yang di haramkan.semua larangan dan mengutamakan hal-hal yang boleh oleh syara'.melaksanakan semua perkara yang wajib,dan yang mampu dari perkara sunnah,semua di lakukan atas petunjuk dan bimbingan orang yang 'arif (ma'rifat / yang telah mengetahui hakikat keIlahiyahan yang haq serta kamil mukammil) dari orang-orang yang telah mencapai puncak pencapaian (warid)" 

Thoriqoh ( Tarekat ) menurut lughot mempuyai arti jalan dan penambahan huruf Ta’ marbutoh (Ilahiyah) berfaedah menunjukkan kehususan pada tujuan ubudiyah kepada alloh.
Sedangkan makna thoriqoh menurut istilah Tashawwuf adalah Thoriqoh bisa diartikan jalan yang ditempuh seorang hamba ( al-‘abdu / al-saalik ) menuju Ridlo Alloh SWT. Ada pula yang mempersempit pengertian Thoriqoh dengan mendefinisikannya sebagai jalan menuju Ma’rifat billah.

 Melihat definisi diatas, maka jelas sekali bahwa pengertian Thoriqoh sangat luas. Thoriqoh tidak hanya dengan berdzikir saja, atau dengan berbagai bentuk wiridan saja, namun bisa juga dengan berbagai bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Alloh SWT. sang pencipta alam semesta. Bisa berupa wirid, dzikir, puasa, ta’lim ( mengajar ), ta’allum ( belajar ) dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya ( lihat risalah al-thoriq fillah ) karya syeikh abu mudhoffar Ra.

Ada juga yang berpendapat bahwasanya : Thoriqoh menurut pandangan berbagai Ulama’ adalah jalan atau bisa disebut Madzhab mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui "cara" melintasi jalan itu agar tidak kesasar/tersesat.

Tujuan Thoriqoh adalah mencari kebenaran ‘indalloh swt , maka cara melintasinya jalan itu juga harus dengan cara yang benar. 

Untuk itu harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, maka perlu latihan-latihan batin tertentu dengan cara-cara yang tertentu pula.
Dan di jelaskan dalam al-qur’an :

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Artinya :
"Jika mereka benar-benar istiqomah - (tetap pendirian/terus-menerus diatas Thoriqoh (jalan) itu, sesungguhnya akan Kami beri minum mereka dengan air (hikmah) yang berlimpah-limpah.
(Q.S. Al-Jin : 16)



Dalam pertumbuhan thoriqoh para Ulama Thoriqoh berpendapat dari jumlah Thoriqoh yang tersebar di dunia Islam, khususnya di Indonesia, ada Thoriqoh yang Mu'tabaroh (diakui) dan ada pula Thoriqoh Ghairu Mu'tabaroh (tidak diakui keberadaannya/ keshohehannya / silsilah sanadnya).
Seseorang yang menganut/mengikuti Thoriqoh tertentu dinamai saalik (orang yang berjalan) sedang cara yang mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan suluk. Banyak hal-hal yang hams dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada tujuan yang dimaksud.

Thoriqoh ini merupakan salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang di jadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai sekarang ini untuk mengkaji ahlak al-karimah dalam berubudiyah ....

Dalam menempuh jalan (thoriqoh) bertujuan untuk mengenal rahasia (sirri) dan mengerti akan haqiqat  dinding (hijab) pada DIRI maka mereka mengadakan pengajian, kegiatan batin muamalah ilmu & matla’ah ilmu , riyadoh (latihan-latihan) dan mujahadah (perjuangan) keruhaniyan. Perjuangan yang demikian dinamakan suluk, dan orang yang mengerjakan dinamakan "salik"

Maka cukup jelaslah bahwa Thoriqoh itu suatu sistem atau metode awal untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan menemukan keyaqinan (haq-al-yaqin) tentang  adanya alloh swt . Dimana seseorang dapat melihat alloh  dengan mata hatinya (ainul bashiroh) sesuai dengan hadist sebagai berikut :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasululloh saw. muncul di antara kaum muslimin.
Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai oasululloh, apakah Iman itu? Rosululloh saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, 
pertemuan dengan-Nya, rosul-rosul-Nya dan kepada hari berbangkit. 
Orang itu bertanya lagi: Wahai Rosululloh, apakah Islam itu? 

Rasululloh saw. menjawab: 
Islam adalah engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan sholat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Romadhon. 
Orang itu kembali bertanya: Wahai Rosululloh, apakah Ihsan itu  ???

Rosululloh saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: 

Wahai Rosululloh, kapankah hari kiamat itu ? 

Rosululloh saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya: Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. 

Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung.
Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Alloh.
Kemudian Rosululloh saw bersabda dengan firman Alloh Taala: 

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat: dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati.Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Lukman ayat 34)

Kemudian orang itu berlalu, maka Rosululloh saw. bersabda: Panggillah ia kembali ... Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rosululloh saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka
(HR Bukhari dan Muslim)

Hadist tersebut jelas merupakan tujuan bagi semua orang yang mengaku dan menyatakan muslim, tidak hanya sekedar iman dan islam tetapi juga dituntut untuk menjadi jati diri yang “IHSAN” dan ath-Thariqoh adalah merupakan jalan yang untuk menggapai derajat ihsan dengan baik sesuai tuntunan Alloh dan Rasul-Nya yang di ikat dengan tal-qin Hal yang demikian didasarkan pertanyaan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra kepada Rosululloh SAW. Ya Rosululloh, manakah jalan yang paling dekat untuk menuju Tuhan. 

Jawab Rosululloh : Tidak ada lain, kecuali dengan dzikrulloh.

Dalam hal ini pun Alloh SWT juga menegaskan dalam Firman-Nya di dalam Al-Qur’an Kariim :


 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.
(QS Ar-Ra’d ayat 28)

 Perlu diketahui oleh semua para pencari jalan suluk (thoriqoh), mubaya’ah (baiat) dalam arti talqin dzikir dari seorang guru mursyid kepada muridnya bukan mubaya’ah (janji setia) seperti yang dilakukan oleh Rosululloh kepada shahabat-shahabatnya.

Dalam Bai‘at ar-Ridhwan, atau baiatnya seorang rakyat kepada imam atau kepala Negara terpilih seperti baiatnya para shahabat yang mengangkat Sayyidina Abu Bakar menjadi kholifah Rosululloh. Sebab, mubaya’ah dalam thoriqot shufi adalah bentuk talqin dzikir seperti yang dilakukan Rosululloh yang mentalqin dzikir para shahabatnya. 

Adapun mubaya’ah para shahabat yang baru saja disinggung di atas adalah mubaya’ah janji setia menjalankan Islam atau janji setia dan tunduk patuh kepada imam terpilih.

 Sanad hadits tentang bai’at thoriqot adalah hadits riwayat dari Hasan al-Bashri yang berbai'at dzikir dari Sayyidina Ali dari Rosulalloh (dalam ilmu tasawuf disebut talqin dzikir) dan sanad hadits tentang lubsul khirqoh (berperilaku sebagai shufi yang bersimbol dengan pakaian sederhana) juga diriwayatkan dari Hasan al-Bashri dari Ali, 

 Sanad talqin dzikir dari Hasan al-Bashri tersebut adalah talqin dzikir oleh Rosululloh kepada Sayyidina Ali secara sendirian  Sedangkan sanad talqin dzikir secara bersama-sama adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabaroni dan lain-lain dengan sanad hasan. Lihat Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hlm. 11. Hadits talqin tersebut sebagaimana dikatakan syeikh asy-Sya'roni adalah diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf al-Ajami, seorang syaikh thoriqot, dalam salah satu risalahnya yang disebutkan dengan sanad yang muttasil sampai Sayyidina Ali. 

 Namun, sebenarnya hadits tentang dua masalah tersebut, sebagaimana disebutkan oleh syeich Ibnu Hajar al-‘Asqolani dan muridnya, syeich as-Suyuthi adalah hadits yang shohih (muttasil) dan perawinya tsiqah-tsiqah. Artinya juga bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dan itu adalah pendapat yang shohih. (Lihat hujjah-hujjah as-Suyuthi dalam membela pendapat bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dalam al-Hawi lil Fatawi 2/96-98.dan Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hal 12 dan 24.

MARI MENGAJI & MENGKAJI SELALU SEMOGA SELALU DALAM LINDUNGAN HIDAYAHNYA SELALU ...











Share It

Follow by Email

PENCARIAN HIDUP MENUJU KEKASIH SEJATI

JANGAN SUKA MENGANGGAP SESUATU YG TIDAK COCOK ITU ADALAH SESAT NAMUN SIKAPILAH SAMPAI KAU BENAR'' MEMAHAMINYA ...

KARENA JIKA KAU MENILAI CIPTAANNYA MAKA NISTALAH DIRIMU ... KARENA ALLOH MAHA MENILAI PADA APA'' YANG KAU SANGKAKAN











AlkisAnnabila